Citizen Reporter

Syevlilik, Tradisi Menyambut Bulan Rajab di Konya

JIKA Indonesia memiliki Aceh sebagai daerah dengan ikon Serambi Mekkahnya, Turki juga memiliki Konya sebagai kota yang terkenal akan peradaban

Syevlilik, Tradisi Menyambut  Bulan Rajab di Konya
IST
MAWADDAH IDRIS, alumnus Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala, sedang menempuh Studi Magister Jurusan Jurnalistik di Konya, melaporkan dari Anatolia, Turki

MAWADDAH IDRIS, alumnus Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala, sedang menempuh Studi Magister Jurusan Jurnalistik di Konya, melaporkan dari Anatolia, Turki

JIKA Indonesia memiliki Aceh sebagai daerah dengan ikon Serambi Mekkahnya, Turki juga memiliki Konya sebagai kota yang terkenal akan peradaban dan pariwisatanya yang islami. Walaupun sekulerisme telah berbaur dalam kehidupan masyarakatnya, tapi penduduk lokal Konya hingga kini masih kental dalam menanamkan nilai-nilai islami serta adat budaya setempat.

Jadi, tidak mengherankan jika daerah yang berada di jantung Kota Anatolia yang telah lahir sejak abad ke-10 di bawah kepemimpinan Dinasti Seljuk ini mendapat penghargaan sebagai Ikon Kota Pariwisata Islami Dunia oleh Organization of Islamic Cooperation (OIC) pada Maret 2016.

Menariknya, masyarakat yang berdomisili di kota ini juga tak pernah lupa pada sejarah kejayaan Islam beratus tahun silam. Hal ini tercermin dari beberapa adat budaya yang masih mereka terapkan. Salah satunya adalah menggelar sebuah festival yang dilaksanakan 60 hari sebelum menyambut kedatangan bulan Ramadhan, Tradisi ini dinamakan dengan syeflilik, biasanya dilakukan pada hari pertama bulan Rajab.

Masyarakat Konya juga manamakan hari ini sebagai hari Shalat Pertama. Mengingat pada bulan Rajab pula peristiwa Israk Mikraj terjadi dan perintah untuk shalat turun pada peristiwa tersebut.

Berdasarkan pengalaman masyarakat setempat terdahulu, tradisi ini diterapkan pada malam pertama bulan Rajab. Pada malam tersebut, anak-anak, pemuda, dan seluruh penduduk desa berkumpul untuk menyalakan lampion, lalu diterbangkan. Seiiring perjalan waktu dari generasi ke generasi tradisi ini terus dipertahankan dan menjadi adat budaya setempat oleh pemerintah Kota Konya. Bekerja sama dengan penduduk lokal setempat Pemerintah Konya membangun sebuah area taman yang luas yang berada tak jauh dari sentral kota atau yang lebih dikenal dengan Kultur Park.Disanalah festival syeflilik dilaksanakan. Taman Kota ini dirancang sedemikian rupa dengan area yang sangat luas dan di tengah taman, terdapat pula panggung permanen yang dikelilingi oleh tangga melingkar sebagai tempat duduk bagi penonton.

Acara ini merupakan tradisi spesial di hati masyarakat penduduk lokal. Masyarakat yang terpanggil hatinya tentu sangat antusias menyaksikan syeflilik sebagai bentuk rasa kebahagiaan dan rasa syukur mereka menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Acara ini juga banyak menarik perhatian masyarakat luar, turis, dan mahasiswi foreigners seperti saya. Daya tarik tersebut terletak dari antusias masyarakat lokal yang masih mempertahankan tradisi ini serta ribuan lampion-lampion yang diterbangkan di langit, menambah kesyahduan malam.

Acara ini dimulai seusai waktu maghrib dan dibuka dengan pembacaan Kalamullah Alquran lalu dipandu oleh seorang pembawa acara yang memakai baju tradisional ala masyarakat Konya dahulu. Mayoritas penonton acara ini dalah keluarga. Dari balita hingga lansia. Acara ini juga dimeriahkan oleh beberapa pemain teater terkenal yang mengambil peran sebagai tokoh yang ada di dalam cerita rakyat Turki.

Konten informasi dan pengetahuan yang disampaikan merupakan sirah Nabawiyah yang ceritanya dikolaborasi dengan budaya setempat. Mirip dengan ceramah maulid di Aceh, tapi di Konya diisi oleh para pemain teater lengkap dengan kostum khas Turki. Acara ini juga dilengkapi dengan pertunjukan atraksi sulap, pertunjukan musik tradisional Turki dan ditutup dengan penerbangan lampion ke udara.

Tradisi ini tidak berhenti di malam hari saja, pada pagi hari pun dilanjutkan oleh pemburu cokelat dan permen. Selepas subuh, anak-anak berkumpul berjalan mengunjungi dari satu rumah ke rumah yang lain dengan tujuan agar si pemilik rumah membagikan cokelat atau permen kepada mereka. Anak-

anak akan menjelajahi kampung, mengetuk pintu ke pintu hingga tiba waktu zuhur. Setelah berkunjung ke rumah para tetangga, mereka pulang ke rumah masing-masing dan bersilaturahmi dengan orang yang dituakan, menyalami dan mencium tangan ayah dan bunda sebagai tanda kemualian bagi mereka.

Selain diperingati sebagai hari menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, tradisi syeflilik juga diterapkan sebagai upaya edukasi nilai sejarah tentang turunnya shalat lima waktu kepada anak-anak.Di hari spesial ini, kita juga akan sering mendengar bila seseorang berpapasan orang akan mengucapkan selamat hari bulan Rajab, semoga berkah dan ada juga yang mengucapkan Namaz|n mübârek olsun yang artinya kurang lebih semoga di hari turunnya perintah shalat ini membawa berkah. < mhaluck@gmail.com>

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved