Citizen Reporter

Kisah Unik Sebuah Masjid di Sydney

SEBAGIAN Warga Negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Sydney, Australia, paham akan lokasi sebuah masjid

Kisah Unik Sebuah Masjid di Sydney
IST
IDHAM CHALID

OLEH IDHAM CHALID, Peserta Program Pertukaran Pemuda Muslim Indonesia-Australia, melaporkan dari Sydney, New South Wales, Australia

SEBAGIAN Warga Negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Sydney, Australia, paham akan lokasi sebuah masjid yang berada di Jalan 12 South Creek RD, Dee Why NSW, 2099. Pasalnya, masjid tersebut termasuk salah satu masjid yang terbesar dan dapat menampung 500 orang bahkan lebih jamaah, terkhusus warga Indonesia yang tinggal di Suburb Dee Why saat ini.

Jauh sebelum ada masjid, warga muslim Indonesia harus menyewa salah satu ruangan gereja sebagai tempat beribadah. Setiap hendak shalat Jumat, umat Islam khususnya warga Indonesia, saling berpatungan untuk menyewa ruangan gereja, dan pastinya ruangan tersebut sudah dibersihkan dari segala ornamen gereja, begitu informasi yang saya dapat dari masyarakat muslim setelah beberapa bulan saya berada di Sydney.

Aktivitas menyewa ruangan gereja itu dilakukan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya para anggota komunitas muslim Dee Why pun berinisiatif mengumpulkan dana untuk memiliki rumah ibadah sendiri, supaya dapat mewujudkan kenyamanan saat melakukan ibadah, terutama mendirikan shalat berjamaah lima waktu.

Tepat pada 1989, komunitas muslim Sydney akhirnya melihat sebuah gereja tua dijual karena sudah tak lagi digunakan sebagai tempat ibadah. Ada Gereja Kristen Protestan yang menaruh plang dijual. Sebuah gereja tua yang bangunannya terbuat dari papan dan sudah ditinggalkan oleh jemaatnya. Bermodal uang kas AUD 180 ribu atau setara Rp 1,85 miliar, maka bangunan tersebut pun berhasil dibeli. Faris Bawazeer selaku presiden mesjid menceritakan awal didirikannya Masjid Dee Why ini kepada saya, Jumat lalu.

Akan tetapi, menurutnya, setelah dibeli masjid tersebut belum bisa menampung banyak jamaah. Bekas gereja itu perlu dipugar. Tapi yang terpenting pada saat itu masyarakat muslim sudah bisa menyelenggarakan shalat Jumat dengan jamaah minimal 40 orang.

Seiring berjalannya waktu, komunitas muslim Indonesia Dee Why kembali menggalang dana untuk merenovasi bangunan agar bisa memuat jamaah lebih banyak lagi. Alhamdulillah, berbekal penggalangan dana AUD 20 (sekitar Rp 210 ribu -red) per minggu dari setiap jamaah, akhirnya pada tahun 2000 mulai dibangun masjid yang lebih representatif dan pada tahun itu juga masjid tersebut sudah mulai bisa digunakan.

Kini, masjid dengan bangunan permanen dua lantai yang luas tanahnya 800 meter persegi itu bisa dinikmati leluasa oleh warga muslim di Sydney. Bukan hanya warga Indonesia, tapi umat Islam dari berbagai negara yang telah menetap di Sydney pun ikut beribadah di Masjid Dee Why. Beberapa di antara jamaahnya adalah warga Lebanon, Turki, Bangladesh, dan lain-lain.

Di masjid ini pula sejumlah aktivitas dakwah rutin dilakukan setiap harinya. Ada Sekolah Alquran yang diperuntukan bagi anak-anak hingga dewasa, ada pula kelas Alquran untuk ibu-ibu.

Kegiatan lainnya adalah tablig akbar. Selama empat tahun terakhir, komunitas Masjid Dee Why di bawah kepengurusan Fariz Bawazer ini sudah banyak mendatangkan ustaz kondang dari Indonesia

Yang tak kalah menarik, komunitas Masjid Dee Why ini melakukan pelatihan olahraga berkuda dan memanah. Mengikuti ajaran dan pribadi Nabi Muhammad saw. Tentu kegiatan ini mengajarkan generasi pemuda muslim dengan olahraga- olahraga yang disukai Rasulullah yang tiap sepekan sekali juga para remaja mengadakan perkemahan guna mengikat ukhuwah dan terjalinnya keeratan silaturahmi.

Manfaat masjid ini sendiri adalah di momen setiap Idulfitri atau Iduladha, pengurus masjid memberikan sedikit bingkisan kepada warga nonmuslim di sekitaran masjid, khususnya para orang tua atau jompo. Mereka mengaku sangat berterima kasih atas kegiatan ini.

Dampaknya, warga sekitar mau memberikan toleransi kepada warga muslim untuk beribadah di Masjid Dee Why, Bahkan ikut menjaga mobil milik jamaah saat beribadah di sana. Jika ada warga yang komplain karena merasa terganggu dengan keberadaan masjid, terutama mobil yang terparkir di depan rumahnya, maka negara bisa mencabut izin masjid pada masa percobaan beberapa waktu lalu, namun hal tersebut tidak terjadi karena kebaikan dan pengelolaan yang baik yang dilakukan warga muslim Indonesia di Sydney terhadap masjid dan warga nonmuslim sekitar

Bahkan, ketika ada aksi pemasangan pamflet yang menghina agama Islam, justru warga di sekitar Masjid Dee Why ini yang memberitahukan kepada pengurus masjid dan yang turut pula menjelaskan bahwa umat Islam adalah orang baik, Masjid Dee Why tersebut juga telah menjadi saksi bisu atas sebelas warga lokal yang menjadi mualaf. Banyak di antara mualaf tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid ini atas kesadaran sendiri, tapi ada pula mualaf yang masuk Islam karena alasan pernikahan.

Terkahir, saya berharap masjid-masjid kita di Indonesia, terutama di Aceh, tempat kelahiran saya, juga mampu mendatangkan kedamaian bagi siapa pun jamaah yang hadir untuk beribadah, tidak hanya berpatokan pada prinsip satu kelompok saja, karena Islam itu adalah rahmatan lil alamin, pembawa kedamaian dan kenyamanan bagi seluruh hamba dan makhluk Allah lainnya. Bukan hanya sekadar masjid yang berdiri megah dan besar-besar, akan tetapi harusnya yang dipenuhi jamaah yang khusyuk melakukan shalatnya dan juga melakukan berbagai kegiatan ibadah lainnya. Dengan cara inilah kita memakmurkan masjid. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved