Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Remaja dan Muslihat Hari Valentine

MENJELANG pertengahan Februari ini, tiba-tiba saja berbagai macam produk coklat dengan berbagai merek dan bentuk

Tayang:
Editor: bakri
SERAMBINEWSTV.COM/HARI MAHARDHIKA
Video Siswa Tolak Valentine 

Oleh Putri Maulina

MENJELANG pertengahan Februari ini, tiba-tiba saja berbagai macam produk coklat dengan berbagai merek dan bentuk yang unik terpampang manis di etalase toko atau swalayan. Nuansa warna pink dan simbol-simbol berbentuk hati ditemukan hampir di setiap sudut swalayan, mall atau pusat perbelanjaan, restauran, hotel, salon, tempat-tempat hiburan dan wisata. Sebagiannya justru menawarkan paket-paket promo serba menggiurkan yang diberikan kepada para remaja dan pasangan. Ini untuk apa? Tidak lain adalah untuk merayakan satu hari yang dikatakan sebagai Hari Valentin atau “Hari Kasih Sayang”.

Bukan hal aneh lagi jika setiap tahunnya pada 14 Februari kita menemukan fenomena seperti ini. Apakah tanggal tersebut merupakan “tanggal merah” untuk hari perayaan secara Nasional? Bukan, 14 Februari ini adalah hari yang dikenal sebagai Hari Valentine seperti disinggung di atas, sebenarnya tidak secara resmi harus dirayakan oleh masyarakat luas layaknya hari-hari perayaan lainnya. Lantas mengapa setiap tahunnya hari ini mendapatkan perhatian masyarakat luas layaknya hari perayaan besar dan penting, terutama dari kalangan remaja atau pasangan muda? Mungkin inilah yang dikatakan sebagai suatu “kepopuleran budaya”, yang kemudian melebur dalam pola pikir dan tingkah laku masyarakatnya. Mengaburkan batas-batas pemaknaan terhadap arti dari konsep “kasih sayang”.

Jika menelusuri sejarah dari Hari Valentine, sebenarnya dasar dari perayaan Hari Valentine ini tidak memiliki dasar yang jelas. Salah satunya dilatarbelakangi oleh kisah seorang pemuka agama Katolik bernama St.Valentine yang dieksekusi mati pada 14 Februari oleh Kaisar Claudius yang kejam, karena memperjuangkan para pasangan yang ingin menikah. Sehingga kemudian perjuangan dan pengorbanan St.Valentine ini setelah kematiannya dikenang dan dihormati oleh masyarakat luas, dengan mengabadikan hari kematiannya sebagai “Hari Kasih Sayang”.

Produk budaya
Saat ini, Hari Valentine selalu diperingati setiap tahun pada 14 Februari. Perayaan Hari Valentine yang menarik perhatian kalangan remaja menjadi suatu budaya massa (mass culture). Mengapa Hari Valentine ini bisa membudaya di kalangan remaja?

Perayaan Valentine sebagai budaya massa ini tentu tidak terbentuk begitu saja. Menurut MacDonald (1957) budaya massa seperti perayaan Valentine ini datang dari “atas”, diproduksi oleh sekelompok penguasa kapitalis atau pebisnis untuk khalayaknya yang dianggap pasif. Para pebisnis ini menciptakan suatu pembatasan sikap pada khalayak jenis ini terbatas pada pilihan antara “membeli” dan “tidak membeli”.

Theodor Adorno dan Max Horkhaimer, dalam tulisannya berjudul The Cultural Industry (1944) menjelaskan bahwa produksi budaya ditandai oleh beberapa karakteristik, yaitu standarisasi, massifikasi dan komodifikasi. Dengan menggunakan konsep industri budaya, Adorno sebenarnya ingin menekankan bahwa budaya yang diproduksi secara terpadu dan standard bukanlah berasal dari eskpresi kultural masyarakat kebanyakan, tetapi produk dari industri semata. Begitu pun dengan tradisi perayaan Hari Valentine, merupakan produk dari industrialisasi budaya belaka. Tradisi itu dibentuk, diciptakan, atas dasar kepentingan penguasa yang berkepentingan di belakangnya, yaitu pihak pebisnis kapitalis.

Tradisi Hari Valentine ini merupakan produk budaya semata, sebagai komoditas yang digunakan oleh pihak pebisnis kapitalis untuk kepentingan ekonomi perusahaan. Dengan berkedok “Hari Kasih Sayang”, mereka menciptakan simbol-simbol dan makna kasih sayang melalui produk-produk tertentu supaya masyarakat dan remaja menjadi terlena dengan simbol-simbol yang diciptakan tersebut.

Remaja dipaksakan untuk terpikat pada makna kasih sayang yang ditawarkan pada iklan-iklan produk agar membeli produk-produk yang dilabeli dengan simbol-simbol kasih sayang bentukan pihak kapitalis tersebut. Dalam hal ini, media massa menjadi alat yang digunakan pihak kapitalis untuk “memperkuat” penanaman makna simbol-simbol kasih sayang di dalam pikiran masyarakat luas. Maka jangan heran jika menjelang “Hari Valentine” ini tiba, kita banyak menemukan iklan-iklan produk berlabelkan kasih sayang di media, atau program televisi yang menampilkan acara bertemakan kasih sayang.

Simbol-simbol kasih sayang seperti warna pink, lambang hati, bunga mawar, dan sebagainya diciptakan seakan-akan menjadi simbol wajib yang harus diperjuangkan untuk dapat menebarkan kasih sayang. Permainan simbol-simbol kasih sayang ini diciptakan sedemikian rupa, sehingga merampas subjektivitas remaja sebagai individu dan konsumen aktif.

Remaja sebagai konsumen tidak lagi memperhatikan komoditas dari sisi kualitas, nilai guna dan mutu dari produk yang dibelinya, melainkan lebih kepada iklan yang impresif dan menyentuh. Dengan kata lain, remaja sebenarnya tidak membeli produk, tetapi membeli citra atas produk yang diiklankan demi mewujudkan nilai-nilai cinta dan kasih sayang.

Nilai kasih sayang menurut Islam
Padahal seperti diketahui bahwa di dalam Islam, nilai-nilai kasih sayang pada dasarnya bukan hanya ada dalam tataran simbol, tapi dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk sikap yang nyata. Mengekspresikan kasih sayang terhadap pasangan atau sesama itu baik, akan tetapi harus didasari pada nilai-nilai moral dan agama. Jika pada pasangan, ekspresikan kasih sayang yang dilandaskan pada aturan-aturan agama, sehingga tidak ada bentuk penyimpangan.

Jadi, bukan karena terpengaruh pada simbol-simbol dan ikut-ikutan trend tradisi yang tidak jelas asal-usulnya. Sehingga pada akhirnya hanya akan menjebak diri sendiri. Begitu pula pada sesama, berkasih sayang itu pun penting dilakukan, sebagaimana firman Allah Swt, “Maka disebabkan oleh rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159).

* Putri Maulina, S.I.Kom, M.I.Kom., Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Teuku Umar (UTU), dan Pengurus FAMe Chapter Meulaboh. Email: putrimaulina.lecturer@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved