Sepanjang 2017, 20 Jurnalis Terbunuh dalam Sejumlah Aksi Kekerasan ISIS di Afghanistan

2017 merupakan tahun paling mematikan bagi jurnalis dan media dalam sejarah Afghanistan.

Sepanjang 2017, 20 Jurnalis Terbunuh dalam Sejumlah Aksi Kekerasan ISIS di Afghanistan
Seorang pria Afghanistan melarikan diri setelah ledakan ketiga di sebuah pusat kebudayaan Syiah di Kabul, Afganistan, Kamis (29/12/2017). (AFP/Shah Marai)(Shah Marai) 

SERAMBINEWS.COM, KABUL - Sebanyak 20 jurnalis dan pekerja media terbunuh dalam sejumlah aksi kekerasan di Afghanistan sepanjang 2017.

Laporan dari Komite Keselamatan Jurnalis Afghanistan (AJSC), pada Jumat (12/1/2018) menyatakan 2017 merupakan tahun paling mematikan bagi jurnalis dan media dalam sejarah Afghanistan.

Angka tersebut meningkat 67 persen dibandingkan dengan 2016.

AJSC mencatat ada 169 insiden kekerasan dan intimidasi, termasuk pembunuhan, melukai, memukul, penahanan, ancaman, dan kekerasan verbal terhadap wartawan dan pekerja media.

(Baca: Tentara Israel Tembak dan Bunuh Dua Remaja Palestina, Tiga Orang Lainnya Luka dan Kritis)

(Baca: Fredrich Yunadi Tak Penuhi Panggilan, KPK Pertimbangkan Langkah Hukum Lanjutan)

Kelompok yang berperang di Afghanistan, Taliban dan cabang Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS), menjadi pelaku utama dalam insiden pembunuhan terhadap jurnalis dan pekerja media.

"Ada 20 jurnalis yang terbunuh, semuanya dilakukan oleh Taliban dan cabang ISIS di Afghanistan," tulis AJSC dalam sebuah pernyataan.

(Baca: Soal Mahar Politik Rp 40 Miliar, Bawaslu Jatim Akan Minta Klarifikasi La Nyalla dan Prabowo Subianto)

Kepala AJSC Najib Sharifi mengatakan peningkatan jumlah kekerasan terhadap wartawan dan pekerja media di Afghanistan menjadi perhatian khusus di kalangan masyarakat luas.

Komite pendukung media meminta semua kelompok yang berperang termasuk Taliban dan ISIS untuk menahan diri tidak menyerang wartawan dan pekerja media.

Pada 2016, sedikitnya 13 wartawan dilaporkan tewas di negara yang sedang dilanda perang tersebut. (Xinhuanet.com,Business Standard)

Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help