13 Tahun MoU Helsinki, Kisah Apa Karya dan Pasukan GAM Menunggu Utusan CMI di Belantara Aceh
Pria yang akrab disapa Apa Karya ini ditugaskan mengumpulkan minimal satu kompi (100 orang) personel GAM yang dilengkapi dengan seragam dan senjata
Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Muhammad Hadi
“Pertemuan dimulai pukul 9.00 WIB sampai 13.00 WIB. Meunyo long kheun (kalau saya bilang) no, iam sorry Sir. Nyan ka hana jadeh diteken (bisa batal penandatanganan) MoU Helsinki,” ungkap Apa Karya.
Baca: Mengenang Hasan Tiro, Ini 10 Fakta Tersembunyi dari Sosoknya

Apa Karya mengatakan, data lengkap tentang pertemuan ini ada sama Juha Cristensen.
“Ilong pane kuteupeu rudok lam uteun watee nyan (Saya enggak ingat tanggal dan harinya, karena saat itu masih bergerilya di hutan),” kata Apa Karya ketika ditanya tanggal pertemuan tersebut.
“Yang pasti, setelah pertemuan itu, mereka kembali ke Helsinki, baru ditandatangani MoU,” lanjut pria yang kini menetap di Keumala, Kabupaten Pidie, ini.
Baca: Cerita Abdullah Puteh, Irwandi Yusuf Bilang Suratnya untuk Abdullah Syafii Punya Microchip
Apa Karya menambahkan, kebenaran cerita ini juga bisa ditanyakan kepada SBY, Jusuf Kalla, dan Hamid Awaluddin yang terlibat langsung dalam perundingan di Helsinki kala itu.
“SBY mantong udep, Jusuf Kalla mantong udep, Hamid Awaluddin pih mantong udep, meunyo han neupateh jeut neutanyong bak awak nyan (SBY masih hidup, Jusuf Kalla masih hidup, Hamid Awaluddin juga masih hidup, kalau enggak percaya cerita saya ini bisa tanyakan kepada mereka),” pungkas Apa Karya.
Tak Diundang
Ditanya pendapatnya tentang peringatan 13 Tahun Penandatanganan MoU Helsinki yang hari ini digelar di Banda Aceh, Zakaria Saman alias Apa Karya mengatakan dirinya tidak diundang dalam kegiatan itu.
Baca: Mualem Hadiri HUT Kopassus
Apa Karya mengaku tidak kecewa meski sudah beberapa tahun terakhir tidak diundang pada acara peringatan MoU Helsinki.
Meski, lanjut Apa Karya, seharusnya pihak penyelenggara jangan melupakan pihak-pihak yang berjasa besar sehingga tercapainya kesepahaman bersama untuk melahirkan perdamaian di Tanah Rencong ini.
“Tapi hana peukara keu geutanyoe, karena le that buet yang mantong peureulee tapeuseuleusoe (tapi tidak menjadi soal bagi saya, karena banyak pekerjaan lain yang perlu saya selesaikan),” ujar Apa Karya.
Baca: Mengapa Hasan Tiro Memproklamirkan GAM pada 4 Desember? Ternyata Ini Alasannya
Baca: Milad Ke-41 GAM, Begini Kisah Pertama Kali Hasan Tiro Pulang ke Aceh Setelah 25 Tahun di Amerika

Apa Karya pun optimis perdamaian Aceh akan terus terpelihara, dengan syarat pemerintah Indonesia merealisasikaan seluruh butir-butir yang tertuang dalam MoU Helsinki dan UUPA, serta menangkap semua pihak yang menggerogoti (korupsi) dana otonomi khusus untuk Aceh.
“12 tahun kita sudah menerima dana otonomi khusus, kurang lebih ada sekitar 57 triliun, tapi apa yang sudah dinikmati rakyat Aceh? Apakah jembatan Pango? Atau jembatan di dhapu kupi (fly over Simpang Surabaya-red)? Baru sekarang KPK mau turun (mengusut korupsi di Aceh),” ungkap Apa Karya.
Seharusnya, lanjut Apa Karya, dari dulu Pemerintah Indonesia melalui KPK mengawasi ketat penggunaan dana otonomi khusus ini, agar bisa mensejahterakan rakyat Aceh, sehingga perdamaian Aceh akan berlangsung selamanya.(*)