Opini

Revisi ‘Passing Grade’ Tes CPNS, Mungkinkah?

SELEKSI Kemampuan Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 sedang berlangsung di beberapa

Revisi ‘Passing Grade’ Tes CPNS, Mungkinkah?
SERAMBI/SUBUR DANI
Para peserta CPNS S1 Kanwil Kemenkumham Aceh, melihat pengumuman passing grade (nilai) usai mrngikuti ujian dengan sistem komputerisasi di kampus Abulyatama 

Oleh Kurdi

SELEKSI Kemampuan Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 sedang berlangsung di beberapa daerah. Sebanyak 186.744 formasi daerah dan 51.271 formasi pusat diperebutkan pada 2018 ini (Permenpan-RB No.36 Tahun 2018). Data sementara (per 1 November 2018) menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan. Beberapa kabupaten, seperti Aceh Barat dari 1.400 peserta jalur umum yang sudah mengikuti seleksi ujian, hanya 19 peserta yang memenuhi passing grade ujian (aceh.tribunnews.com, 1/11/2018).

Selanjutnya, Aceh Singkil ada 4 peserta yang berhasil memenuhi passing grade dari 1.468 peserta ujian. Kemudian, Aceh Jaya dari 2.600 peserta hanya 26 orang yang mampu melewati passing grade yang disyaratkan. Bahkan, Kabupaten Simeulue dari 110 peserta yang ikut ujian pada sesi pertama, tidak ada satu pun peserta yang mampu melewati nilai passing grade (Serambi, 1/11/2018). Fenomena yang sama ditunjukkan juga dari hasil ujian di beberapa daerah lainnya.

Secara umum, rasio antara kelulusan dibandingkan dengan peserta ujian rata-rata menunjukkan tingkat kelulusan 5-10 persen, bahkan kurang di beberapa daerah. Satu penyebab rendahnya capaian kelulusan peserta ujian, karena tingginya nilai passing grade yang disyaratkan. Nilai ini sendiri diatur dalam Permen PAN dan RB No.37/2018.

Nilai minimum untuk formasi umum pada Tes Karakteristik Pribadi (TKP) adalah 143, sedangkan Tes Intelegensia Umum (TIU) nilai minimum adalah 80 dan untuk Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) minimum harus memperoleh nilai 75. Sedangkan untuk jalur khusus didasari nilai kumulatif ketiga sub tes (TKP, TIU, dan TWK) disandingkan dengan nilai TIU minimum. Penentuan batas ambang kelulusan ini bertujuan untuk mendapatkan PNS yang bersih, kompeten dan melayani sesuai dengan amanat UU No.5 Tahun 2015 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Tidak terisi
Selanjutnya, jika trend kelulusan ini berlanjut diprediksi formasi kebutuhan pegawai di beberapa daerah akan mengalami kekosongan atau tidak terisi. Hal ini disebabkan syarat kelulusan minimum SKD yang tidak mampu dipenuhi oleh peserta tes CPNS. Formasi yang tidak mampu diisi oleh peserta ujian sesuai dengan syarat passing grade dinyatakan sebagai “formasi kosong” dalam tulisan ini.

Tata cara pengisian formasi kosong yang diatur dalam Lampiran Permenpan-RB No.36/2018 maupun Surat Menpan No.B/581/S.SM.01.00/2018 tanggal 30 Oktober 2018 tentang Tata Cara Penilaian Integrasi Hasil SKD dan Seleksi Kemampuan Bidang (SKB), hanya menjelaskan tata cara pengisian formasi kosong untuk peserta yang telah lulus passing grade minimum, sesuai yang disyaratkan baik untuk jalur khusus maupun jalur umum. Ketentuan yang ada belum mengatur, bagaimana jika selesai ujian SKD tidak semua formasi jabatan terisi akibat tidak memenuhi syarat minimum passing grade atau yang dinamakan dengan formasi kosong.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika peserta yang telah mengikuti SKD yang lulus ambang batas (passing grade) hanya mampu mengisi 10 persen dari formasi yang diperebutkan? Apakah pemerintah tetap mempertahankan standar kelulusan sesuai dengan Permenpan-RB No.37/2018? Atau, dimungkinkan terobosan alternatif penyelesaian, sehingga seluruh formasi yang diperebutkan tetap terisi tanpa harus mengurangi prinsip-prinsip penerimaan CPNS yang kompetitif, adil, objektif, transparan, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, serta tanpa pungutan biaya?

Alternatif 1, revisi passing grade. Pertanyaan mendasar apakah benar passing grade yang ditetapkan merupakan nilai yang sukar ditembus? Jika benar, apakah tepat merevisi passing grade dengan menurunkan pada level tertentu akan dapat mengisi formasi yang kosong? Mari sedikit kita asumsi, jika masing-masing sub tes (TWK, TIU, dan TKP) diturunkan 5 poin, maka nilai minimum untuk TWK, TIU serta TKP adalah 70, 75, dan 138. Nilai ini selanjutnya kita namakan sebagai nilai passing grade revisi.

Jika nilai passing grade revisi ini digunakan beberapa alternatif kemungkinan akan diperoleh antara lain tingkat kelulusan peserta ujian meningkat, beberapa formasi kosong akan terisi. Selanjutnya, diperlukan standar penentuan kelulusan final, jika formasi yang diperebutkan melebihi dari formasi yang dibutuhkan. Penentuan kelulusan selanjutnya melalui mekanisme ujian SKB.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved