Puluhan Pelajar dan Mahasiswa Ikuti Lomba Baca Manuskrip Kuno di Museum Aceh

Lomba membaca manuskrip kuno itu diselenggarakan oleh Rumoh Manuskrip Aceh bekerja sama dengan Bank Aceh Cabang Banda Aceh

Puluhan Pelajar dan Mahasiswa Ikuti Lomba Baca Manuskrip Kuno di Museum Aceh
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid menyerahkan hadiah untuk peserta yang mampu membaca manuskrip kuno dengan baik. Meskipun datang dengan menggunakan kursi roda, salah satu peserta ini tetap semangat mengikuti lomba. 

Laporan Muhammad Nasir I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Puluhan pelajar dan mahasiswa mengikuti uji kemampuan membaca manuskrip kuno di Museum Aceh, Banda Aceh, Minggu (12/8/2018).

Lomba membaca manuskrip kuno itu diselenggarakan oleh Rumoh Manuskrip Aceh bekerja sama dengan Bank Aceh Cabang Banda Aceh.

Lomba itu dimulai sejak pagi hingga sore hari, sejumlah pengunjung yang berkunjung ke Aceh History Expo di Museum Aceh langsung mencoba mengikuti lomba yang diadakan di stan Rumoh Manuskrip Aceh itu.

Baca: Kolektor Naskah Kuno Serahkan Manuskrip Abad ke 17 kepada Wakil Ketua DPR RI

Panitia menyediakan hadiah untuk peserta yang mampu membaca manuskrip dengan baik.

Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid atau akrap disapa Cek Midi kepada Serambinews.com mengatakan, manuskrip kuno yang dilombakan itu ditulis dengan Arab Melayu (Jawi), pesertanya berasal dari pelajar SMP, pelajar SMA, dan mahasiswa.

Untuk peserta tingkat mahasiswa akan diuji membaca manuskrip berisi syairnya Hamzah Fansury, tingkat SMA akan membacakan Masailal Muhtadi. Sedangkan tingkat SMP akan membaca naskah Bidayah.

Cek Midi mengatakan, lomba baca manuskrip kuno untuk melestarikan kemampuan generasi muda dalam membaca naskah bertuliskan Arab Melayu (Jawi).

Baca: Santri, Penjaga Manuskrip, dan KWPSI Dapat Anugerah Dayah

Karena saat semakin sedikit yang memiliki kemampuan membaca manuskrip kuno itu.

“Lomba ini untuk membangunkan kembali khasanah budaya Aceh, terutama bahasa yang sudah digunakan oleh leluhur Aceh dulu," ujar Cek Midi.

Menurutnya, dulu arab melayu ini menjadi bahasa kesultanan, bahasa pengajian, dan bahasa diplomasi, tapi tahun 70-an penggunaanya mulai hilang karena tidak diajarkan lagi.

Baca: Manuskrip Ini Sebut Penjualan Obligasi Pembelian Pesawat Seulawah RI di Aceh Tengah Selama Dua Bulan

Menurutnya, saat ini kebanyakan yang mampu membaca manuskrip atau kitab arab melayu adalah kalangan orang dewasa. Sedangkan kalangan anak muda dan remaja sangat sedikit.

Sehingga jika kemampuan baca arab melayu tidak diajarkan dan dilestarikan ke generasi selanjutnya, maka ke depan akan terputus generasi yang mampu membaca.

Dalam pameran sejarah itu, Rumoh Manuskrip Aceh memamerkan sejumlah manuskrip kuno, beberapa diantaranya merupakan karya ulama-ulama besar Aceh, seperti Syeikh Abdul Rauf Al Singkili, Nurrudin Ar Raniry, dan Hamzah Al Fansury. (*)

Penulis: Muhammad Nasir
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved