SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Kupi Beungoh

Hoax dan Cara Kotor Berdakwah

Sering sekali hoax itu berisi hal-hal yang baik, seperti nasehat dan hikmah dari suatu peristiwa, peringatan, ajakan dan lain sebagainya.

Hoax dan Cara Kotor Berdakwah
IST
Dhiya Urahman 

Oleh : Dhiya Urahman

Era media sosial yang kita alami saat ini, menghadirkan tantangan tersendiri bagi dunia dakwah.

Dalam beberapa kasus, ada pemuda muslim melestarikan kegiatan penyebaran hoax dilakukan demi menyokong (apa yang mereka sebut) dakwah.

Contohnya sering kita mendapatkan kiriman berita si artis atau ilmuwan ‘anu’ masuk Islam, padahal faktanya tidak demikian.

Saat kasus kekerasan hingga pembantaian etnis Rohingya oleh militer Myanmar marak terjadi pada bulan Agustus-September 2017, beredar foto para biksu Budha Tibet yang membantu pengumpulan mayat korban bencana alam di Cina, diputarbalikkan beritanya sebagai foto pembantaian etnis muslim Rohingnya.

Itulah contoh-contoh berdakwah dengan cara kotor.

Mungkin maksudnya baik untuk menambah semangat ke-Islaman atau menumbuhkan perhatian umat Islam pada saudara muslim di Rohingnya.

Namun dakwah dengan penyebaran hoax ini tentu merupakan cara kotor untuk mengajak orang dalam kebaikan.

Pergeseran teknologi yang tradisional keteknologi digital juga membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi.

Jika sebelumnya khalayak media massa dikendalikan oleh informasi dari lembaga media massa, ketika perubahan teknologi itu terjadi ke arah digitalisasi, maka terjadi pula perubahan pada pola distribusi konten media yang kini dapat berpindah ke posisi khalayak.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help