Salam

Dor di Tempat Memang Pantas Bagi Narkobais

BAGAI cerita bersambung, kisah tentang bisnis narkoba di Aceh hampir tak ada putusnya

Dor di Tempat Memang Pantas Bagi Narkobais
Personel Polres Aceh Utara menurunkan jenazah Johansyah ke Kamar Mayar RSUD Cut Meutia Aceh Utara, Sabtu (15/9).SERAMBI/JAFARUDDIN 

BAGAI cerita bersambung, kisah tentang bisnis narkoba di Aceh hampir tak ada putusnya. Kemarin, Harian Serambi Indonesia memberitakan lagi kisah tentang pengedar narkoba jenis sabu-sabu yang akhirnya meregang nyawa di tangan polisi.

Adalah Johansyah (32), warga Desa Blang Bitra, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur yang menambah daftar panjang orang Aceh terlibat narkoba dan tewas karenanya. Awalnya, Johansyah diringkus tim gabungan Polda Aceh dan Polres Aceh Utara di sebuah toko swalayan kawasan Medan Denai, Sumatera Utara, Sabtu (15/9) sekitar pukul 02.00 WIB.

Namun, sembilan jam kemudian, tepatnya pukul 11.00 WIB, Johansyah yang sudah lama diuber polisi karena tersangkut kasus kepemilikan senjata api dan bisnis narkoba itu, terpaksa didor oleh polisi dan akhirnya meninggal. Penyebabnya, ia berupaya lari dengan cara melompat dari jendela pada saat dibawa polisi ke rumah orang tuanya di Blang Bitra untuk mengambil dua senjata api yang dia sembunyikan di situ.

Dalam catatan kepolisian, Johansyah tergolong nekat dan licin. Pada 19 Agustus lalu personel Polres Aceh Utara terlibat kontak tembak sekitar 15 menit dengan Johansyah di Desa Blang Bitra, Kecamatan Peureulak Kota, Aceh Timur. Ia duluan yang menembak polisi saat hendak menangkap Johansyah di rumahnya.

Setelah melancarkan tembakan ke arah polisi dia pun lari dari pintu belakang rumah membawa sepucuk senjata api laras panjang dan sepucuk pistol. Ia kemudian tertangkap saat berbelanja dengan seorang wanita yang bukan istrinya di sebuah toko swalayan di Medan Denai, Sumut, pada 15 September dini hari. Di Medan ia mengaku bahwa kedua senpi miliknya ia sembunyikan di rumah orang tuanya. Saat polisi membawanya untuk mengambil senjata itulah dia nekat loncat dari jendela untuk melarikan diri. Menurut polisi, tembakan peringatan yang dilepaskan polisi tidak ia hiraukan sehingga akhirnya ia ditembak dan tewas.

Saat nyawa seseorang melayang secara tidak wajar kita tentu saja prihatin. Ikut berduka. Akan tetapi sejumlah tersangka narkoba yang beroperasi di Aceh memang semakin nekat saja. Daripada ditangkap dan diadili lalu dipenjara, mereka lebih memilih mati saat disergap. Bukan cuma Johansyah, seorang tersangka sabu-sabu asal Medan yang tertangkap di Banda Aceh tiga bulan lalu juga nekat melarikan diri dari pengawalan polisi saat hendak diboyong ke Lhokseumawe.

Ia mengaku menyimpan 30 kg sabu-sabu di sebuah rumah di Lhokseumawe. Polisi memboyongnya untuk mengambil barang haram tersebut. Tapi sesampai di Lampeuneurut, Aceh Besar, pria tersebut loncat dari mobil polisi dan berupaya kabur. Tembakan peringatan ke udara tak dipedulinya. Alhasil, ia tewas didor. Apa boleh buat, itulah tindakan yang paling pantas dilakukan aparat penegak hukum kepada tersangka pengedar narkoba.

Kita semua tahu bahwa narkoba, seperti halnya terorisme dan korupsi, digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Maka sangatlah wajar jika kepada pelaku kejahatan luar biasa dijatuhi hukuman yang luar biasa pula supaya menimbulkan efek jera. Para narkobais di bumi syariat, Aceh, tak boleh lagi dikasih hati. Basmi dan basmi! Tindak dan hukum mereka dengan hukuman yang bukan saja menimbulkan efek jera yang dahsyat, tapi juga dengan hukuman yang dapat menimbulkan penyesalan seumur hidupnya. Bahkan tindakan itu harus pula membuat keluarganya sangat menyesali punya anggota keluarga yang pernah menjadi pengedar narkoba. Dengan membenci dan menjadikan setiap narkobais sebagai musuh bersama, maka ruang geraknya bisa dipersempit dan menjadi lebih efektif membasmi mereka.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved