Citizen Reporter

Di Wuhan, Shalat Id Diawali Kungfu

Rata-rata masjid di sini mirip toko yang disambung, jauh beda dengan masjid di Aceh yang penuh dengan ornamen islami

Di Wuhan, Shalat Id Diawali Kungfu
RA KARAMULLAH

OLEH RA KARAMULLAH, Wartawan Serambi Indonesia, melaporkan dari Wuhan, Tiongkok

WUHAN merupakan ibu kota Provinsi Hubei, Tiongkok. Kota ini paling padat penduduknya. Tapi pemeluk Islam di sini masih tergolong minoritas.

Di kota yang luasnya tiga kali Kota Banda Aceh ini hanya terdapat lima masjid. Itu pun tak seluas masjid di kampung-kampung Aceh.

Rata-rata masjid di sini mirip toko yang disambung, jauh beda dengan masjid di Aceh yang penuh dengan ornamen islami, kubah, serta pilar-pilar yang megah.

Menjelang Lebaran Idulfitri 1439 Hijriah yang lalu saya berkunjung ke Wuhan dan ikut menunaikan shalat Idulfitri (shalat Id), berbaur dengan para muslim Tiongkok. Sedianya, 1 Syawal jatuh pada hari Jumat (15/6) dan shalat Id pun seharusnya dilaksanakan pada pagi itu. Namun, untuk wilayah Cina lain lagi kondisinya. Shalat Id baru bisa dilaksanakan pada hari Sabtu (16/6) pagi karena pada hari itulah yang diizinkan oleh Pemerintah Pusat Cina untuk dilaksanakan shalat Id di Wuhan. Terkesan aneh, tapi itulah faktanya. Maklum, muslim tergolong kelompok minoritas di Tiongkok. Kondisi di negara berideologi komunis ini sangat bertolak belakang dengan Indonesia, negeri yang mudah kita temukan masjid. Bahkan mushalla kecil pun tidak didapatkan di Wuhan meskipun di tempat umum seperti taman.

Masjid yang saya datangi untuk shalat Idul Fitri pada Sabtu (16/6/2018) itu adalah Masjid Jiang ‘An yang berada di Distrik Hankou, Wuhan. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Kota Wuhan. Shalat Id-nya dimulai pukul 09.30 waktu setempat, setelah jamaah berdatangan dari berbagai penjuru Wuhan.

Saya terkejut ketika sampai di masjid ini karena muslim Cina yang shalat Id sangat ramai. Betapa tidak, selama tiga hari saya berada di kota ini tak pernah terlihat warga Tiongkok yang berpakaian islami.

Jamaah shalat Id pagi itu membeludak, mulai dari lantai satu sampai tiga, bahkan meluber hingga ke pekarangan masjid. Di antara mereka ada yang terlihat antre menunggu pembagian makanan gratis, ada pula yang langsung mengisi saf shalat. Yang sangat spesifik adalah sebagian jamaah tak langsung masuk masjid, tapi terlebih dahulu menyaksikan pertunjukan kungfu di halaman masjid.

Dari hasil wawancara saya ternyata pertunjukan kungfu selalu digelar setiap tahun di masjid itu sebelum shalat Id dimulai. Peragaan seni bela diri khas Cina ini disaksikan ratusan orang, baik yang hendak shalat Id maupun yang tidak. Penampilan mereka memukau turis maupun para pelajar dari berbagai negara yang sedang belajar di Wuhan dan pagi itu ramai mendatangi Masjid Jiang ‘An.

Seusai shalat, jamaah saling sapa dan bermaaf-maafan. Kami juga tak lupa foto bersama. Baru saya tersadar, wajah dan warna kulit kami beda sekali antara yang satu dengan yang lain. Tapi di sinilah letak keunikan itu: beda wajah dan warna kulit, tapi dipersatukan oleh iman kepada Allah Swt di Masjid Jiang ‘An.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved