Plebisit UU Organik Bangsamoro

Senjata Bangsamoro Dilucuti, Tapi tak Dipotong (Bagian 4)

Dalam benak Moro, salah satu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang pria adalah dia menyerahkan senjatanya setelah berabad-abad (berjuang).

Senjata Bangsamoro Dilucuti, Tapi tak Dipotong (Bagian 4)
ANADOLU AGENCY/AHMET FURKAN MERCAN
Pemimpin Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Haji Murad Ibrahim berbicara kepada media menjelang referendum, di Sultan Kudarat, Filipina, Minggu (20/1/2019). 

SERAMBINEWS.COM - Ini adalah bagian keempat dari wawancara eksklusif Kantor Berita Turki Anadolu Agency, dengan Huseyin Oruc, Wakil Kepala Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH) yang berbasis di Istanbul.

Huseyin Oruc juga merupakan salah satu anggota tim internasional yang memantau proses perdamaian di Mindanao.

Wawancara eksklusif ini dilakukan berkaitan dengan pelaksanaan plebisit atau pemungutan suara semacam referendum untuk meloloskan UU Organik Bangsamoro atau Bangsamoro Organic Law (BOL).

Plebisit yang menjadi awal dari pembentukan wilayah Otonomi Bangsamoro ini akan dimulai di dua kota di wilayah Mindanao, Filipina, Senin (21/1/2018) hari ini.

Sementara putaran kedua akan diadakan pada 6 Februari di daerah lain di wilayah tetangga.

Pengantar dan wawancara eksklusif bagian pertama, kedua, dan ketiga, dapat dilihat pada dua link di bawah ini.

Baca: Plebisit UU Organik Bangsamoro Dimulai Besok, Begini Sejarahnya (Bagian 1 dari 6 Tulisan)

Baca: Sejarah Pendudukan AS dan Spanyol, Hingga Tergerusnya Populasi Muslim Moro (Bagian 2)

Baca: Komitmen Duterte, Presiden Filipina Keturunan Muslim dan Sahabat Nur Misuari (Bagian 3)

Pada bagian keempat wawancara ini, Huseyin Oruc menjelaskan tentang proses decommisioning atau penonaktifan angkatan bersenjata Front Pembebasan Islam Moro atau Moro Islamic Liberation Front (MILF).

Oruc menyebut ada yang istimewa dalam perjanjian damai antara elemen bersenjata di Mindanao dan Pemerintah Filipina.

Yaitu, semua badan bersenjata di wilayah itu akan meletakkan senjata mereka, tetapi tanpa menyerahkannya kepada pemerintah.

Hal ini berbeda dengan proses perdamaian di banyak tempat lain di belahan dunia, di mana kelompok gerilyawan menyerahkan senjata mereka kepada pemerintah dan kemudian dihancurkan dengan cara dipotong.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved