Salam

Kekerasan terhadap Wanita Harus Dicegah Secara Serius

Tanggal 8 Maret selalu diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day)

Kekerasan terhadap Wanita Harus Dicegah Secara Serius
SEORANG wanita menggenggam batu saat bentrok dengan pasukan keamanan dalam demo Peringatan Hari Perempuan Internasional, menentang pagar pembatas Israel di pos pemeriksaan Qalandia, antara Ramalah dan Jerusalem, Sabtu (7/2). AFP / ABBAS MOMANI 

Tanggal 8 Maret selalu diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Tahun ini, di Banda Aceh, para wanita aktivis, mahasiswa, dan politisi menggelar aksi damai yang melibatkan aktivis, politisi dan mahasiswa Aceh mengangkat tema melawan kekerasan seksual dan mewujudkan pemilu bersih. Pertanyaannya, bagaimana mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan apa pula kendalanya?

Berberaopa waktu lalu, satu lembaga internasional menanyai banyak wanita di di beberapa negara untuk menjawab pertanyaan itu. Jawabannya antara lain, ada yang menyelahakan kaum perempuan karena tak menjaga tingkah lalu dan penampilan. Banyak perempuan di media sosial dan ruang publik tampil genit dengan pakaian minim. Hal ini dianggap sebagai salah satu pemancing aksi kekerasan atau pelecehan seksual terhadap kaum wanita.

Sedangkan seseorang yang pernah menjadi korban kekerasan seksual tidak membela diri secara langsung atas tudingan bahwa wanita suka “memancing” birahi pria, tapi ia malah mendorong para wanita yang pernah dilecehkan untuk bangkit dan tidak minder. “Untuk para korban kekerasan, siapapun dirimu, kamu tidak salah, kamu tidak sendirian, dan kamu memiliki kekuatan. Banyak orang yang peduli dan sayang sama kamu. Saya yakin kamu bisa melewati ini semua,” kata seorang wanita bule muda.

Di Indonesia, kekerasan terhadap perempuan memang harus segera ada upaya yang serius untuk meredamnya. Sebab, dari tahun ke tahun, menurut catatan Komnas Perempuan, kekerasan seksual masih menjadi momok paling mengerikan pada daftar kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebagai contoh, lima tahun lalu (2014), dari 3.860 kasus kekerasan pada perempuan di ranah komunitas, sebanyak 2.183 kasus atau 56%-nya adalah kasus kekerasan seksual berupa perkosaan, pencabulan, pelecehan seksual, dan paksaan berhubungan badan.

Kemudian, pada tahun 2017 ada catatan yang mengerikan lagi, yakni terdapat angka kekerasan terhadap anak perempuan 2.227 kasus (padahal di tahun 2016, cuma 1.799 kasus), dan dari kasus kekerasan itu, ada 1.200 kasus incest. Masih di 2017, ada lebih dari 5.000 kasus kekerasan terhadap istri yang dilaporkan ke lembaga pemerintah seperti polisi atau ke lembaga penyedia layanan seperti rumah sakit. Selain itu, ada lebih dari 2.000 kasus kekerasan dalam pacaran yang dilaporkan.

Catatan itu termasuk di antaranya kasus-kasus yang terjadi di Aceh yang jumlahnya juga tidak sedikit. Oleh karenanya, di Hari Perempuan Internasional ini kita mendukung lahirnya usaha-usaha serius terutama dari pemerintah untuk menekan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, bukan hanya di Aceh, tapi di mana pun!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved