13 Tahun MoU Helsinki, Kisah Apa Karya dan Pasukan GAM Menunggu Utusan CMI di Belantara Aceh

Pria yang akrab disapa Apa Karya ini ditugaskan mengumpulkan minimal satu kompi (100 orang) personel GAM yang dilengkapi dengan seragam dan senjata

13 Tahun MoU Helsinki, Kisah Apa Karya dan Pasukan GAM Menunggu Utusan CMI di Belantara Aceh
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Zakaria Saman (Apa Karya) 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Hari ini, Rabu 15 Agustus 2018, rakyat Aceh memperingati 13 tahun penandatanganan kesepahaman bersama (MoU) yang melahirkan perdamaian di Aceh.

Kesepahaman bersama yang lebih dikenal dengan nama MoU Helsinki ini ditandatangani oleh pemimpin GAM dan perwakilan Pemerintah RI, di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.

Penandatangan MoU Damai Aceh ini merupakan puncak dari serangkaian proses perundingan yang difasilitasi oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional Crisis Management Initiative (CMI).

Baca: 13 Tahun Damai Aceh, SBY Unggah Foto Kenangan Tahun 2006

Zakaria Saman atau yang akrab disapa Apa Karya foto bersama Wakil Presiden, Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat
Zakaria Saman atau yang akrab disapa Apa Karya foto bersama Wakil Presiden, Jusuf Kalla di kantor Wakil Presiden di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat ()

Dua tahun lalu, pada peringatan 11 tahun MoU Helsinki, yang dipusatkan di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Senin 15 Agustus 2016, Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar, menyampaikan secara singkat tentang proses yang terjadi sampai MoU bersejarah ini disepakati dan kemudian ditandatangani.

Dalam sambutannya kala itu, Malik Mahmud menyampaikan bahwa proses perundingan di Helsinki berlangsung di bawah bayang-bayang kegagalan perundingan di Tokyo pada 17 Mei 2003.

Malik Mahmud menggambarkan perundingan Helsinki “sangat mengharukan dan mencemaskan” berlangsung dalam keadaan Aceh yang terus bergolak menyusul gagalnya perundingan di Tokyo, dua tahun sebelumnya.

Baca: VIDEO: Apa Karya Bilang Rencong Kiri-kanan Dompet Hilang

Malik Mahmud juga mengatakan, perundingan di Helsinki yang melibatkan sejumlah pemimpin puncak GAM di Swedia dan Aceh, serta Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin dan beberapa menteri lainnya dengan mandat dari Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla, sempat memanas.

Delegasi Pemerintah Indonesia yang hadir di ruang perundingan sempat mengancam membatalkan perundingan, ketika pemimpin GAM membeberkan alasan rakyat Aceh menuntut kemerdekaan dari Indonesia.

Namun, kata Malik Mahmud, kepiawaian Martti Ahtisaari (mantan presiden Finlandia yang merupakan pemimpin CMI), dalam memfasilitasi perundingan membuat keadaan kembali mencair.

Baca: Apa Karya: Peringatan MoU Helsinki bukan dengan Hura-hura, Seperti Makan Nasi Goreng

Tgk Hasan Tiro diangkat prajurit GAM di belantara Aceh. Sumber foto/Buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro
Tgk Hasan Tiro diangkat prajurit GAM di belantara Aceh. Sumber foto/Buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro ()

Perundingan pun dilanjutkan dan akhirnya kedua belah pihak sepakat menandatangani kesepahaman bersama untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung 30 tahun di Bumi Serambi Mekkah.

Halaman
1234
Penulis: Zainal Arifin M Nur
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help