Citizen Reporter

Nyamannya Menjadi Muslim di Boston

Itulah sepenggal percakapan saya dengan ibu saya saat videocall. Itulah juga salah satu kekhawatiran ibu yang anaknya

Nyamannya Menjadi Muslim di Boston
IST
RAHMAWATI BUSTAMAM

OLEH RAHMAWATI BUSTAMAM, penerima Beasiswa Fulbright Program FLTA di Harvard University, USA, sebelumnya pengajar bahasa Inggris di SMP-SMA Teuku Nyak Arif Fatih Bilingual School Banda Aceh, melaporkan dari Boston, Amerika Serikat

“Dek, meunyo i lua pake jilbab kon?”

“Pakelah Mak, meu i rumoh mantong pake, peu lhom di lua.”

Itulah sepenggal percakapan saya dengan ibu saya saat videocall. Itulah juga salah satu kekhawatiran ibu yang anaknya sedang berada di luar negeri, tepatnya di Negeri Paman Sam.

Tidak pernah saya bayangkan, anak kampung dari Meunasah Pulo Lhee, Sakti, Pidie, akan menginjakkan kaki di Amerika. Bukan sebagai turis atau mahasiswa S2/S3, melainkan sebagai pengajar utama di Kelas Audit Bahasa Indonesia di universitas tertua di sana dan paling bergengsi di dunia, yaitu Universitas Harvard. Ini merupakan program Fulbright Foreign Language Teaching Assistant (FLTA) yang berlangsung selama satu tahun akademik atau sembilan bulan.

Dari awal penyeleksian, saya sudah berharap lulus di kota dan universitas yang nyaman untuk saya sebagai muslimah. Ketika tiba pada tahap penyeleksian universitas, ada empat universitas yang yang harus saya rankingkan. Yakni, Columbia University, Harvard University, University of Georgia, dan Indiana University. Saya pun mulai mencari informasi tentang universitas-universitas itu dan juga kotanya. Dari semua pertimbangan, saya memilih University of Georgia sebagai pilihan pertama saya. Dengan alasan profesor pembimbingnya adalah seorang muslim. Saya berpikir, jika beliau muslim, beliau akan memudahkan saya untuk beribadah, setidaknya di area kampus tempat saya bertugas. Akan tetapi, takdir berkata lain, saya diluluskan di Harvard yang merupakan pilihan ketiga saya.

Tentu saja saya bahagia lulus di universitas ternama itu. Jujur, sebelumnya saya sangat memimpikan lulus di sana, hanya saja saya kurang percaya diri (PD) hingga tidak memilihnya sebagai pilihan pertama. Seperti kata pepatah, jodoh tak lari ke mana. Saya pun mulai mencari informasi lebih dalam tentang kampus ini dan Boston. Rupanya banyak muslim di sana, hingga mereka memiliki beberapa masjid dan Harvard pun memiliki musala untuk mahasiswa muslim.

Akan tetapi, rasa khawatir itu tetap ada walaupun sedikit. Beberapa pertanyaan muncul di benak saya. Apakah akan aman untuk saya berada di Amerika? Bisakah saya shalat dengan tenang? Apakah akan ada orang yang mengganggu saya karena berjilbab? Apalagi pernah ada yang menceritakan kepada saya bahwa keluarganya pernah diteriaki “teroris” di salah satu bandara Amerika. Oleh karena itu, sebelum berangkat ke sana, saya sering memikirkan apa yang harus saya lakukan jika kejadian yang serupa menimpa saya.

Tanggal 4 Agustus 2018, saya berangkat ke sana. Gerbang USA pertama saya adalah Bandara O’Hare Chicago. Alhamdulillah, tidak ada masalah apa-apa, bahkan petugas di sana tersenyum ramah. Berikutnya, saya menuju Indiana untuk summer orientation di Universitas Notre Dame. Di sana saya juga merasakan kebaikan orang Amerika ketika saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi sebuah museum. Saya dan salah satu teman dari Pakistan ingin shalat Asar dan kami bertanya kepada salah satu pegawai museum itu di mana kami bisa shalat. Tanpa menanyakan apa pun, dia langsung menunjukkan tempat yang layak untuk kami.

Setelah lima hari berada di Indiana, saya pun berangkat ke Boston. Sungguh, dari awal tiba di Kota Boston hingga saat ini saya merasa aman dan nyaman. Kota ini sangat ramah terhadap muslim. Banyak toko makanan halal yang saya jumpai di sini hingga tidak membuat saya kesulitan dalam mengolah makanan atau ingin sekadar jajan di luar. Kebanyakan penjualnya berasal dari Palestina, Maroko, Pakistan, dan India. Untuk restoran atau kafé Indonesia memang belum ada, tapi hampir semua bumbu masak Indonesia ada di sini, yaitu di toko Asia. Tentu saja, saya yang mempunyai lidah asam sunti, menjadi pelanggan tetap di toko-toko Asia itu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved