Citizen Reporter

Maulid Nabi di Kota Bethlehem

SYEIKH Muhammad Al Habib As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani Al-Maliki pernah berkata, tiidaklah layak

Maulid Nabi di Kota Bethlehem
IST
AULA ANDIKA FIKRULLAH

OLEH AULA ANDIKA FIKRULLAH, Mahasiswa Master of Science in Instructional Technology, Lehigh University, Amerika, Sekretaris Pesantren Raudhatul Mubarakah, Aceh Besar, dan Ketua FLP Banda Aceh 2014-2016, melaporkan dari Pennsylvania, Amerika Serikat

SYEIKH Muhammad Al Habib As-Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani Al-Maliki pernah berkata, tiidaklah layak bagi seorang yang berakal bertanya mengapa memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, karena seolah-olah dia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan lahirnya Rasullullah saw?”

Penggalan kalimat yang disampaikan oleh pengarang kitab Huwa Allah dan Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil ini begitu tajam dan menusuk akan golongan-golongan yang kurang setuju akan merayakan hari kelahiran baginda Nabiyullah Muhammad saw.

Di lain sisi, berbagai bukti telah menyebutkan bahwa bumi dan langit berselawat ketika rasul yang agung dilahirkan ke muka bumi ini. Bahkan mulai malam di tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabiul Awal sebelum kelahiran Rasulullah ke muka bumi ini, ada 12 peristiwa yang mengagumkan dan menarik perhatian yang dirasakan oleh Sayyida Aminah sebagaimana dinukilkan di dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami Asy-Syafii yang salah satunya adalah Aminah mendapatkan kedamaian dan ketenteraman dari Allah dan malaikat ramai mendatangi rumahnya untuk mengabarkan bahwa kelahiran kekasih Allah semakin dekat.

Tentu, rasa gembira akan hadirnya rasul ke muka bumi tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Arab 1440 tahun lalu, tapi kita pun yang saat ini tidak pernah bertemu, berbicara, dan beribadah bersama Rasulullah ikut merasakan kenikmatan dan keberkahan akan hadirnya. Maka wajar jika kemudian umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan kelahirannya dengan berbagai macam bentuk acara. Sebut saja mulai dari khanduri molod dengan mengundang berbagai sanak saudara, ceramah maulid, dan aneka perlombaan, sebagaimana yang lazim terlihat di Aceh, Seuramoe Mekkah.

Kemeriahan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw pun tidak luput dari perhatian masyarakat di lingkungan Kota Bethlehem, Pennsylvania, Amerika Serikat, tempat saya menempuh pendidikan pascasarjana saat ini.

Bethlehem merupakan kota di negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat yang didirikan lebih dari 250 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1741 oleh sebuah kelompok keagamaan di Amerika. Sebagaimana masyhurnya Bethlehem di Jerussalem, Israel, kota ini pun dijuluki dengan nama Christmas City. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya gereja di seluruh penjuru kota.

Walau menjadi minoritas, kami kemudian tidak bisa melupakan hari paling bersejarah dalam peradaban manusia ini. Didukung oleh Direktur of Muslim Student Life dari Lehigh University, kami pun turut memeriahkan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw di Bethlehem.

Grup Nasyid Al Firdaus asal negara Granada menjadi tontonan utama malam itu. Kitab Barzanji yang menjadi kitab induk dari peringatan maulid tak lupa disenandungkan. Dilanjutkan dengan bacaan Qasidah Burdah dan aneka pujian-pujian terkait kegembiraan umat akan diutusnya Nabi Muhammad saw. Saya yang duduk di kursi deretan kedua dari panggung utama begitu menikmati kesyahduan syair-syair yang merkea lantunkan. Walau tak 100 persen sama meriahnya dengan perayaan maulid di Serambi Mekkah, setidaknya momentum itu mampu membangkitkan rasa rindu saya kepada sang “junjungan akhir zaman”.

Hadirin malam itu sungguh menikmati sajian yang sarat makna itu. Bahkan beberapa keluarga nonmuslim dan Yahudi ikut merasakan kehebatan syair-syair qasidah ini. Di tengah-tengah acara, saya sempat berbincang-bincang dengan beberapa orang yang di akhir diskusi baru terindentifikasi bahwa mereka tidak beragama Islam.

Walau mereka bukan Islam, tapi mereka begitu menghayati makna di balik setiap syair yang dibacakan oleh grup Al Firdaus ini. Syekh yang melantunkan selawat-selawat tampaknya paham betul akan apa yang dibacanya malam itu. Sebelum menyenandungkan syair, ia terlebih dahulu menjelaskan asbabun nuzul dari bacaan yang akan dibacanya.

Sebut saja: saat membaca Ya Nabi salamu’alaika, dijelaskan bahwa syair ini bercerita tentang agungnya Nabi Muhammad saw dan disunahkan untuk berdiri, tidak lain untuk memuliakan apa yang diagung, yakni Baginda Rasulullah. Menjelaskan tiap syair yang dibaca ini tentu akan membuat pendengar lebih menikmati dan menghayati apa yang didengarnya.

Penjelasan-penjelasan yang dipaparkan malam itu ternyata membuat pemuda-pemuda yang berdiskusi dengan saya sangat tersentuh akan perjuangan dan keindahan akhlak Nabi Muhammad saw. Mereka bahkan sampai meneteskan air mata saat mendengar bahwa Nabi Muhammad pernah diperlakukan tidak manusiawi oleh umat di masa itu, namun nabi tetap tersenyum kepada pelaku dan mendoakan agar Allah segera memberi hidayah kepada mereka.

Allahumma shalli’ala sayyidina wa maulana Muhammad, sungguh begitu mulia dan sempurna akhlak yang ada pada diri buah hati dari Abdullah dan Aminah ini. Semoga kita dapat mengaplikasikan perbuatan dan perkataan sesuai dengan apa yang rasul terapkan semasa hidupnya. Tentu, dengan menghidupkan sunah-sunahnya hidup ini akan lebih tenteram dan nyaman. Praktik-praktik tidak terpuji seperti korupsi, zina, dan perbuatan tercela lainnya tidak mekar dalam hidup ini. Insyaallah, kita semua yang hari ini bahagia dan bersuka cita akan lahirnya Nabi Muhammad saw akan mendapatkan syafaat di yaumil akhirat kelak. Amin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved