Salam

Vaksin MR Memang jangan Dipaksakan

Kontroversi soal penggunaan vaksin measles (campak) and rubela atau lazim disebut vaksin MR

Vaksin MR Memang jangan Dipaksakan
Ketua MPU Aceh, Prof Dr Tgk Muslim Ibrahim MA 

Kontroversi soal penggunaan vaksin measles (campak) and rubela atau lazim disebut vaksin MR, hingga kini terus bergulir. Khusus di Aceh, kontroversi yang terkait dengan halal dan haram vaksin itu, membuat Aceh menjadi daerah yang paling rendah realisasi vaksin MR, atau hanya 4,9 persen secara nasional.

Bukan hanya Aceh, seperti diungkap Kemenkes RI, delapan propinsi lain di negara ini juga mengalami penolakan yang signifikan dari rakyatnya. Hal itu membuat target pemerintah untuk memberikan vaksin MR kepada 95% anak Indonesia, gagal. Per September 2018, hanya 42,98% anak yang berhasil diimunisasi.

Penolakan itu bukan tanpa dasar. Majelis Ulama Indonesia melalui fatwa Nomor 33 Tahun 2018, menyatakan vaksin MR haram, karena mengandung babi, tetapi penggunaannya diperbolehkan jika faktor darurat.

Ketua MPU Aceh, Prof Dr Tgk Muslim Ibrahim MA, melalui harian ini, edisi kemarin mengakui jika selama ini, makna darurat sudah sedemikian luas pemakaiannya. Hal itu berpotensi membuat masyarakat muslim salah menafsirkan darurat yang sebenarnya dalam syar’i.

Menurut Tgk Muslim, darurat secara syar’i adalah kondisi bahaya atau kesulitan berat yang mengancam seseorang atau kelompok yang tidak mempunyai jalan selain melakukan sesuatu yang dilarang. “Apabila mereka tidak melakukannya maka akan berada dalam kebinasaan,” tegas Muslim.

Dalam kaitan kekhawatiran rasa bias dalam memaknai status kedaruratan itu, Ketua MPU Aceh tersebut juga mengaku jika keadaan darurat itu jangan dipaksakan, termasuk dalam hal penerapan imunisasi vaksin MR.

Konsep darurat dalam hal kekhawatiran akan--sekali lagi--akan, terjadi booming campak dan rubela, yang menjangkiti para anak di Indonesia, jika imunisasi MR tak dilakukan. Saat ini beberapa anak di Palembang, Kepulauan Riau dan Kalsel dilaporkan terjangkit campak dan rubela.

Campak dan rubella merupakan infeksi menular yang dapat menyebabkan ruam merah di tubuh. Selain itu, pengidap penyakit ini juga mengalami demam dan bengkak pada kelenjar getah bening.

Campak dan rubella dapat menyebar antarmanusia melalui kontak langsung maupun udara dan air liur. Juga ketika terpapar bersin dan batuk mereka, atau berbagi makanan dengan orang yang terinfeksi.

Salah satu cara untuk mencegah wabah campak dan rubella adalah dengan vaksin MR.

Menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Vensya Sitohang, apabila imunisasi MR tahap dua ini gagal, 32 juta anak Indonesia di rentang usia 9 bulan hingga 15 tahun tidak terlindungi virus campak dan rubella. Ini bisa memicu peningkatan kematian anak di Indonesia.

Artinya itu hanya sebatas, ‘memicu’, masih sifatnya ‘prediktif’, dan belum sampai di depan mata. Inilah yang mungkin menepis kesahihan soal kedaruratan. Sementara bagi umat Islam, tak ada tawar menawar dalam hal memasukkan barang haram ke tubuhnya. Walaupun hanya dalam bentuk vaksin, tapi mengandung babi.

Kita setuju dengan pernyataan Ketua MPU Aceh, hendaknya penerapan imunisasi MR tak dipaksanakan bagi anak anak Aceh. Kalau dipaksakan juga, malah memunculkan ragam tudingan, jangan jangan vaksin itu orderan pihak tertentu yang terkait dengan ‘jual beli’ skala besar.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved