Sandi Sebut Rupiah Melemah Karena Indonesia Banyak Impor Barang, Menkeu Sri Mulyani tak Membantah

"Karena sekarang ini banyak sekali kebijakan kita yang mengarahkan pemenuhan kebutuhan itu melalui impor,"

Sandi Sebut Rupiah Melemah Karena Indonesia Banyak Impor Barang, Menkeu Sri Mulyani tak Membantah
Sri Mulyani dan Sandiaga Uno 

SERAMBINEWS.COM - Rontohnya nilai tukar rupiah terus mendapat tanggapan publik selama ini.

Termasuk dari bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno yang mendapat tanggapan dari pihak pemerintah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menanggapi pernyataan Sandiaga Uno, yang menyebut bahwa pelemahan rupiah disebabkan karena Indonesia banyak melakukan impor.

Baca: Rupiah Keok, Terendah Sejak Oktober 2015, Analis Prediksi Pelemahan Berlanjut Sampai Besok

Sri Mulyani tidak membantah argumen Sandiaga itu.

Menurut dia, saat ini pemerintah memang berupaya mengendalikan impor sejumlah komoditas.

"Ya tadi sudah dijelasin, kita mau mengendalikan impor, itu yang dilakukan. Dan ekspor itu sudah bagus," kata Sri Mulyani kepada wartawan usai rapat terbatas mengenai peningkatan cadangan devisa, di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/8/2018) sore.

Baca: Ini Pesan yang Dititipkan Muhammadiyah Kepada Prabowo-Sandiaga Uno

Rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo itu menyepakati, Indonesia harus mengurangi impor yang tidak diperlukan untuk meningkatkan cadangan devisa dan menguatkan rupiah.

Sri Mulyani mengatakan, setidaknya ada 500 komoditas impor yang akan diidentifikasi.

"Saat ini kami bersama Menteri Perdagangan dan (Menteri) Perindustrian akan mengidentifikasi 500 komoditas yang memang bisa diproduksi dalam negeri, apakah akan bisa melakukan subtitusi impor sementara kita melakukan pengendalian dari sisi impornya," kata Sri.

Baca: Sandiaga Uno Bantah Mahar Rp 1 Triliun untuk PKS dan PAN

Sri mengatakan pemerintah juga akan menerapkan pajak penghasilan (Pph) impor 7,5 persen untuk barang konsumsi maupun bahan baku.

Halaman
12
Editor: Hadi Al Sumaterani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved