Salam

Pariwisata Aceh Bisa Lebih Hebat dari NTB

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, antara lain, memberitakan pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Barat

Pariwisata Aceh Bisa Lebih Hebat dari NTB
SERAMBI/HARI MAHARDHIKA
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr TGH Muhammad Zainul Majdi menyampaikan kuliah umum dengan tema "Kepemimpinan Ulama" di kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Jumat (2/3). SERAMBI/HARI MAHARDHIKA 

Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, antara lain, memberitakan pernyataan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr Muhammad Zainul Majdi Lc MA yang lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru Bajang (TGB). Menurutnya, wisata Aceh bisa seperti (baca: semaju) NTB.

Saat bersilaturahmi ke Harian Serambi Indonesia, Sabtu (3/3) pagi, TGB yang sudah dua hari berada di Aceh menilai, Aceh memiliki potensi alam yang luar biasa, sama seperti provinsi yang ia pimpin. Selain memiliki keindahan alam, Aceh juga kuat penghayatan keislamannya.

Nah, menurut TGB, kombinasi dari kedua hal ini bisa dijadikan potensi untuk mengembangkan sektor wisata yang khas, yakni menjadi destinasi wisata halal internasional, seperti halnya NTB. Konsep yang dicipta dalam mengembangkan pariwisata di NTB adalah moslem tourism. Konsep ini ternyata sangat membuka peluang ekonomi baru bagi daerah.

TGB tentu tak berlebihan ketika mengatakan pariwisata Aceh bisa semaju NTB, karena Aceh memang punya hampir semua yang dimiliki NTB, kecuali mutiara sebagai oleh-oleh khas Lombok.

Di luar itu, Aceh boleh dibilang lebih unggul. Pantai-pantai nan indah di Aceh sangatlah banyak, bahkan lebih asri dan eksotik dibanding Pantai Senggigi, tempat pariwisata paling terkenal di Lombok, NTB. Pemandangan bawah lautnya yang indah dan turis bisa melakukan selam permukaan (snorkeling) sepuasnya di Senggigi karena ombaknya tak terlalu besar, toh juga sama dengan kondisi pantai Sabang, Pulo Aceh (Aceh Besar), atau bahkan Pulau Banyak di Singkil.

Selain Senggigi, NTB memang sedang gencar-gencarnya mengembangkan wisata baharinya di tiga gili (pulau kecil) yang kebetulan tak terlalu jauh dari Bali. Masing-masing Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Nah, keunggulan potensi bahari ketiga pulau cilik ini pun sebetulnya dimiliki oleh gugus Pulo Aceh, Sabang dengan Pulau Klah dan Rubiahnya, Aceh Jaya dengan sejumlah gugus pulaunya, atau bahkan 99 pulau eksotik di Kepulauan Banyak.

Tinggal lagi, jika memang Aceh ingin merujuk pariwisata NTB, maka dari sekian banyak pulau indah di Aceh ini, mana yang akan kita pilih menjadi Gili Trawangan-nya Aceh. Soalnya, Gili Trawangan adalah salah satu kunci rahasia majunya sektor wisata NTB. Di pulau yang tak dibolehkan ada mobil dan sepeda motor (kecuali sado yang dinamakan cimodo) ini, turis bebas berbikini ria. Di warung, toko swalayan, dan hotel-hotelnya pun tersedia berbagai minuman keras.

Ini yang tentunya tak bisa kita tiru untuk diterapkan di Aceh, karena Aceh merupakan daerah bersyariat Islam secara kafah.

Maka, Aceh harus menjual sesuatu yang beda dengan Lombok jika tak ingin ada “kawasan syariat tapi bebas mendedah aurat”, seperti halnya tiga gili di NTB. Wisata bahari yang dikembangkan di Aceh haruslah yang tidak membebaskan maksiat mata dan maksiat lainnya. Termasuk tak menyediakan minuman keras apa pun.

Untuk bisa maju sehebat NTB, Aceh tetap bisa menjual objek-objek wisata religi dan sejarah, termasuk situs dan Museum Tsunami. Selain itu, pesona Sabang dan Pulau Banyak sebagai destinasi wisata bahari tentu saja tak bisa diabaikan. Kedua kawasan ini masih menjadi magnet utama turis mancanegara, terutama dari Eropa dan Asia, berkunjung ke Aceh.

Hanya saja, untuk membuat wisata bahari Aceh lebih mengesankan bagi turis mancanegara, cara NTB mengembangkan Gili Meno patut ditiru. Selain pemandangan pantainya yang menakjubkan, karangnya yang utuh, hutan lindungnya pun terjaga dan disukai pengunjung. Di sini terdapat taman burung berisi burung-burung langka dari Indonesia dan mancanegara. Turis juga bisa memegang atau berinteraksi langsung dengan burung di Bird Park Homestay.

Aceh juga bisa meniru cara NTB mengembangkan Gili Air di pantai barat Lombok. Di sini turis dapat menjelajahi beberapa titik untuk menikmati keanekaragaman hayati laut. Di antaranya ada spot kuda laut, kura-kura, aneka ikan, dan keanekaragaman biota laut lainnya.

Pendeknya, dalam mengembangkan wisata Aceh ke depan, hal yang baik dari NTB kita adopsi dan selebihnya kita kembangkan sendiri potensi wisata Aceh tanpa menggadaikan sakralitas syariat Islam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help