Kritisi Alih Jenjang DIII Kebidanan ke S1 Keperawatan, LSM Geumaseh: Bidan dan Perawat Beda Tupoksi

Penerimaan mahasiswa alih jenjang D-III Kebidanan ke S1 Keperawatan ini adalah upaya menghalalkan segala cara untuk mengkomersilkan dunia pendidikan.

Kritisi Alih Jenjang DIII Kebidanan ke S1 Keperawatan, LSM Geumaseh: Bidan dan Perawat Beda Tupoksi
Foto kiriman warga
Surat Rektor Unaya kepada Dekan FK Unaya terkait Konversi Nilai 

SERAMBINEWS.COM – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Geumaseh mengkritisi kebijakan penerimaan mahasiswa alih jenjang D-III Kebidanan ke S1 Keperawatan, khususnya di Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama (Unaya).

Karena kebijakan ini terkesan sebagai upaya menghalalkan segala cara untuk mengkomersilkan dunia pendidikan.

"Kebijakan ini harus segera dihentikan. Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama jangan hanya berpikir untuk mendapatkan mahasiswa sebanyak-banyaknya, sehingga harus menghalalkan segala cara," kata Fahmy M Al Asyi, Ketua Bidang Teknologi dan Informasi Publik di LSM Geumaseh, melalui siaran pers, Jumat (18/1/2019).

Baca: VIDEO - Kasus Pasien Meninggal Setelah Disuntik, Polisi Tetapkan Dua Honorer Jadi Tersangka

Baca: Perawat yang Suntik Pasien tak Miliki STR

Baca: 13 Perawat Dilarang Bertugas

Menurut Fahmy, meskipun profesi perawat dan bidan sama-sama rumpun profesi kesehatan, tetapi keduanya tidak bisa disamaratakan.

Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama tidak bisa menerima apalagi meluluskan bidan untuk menjadi perawat.

"Ketika bidan dipaksakan untuk menjadi perawat, ini akan bertentangan dengan Pasal 11 UU Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan. Karena tupoksi kerja antara perawat dan bidan itu  berbeda," ungkap Fahmy.

Pihaknya meminta kepada Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama untuk tidak mencampur-aduk kedua profesi ini. “Jangan hanya mengejar kuantitas, tetapi kualitas lulusannya diabaikan,” katanya.

Baca: Fachrul Jamal Dekan FK Unaya

Baca: Unaya Wisuda 346 Lulusan, Ini Nama-nama Wisudawan Terbaik Tahun Ini

Karena menurutnya, hal ini (Lulusan D-III Kebidanan diterima masuk S1 Keperawatan) bisa sangat merugikan pihak mahasiswa. Karena berpotensi ijazahnya tidak bisa dipergunakan. “Apalagi kelulusan mahasiswa kesehatan itu juga diperketat dengan uji kompetensi," Imbuhnya.

Dari penelusuran LSM Geumaseh, selama ini persentase tingkat kelulusan uji kompetensi mahasiswa keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama sangat rendah. Periode Oktober lalu, misalnya, tingkat kelulusan hanya berkisar diantara 38.7%.

Selain itu, ada lulusan mahasiswa Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama yang tidak lulus uji kompetensi hingga sekarang. “Bagaimana mahasiswa dari profesi berbeda (bidan) bisa lulus uji kompetensi perawat? Sedangkan mahasiswa dari jalur reguler saja persentase kelulusan uji kompetensinya sangat kecil," tukas Fahmy.

Baca: Menristekdikti Lantik Kepala dan Sekretaris LL-Dikti Aceh

Baca: Belasan Desa tak Miliki Bidan

Fahmy mengatakan, temuan ini secepatnya akan dilaporkan ke LLDIKTI Wilayah XIII Aceh, serta ditembuskan kepada AIPNI Regional I dan DPW PPNI Aceh, untuk segera ditindaklanjuti.

Sebelumnya, pada akhir tahun 2018 lalu, LSM Geumaseh juga telah melaporkan STIkes Bumi Persada Lhokseumawe dengan kasus yang sama, yakni menerima mahasiswa alih jenjang D-III Kebidanan ke S1 Keperawatan.(*)

Penulis: Taufik Hidayat
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved