Salam

Banjir Bandang Berulang Jangan Dianggap Enteng

Harian Serambi Indonesia kemarin memberitakan lagi banjir bandang yang terjadi di Aceh Tenggara (Agara)

Banjir Bandang Berulang Jangan Dianggap Enteng
SERAMBI/ASNAWI
Sebanyak enam rumah di Desa Suka Makmur, Kecamatan Semadam, Rabu (26/12/2018) sekitar pukul 21.30 WIB diterjang banjir bandang. Akibatnya, dua rumah rusak berat dan empat rusak ringan. SERAMBI/ASNAWI 

Harian Serambi Indonesia kemarin memberitakan lagi banjir bandang yang terjadi di Aceh Tenggara (Agara). Kali ini melanda Desa Natam Baru, Kecamatan Badar, pada hari Jumat (28/12) sekitar pukul 19.00 WIB. Akibatnya, 12 rumah hanyut dibawa banjir dan ratusan hektare sawah terancam gagal panen.

Tumpukan material berupa bebatuan dan kayu gelondongan di jalan nasional yang dibawa banjir bandang juga mengakibatkan arus transportasi Agara-Gayo Lues lumpuh total beberapa jam.

Kita pantas miris dan berduka, terutama karena peristiwa ini merupakan banjir bandang keempat di Agara dalam tahun ini dan peristiwa ketiga di desa yang sama, Desa Natam Baru dalam sebulan terakhir.

Berdasarkan catatan Serambi, banjir bandang pertama terjadi Senin (27/11) pukul 21.30 WIB melanda sejumlah desa di tiga kecamatan, yakni Badar, Ketambe, dan Kecamatan Leuser. Akibatnya, tiga rumah hanyut dan 40 lainnya rusak.

Tiga hari berselang, Jumat (30/11) sekira pukul 20.00 WIB banjir bandang kembali menerjang Desa Natam Baru, Kecamatan Badar. Kali ini bersama Desa Kayu Metangur di Kecamatan Ketambe. Akibatnya, belasan rumah hanyut dan rusak. Pada saat itu arus transportasi dari Agara ke Sumatera Utara juga terganggu akibat jalan tergenang dan tertutup bebatuan yang dibawa air.

Banjir bandang ketiga terjadi Rabu (26/12) sekitar pukul 21.30 WIB. Akibatnya, enam rumah di Desa Suka Makmur, Kecamatan Semadam, rusak. Banjir bandang itu juga sempat memacetkan arus transportasi Agara-Sumut. Puluhan kendaraan harus antrean menunggu banjir surut dan material yang dibawa banjir dibersihkan, baru bisa melintas.

Yang khas dari empat kali banjir bandang itu adalah selalu saja terdapat banyak kayu gelondongan di antara material yang terbawa banjir bandang. Kayu-kayu gelondongan itu bekas ditebang. Potongan di kedua sisinya rapi dan pepat. Ini menandakan bekas ditebang dengan gergaji mesin (chainsaw).

Secara ekologis dan hidrologis inilah jawaban ilmiah atas bencana yang berulang itu. Tak perlu menjadi seorang jenius untuk memastikan bahwa banjir bandang yang datang berulang di suatu tempat, memiliki korelasi kuat dengan tingkat deforestasi. Bukan rahasia lagi bahwa perambahan hutan terluas setiap tahun justru terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), disusul di kawasan Ulu Masen. Di kedua kawasan ini tegakan pohon yang tumbang akibat illegal logging berkurang sekitar 24.000 hingga 32.000 hektare setiap tahun dalam tujuh tahun terakhir. Moratorium logging yang dicanangkan Gubernur Irwandi Yusuf pada tahun 2008 bagai tak berbekas hingga kini. Ribuan pepohonan ditebang justru pada saat moratorium logging masih berlaku. Juga pada saat 3.000 jagawana digaji rutin setiap bulan untuk mengawasi hutan. Nah, di sini keprihatinan kita berpangkal. Sebab, laju deforestasi yang tak terkendali menyebabkan bencana ekologis semakin sering terjadi. Bukti nyatanya adalah banjir bandang yang setahun terjadi empat kali di Agara itu, juga banjir kiriman plus banjir lokal yang terjadi sedikitnya lima kali dalam setahun di Subulussalam dan Aceh Singkil.

Biasanya seusai banjir bandang di Agara airnya terkirim melalui Lae Alas ke kawasan Subulussalam, Trumon Raya di Aceh Selatan, dan akhirnya ke Singkil, kota yang bermuara dangkal. Jadi, agar empat daerah ini tidak saban tahun didera banjir (bandang, kiriman, maupun lokal), tak boleh tidak, penebangan hutan secara liar harus dihentikan. Persoalan ini jangandianggap enteng. Tindak tegas siapa pun pelaku maupun dekingnya. Hukum mereka dengan hukuman maksimal, karena perbuatannya telah menyebabkan penderitaan panjang bagi penduduk Agara hingga Aceh Singkil. Selain itu, reboisasi hutan yang telanjur gundul di hulu Lae Alas harus dilakukan segera karena urgensinya sudah sangat mendesak.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved