Salam

Hasil PKA Harusnya Lebih Konkret

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII dibuka resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy

Hasil PKA Harusnya Lebih Konkret

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII dibuka resmi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya Banda Aceh tadi malam. Rangkaian acaranya sangat meriah, diramaikan oleh 1.100 penari massal dan dikombinasikan dengan video mapping yang fantastis.

Begitupun, panitia dan rakyat Aceh banyak yang kecewa, karena meski perhelatan ini sudah dipersiapkan sejak tahun 2016, tapi Presiden Jokowi atau pun Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak bisa hadir untuk membuka acara.

Seperti tersiar di berbagai media, Kepala Negara dan wakilnya lebih memilih hadir pada acara senam massal poco-poco di Silang Monas, Jakarta pagi kemarin. Senam massal ini dilaksanakan dalam rangka pemecahan rekor dunia “Guinness World Record” pesenam poco-poco yang mencapai 65.000 orang se-Indonesia. Acara ini dilanjutkan dengan Harmoni Indonesia 2018 yang berisi agenda nyanyi bersama lagu wajib dan lagu-lagu perjuangan yang dilantunkan di Plaza Timur Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.

Kita semua pada akhirnya bisa maklum karena kedua acara itu diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Asian Games ke-18 yang dipusatkan di Palembang dan Jakarta. Agenda Asian Games tentulah lebih tinggi levelnya, sehingga Presiden harus hadir langsung bersama Wapres dan mengutus Mendikbud ke Aceh.

Bukan kali ini saja sebetulnya Presiden mengutus menteri ke Aceh untuk membuka PKA. Dari tujuh kali PKA dihelat, hanya pada PKA IV, V, dan VI yang langsung dihadiri presiden. Pada PKA III, yang hadir membuka acara justru Wakil Presiden Sudharmono SH. Pada PKA II malah Ibu Tien Soeharto yang menutupnya.

Terlepas dari siapa yang membuka dan menutup PKA, tapi yang jelas event budaya ini telah berlangsung secara periodik di Aceh sejak tahun 1958. Tahun ini berarti genap 60 tahun usia pelaksanaan PKA. Semula dilaksanakan lima tahun sekali, tapi belakangan dipercepat menjadi empat tahun sekali. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat menghargai dan menjunjung tinggi budayanya, sehingga diperlukan banyak event dengan interval yang lebih singkat untuk menggelorakan dan merayakannya.

PKA ini merupakan momentum yang sangat tepat dan strategis untuk membangkitkan kembali tamadun Aceh yang sempat terpuruk akibat konflik bersenjata selama hampir tiga dasawarsa maupun akibat peristiwa gempa dan tsunami tahun 2004 silam.

Melalui ajang PKA ini tentunya dapat dilakukan secara terencana upaya-upaya inventarisasi, konsolidasi, reaktualisasai, revitalisasi, dan promosi budaya Aceh yang mungkin sempat mengalami tekanan, pergerseran nilai, bahkan kemerosotan akibat konflik dan bencana.

Pendeknya, hasil PKA VII ini haruslah lebih konkret dibanding PKA-PKA sebelumnya. Kita juga harus membuka simpul-simpul hambatan investasi di Aceh. Gunakan kesempatan emas saat PKA ini untuk mempromosikan Aceh ke dunia luar. Output-nya pun harus jelas, yakni untuk meningkatkan jumlah kunujungan wisatawan ke Aceh, di samping untuk semakin memperbaiki persepsi pihak luar, terutama para investor bahwa Aceh kini merupakan daerah yang sangat kondusif untuk berinvestasi. Inilah saatnya bagi Aceh mempromosikan potensi daerahnya dan keramahtamahan masyarakatnya.

Akhirnya, selamat ber-PKA. Mari kita buktikan bahwa Aceh memiliki tamadun yang tinggi dan sangat memuliakan tamunya sesuai dengan hadih maja Aceh bahwa peumulia jamee adat geutanyoe.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved