Salam

Ternyata Tsunami tak Harus Ada Gempa

Hari ini, 14 tahun lalu. Gempa berkekuatan 9,2 SR yang merupakan tipe megathrust mengguncang Aceh sehingga memicu gelombang tsunami

Ternyata Tsunami tak Harus Ada Gempa
SERAMBINEWS.COM/IST
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh saat bencana tsunami terjadi 26 Desember 2004 

Hari ini, 14 tahun lalu. Gempa berkekuatan 9,2 SR yang merupakan tipe megathrust mengguncang Aceh sehingga memicu gelombang tsunami setinggi antara 12 sampai 30 meter. Hampir seluruh wilayah pesisir Serambi Mekkah hancur. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi.

Gempa yang terjadi pada pukul 07.59 WIB, Minggu 26 Desember 2004 menyebabkan seluruh planet Bumi bergetar 1 sentimeter (0,4 inches) yang juga menyebabkan aktivitas gempa di sejumlah negara lain seperti Sri Lanka, India, dan Thailand.

Dalam rentang waktu 15-20 menit pascagempa dahsat itu, tsunami menggulung pesisir Aceh bahkan menghantam hingga pesisir Afrika. Gempa dan tsunami Aceh merenggut sekitar 238.000 korban jiwa di 14 negara (terdampak), di mana 170.000 di antaranya ada di Aceh, Indonesia.

Selama bertahun-tahun pascagempa dan tsunami Aceh, sebagian besar referensi mitigasi kebencanaan menggunakan ‘skenario’ Aceh, termasuk bagaimana mengurangi risiko jika bencana serupa terulang.

Salah datu pelajaran penting dari bencana Aceh 2004 adalah jarak waktu antara gempa dengan yaitu 15-20 menit. Inilah yang kemudian disebut ‘golden time’ dalam pelajaran kebencanaan.

Artinya, setelah terjadi gempa yang berpotensi tsunami, masyarakat punya waktu untuk menyelematkan diri melalui evakuasi mandiri atau diselamatkan oleh tim evakuasi selama 15 hingga 20 menit. “Semakin baik manajemen penanggulangan bencana, akan semakin banyak jiwa manusia bisa diselamatkan. Waktu terbaik untuk penyelamatan adalah 15-20 menit pascagempa,” begitu dasar teori yang selama ini sering diperagakan melalui drill atau simulasi gempa-tsunami.

Teori ’15 menit golden time’ mulai tergoyahkan ketika terjadi gempa Sulawesi Tengah (Sulteng) yang dikenal sebagai gempa Palu pada 28 September 2018. Ternyata, waktu terbaik untuk penyelamatan dari tsunami (pascagempa) bukan lagi 15 atau 20 menit. Karena sejumlah kesaksian yang merekam bencana Palu, tsunami menerjang pesisir Kota Palu hanya dalam waktu tiga menit setelah gempa.

Pegiat PRB (pengurangan risiko bencana) yang bergabung di Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Aceh dalam satu diskusi kebencanaan mengatakan, mereka ikut terlibat bersama Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyusun draft RPB (Rencana Penanggulangan Bencana) untuk lima tahun ke depan di mana dalam salah satu rancangannya memasukkan aksi penanggulangan pascagempa dengan menggunakan ‘style’ gempa-tsunamiPalu, yaitu tiga menit. Bukan 15 atau 20 menit sebagaimana pengalaman gempa-tsunami Aceh 2004.

Nah, belum lagi ‘style’ gempa dan tsunami Palu ‘dibungkus’ menjadi satu kesepakatan, tiba-tiba para ahli bencana terperangah karena tsunami yang menerjang pesisir Selat Sunda (Provinsi Banten dan Lampung) pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, malah tidak diawali dengan gempa.

Pelajaran terbaru yang kita dapatkan sekarang adalah tak selamanya tsunami ada isyarat gempa. Karenanya, apa yang dikatakan seorang mubalig yang juga ahli geologi, Ustaz Ir Faizal Adriansyah MSi patut menjadi renungan kita. “Masih banyak hal yang tidak kita ketahui tentang bencana alam geologi khususnya gempa dan tsunami. Ilmu manusia masih sangat sedikit.”

Semoga, dengan peringatan 14 tahun tsunami Aceh, hari ini, di Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, bisa lebih membuat kita siap dan kuat menghadapi bencana dengan bersandar bukan saja pada teori atau ilmu pengetahuan yang masih sangat terbatas.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved