Cuma Ingin Gaji Rp 1 Juta, Para Honorer Harus Demo

Sekitar 50 guru honorer di lingkungan Dinas Pendidikan Aceh Barat, dua hari lalu bernjuk rasa ke gedung DPRK

Cuma Ingin Gaji Rp 1 Juta, Para Honorer Harus Demo
RATUSAN honorer RSUD Cut Nyak Dhien, Aceh Barat berdemo di rumah sakit setempat, Rabu (5/9). 

Sekitar 50 guru honorer di lingkungan Dinas Pendidikan Aceh Barat, dua hari lalu bernjuk rasa ke gedung DPRK setempat guna memperjuangkan agar honor bulanan mereka dinaikkan dari Rp 500.000/bulan yang selama ini mereka terima menjadi Rp 1 juta/bulan. Para guru honorer yang berunjuk rasa itu umumnya bergelar sarjana pendidikan (S-1).

Menurut para pendemo, sebelumnya pemerintah setempat pernah menjanjikan akan menaikkan gaji guru honorer agar sama dengan gaji para honorer di instansi lain. “Akan tetapi, sudah bulan September, ternyata gaji kami masih 500.000 rupiah. Makanya, kami mengadu nasib kepada Bapak Dewan,” kata seorang pengunjuk rasa.

Ketua Komisi B DPRK Aceh Barat, Banta Lidan mengatakan, apa yang dituntut para guru honorer itu merupakan hal yang wajar dan patut didukung. “Karena itu, kami minta dinas pendidikan segera mengusulkan ke DPRK anggaran penambahan gaji guru honorer sehingga ke depan bisa dibahas dalam APBK-P 2018. DPRK menilai, tuntutan para guru non-PNS itu selain wajar juga sangat manusiawi. “Dengan Rp 500.000, mungkin hanya cukup untuk BBM atau ongkos angkutan. Terus mereka makan apa?” tanya seorang wakil rakyat Aceh Barat.

“Dinas akan segera bahas soal ini. Coba kita pastikan dari pos mana anggaran yang akan kita usul,” kata Bismi, Kadis Pendidikan setempat.

Persoalan para honorer bukan cuma gaji yang sangat kecil, tapi juga mereka masih sangat berharap akan mendapat kesempatan prioritas pada saat terbukanya formasi penerimaan CPNS baru. Karena itulah, meki dengan honor yang sangat kecil, mereka tetap bertahan bertahun-tahun sebagai honorer. Dan, tugas mereka terkadang lebih berat dari guru tetap yang PNS.

Namun, hanya untuk mendapatkan honor Rp 1 juta perbulan, mereka harus bersusah paya berunjuk rasa. Artinya, walau sudah mengabdi sebagai hinorer bertahun-tahun, nasib mereka tetap saja harus mereka perjuangkan sendiri. Syukurlah, kali ini para wakil rakyat yang menerima mereka memberi “angin” positif. Hasilnya kita lihat akhir tahun nanti, bertambah atau tidak honor mereka.

Kemudian, sekolah-sekolah atau instansi pemerintah manapun harus hati-hati menampung tenaga honorer jika tak ada anggaran yang jelas untuk membayar jerih mereka setiap bulan. Sebab, seperti sudah kita katakan tadi, bahwa selama ini, honorer di manapun, pekerjaannya lebih banyak dari PNS atau ASN. Jadi, kalau memang tak ada pos anggaran yang jelas untuk membayar mereka, lebih baik jangan memakai jasa honorer. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved