Salam

Pemberantasan Korupsi Harus Lebih Serius Lagi

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) antikorupsi, MaTA, mengungkapkan bahwa korupsi pada sektor pendidikan

Pemberantasan Korupsi Harus Lebih Serius Lagi
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Koordinator MaTA, Alfian. 

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) antikorupsi, MaTA, mengungkapkan bahwa korupsi pada sektor pendidikan di Aceh menjadi yang paling dominan sepanjang tahun 2018. Modus korupsi di jajaran instansi ini ada bermacam-macam, mulai dari pungutan liar, penyunatan dana, mark up, dan lain-lain.

Sepanjang tahun 2018, kejaksaan di Aceh menangani 22 kasus dugaan korupsi, kepolisian 16 kasus, dan KPK menangani 3 kasus. Ada 86 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Total kerugian negara dari 41 kasus korupsi itu mencapai Rp 398 miliar. Jumlah itu meningkat drastis dibandingkan kerugian negara pada 2017 sebesar Rp 35 miliar. Dari 398 miliar itu, kasus yang ditangani jaksa Rp 74,2 miliar, polisi Rp 11,5 miliar, dan yang ditangani KPK Rp 313 miliar.

Selama ini, pendidikan merupakan salah satu sektor yang mendapatkan alokasi anggaran terbesar, baik APBA maupun APBK. Namun, anggaran yang besar ternyata memarakkan terjadinya tindak pidana korupsi yang tidak hanya terjadi pada saat pembangunan, namun juga dalam hal tata kelola pendidikan. “Kami sangat fokus mengawasi bidang pendidikan,” kata Alfian, aktivis pentolan MaTA.

Beberapa kasus korupsi bidang pendidikan yang mencuat selama 2018 di antaranya korupsi pengadaan lahan untuk perumahan guru di Sabang, korupsi pengadaan mobiler sekolah di Disdik Aceh Jaya, kasus korupsi penyaluran dana sertifikasi guru atau TPG di Aceh Timur, korupsi iuran dana PGSD Aceh Timur, kasus OTT atas pungli di Disdikbud Aceh Barat, dan korupsi pengadaan e-learning di Aceh Barat Daya (dana otsus).

MaTA meminta supaya komitmen pemberantasan korupsi oleh aparat penegak hukum jangan hanya “hiasan bibir”. Namun harus ditunjukkan dengan aksi dan penuntasan kasus. Kemudian penuntasan tidak hanya ada tingkat operasional, tapi harus mengejar aliran dana dan aktor di belakangnya. “Di Aceh aktor-aktor utama korupsi itu umumnya terselamatkan, apalagi jika ia pejabat negara yang masih aktif,” tandas Alfian.

Ya, kita sangat mengapresiasi para aktivis LSM yang begitu rajin menginvestigasi kasus-kasus dugaan penyelewengan dana di Aceh. Kemudian, kita juga sependapata dengan mereka bahwa pemberantasan korupsi di Aceh harus dilakukan secara lebih tegas dan lebih serius lagi.

Tegas artinya haris lebih berani menindak siapapun yang menjadi aktor intelektual di balik setiap kasus korupsi. Dan, serius yang kita maksud adalah setiap kasus yang ditangani hendaknya sampai ke meja hijau, jangan sampai ada yang macet di tingkat penyidik.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved