Sabtu, 16 Mei 2026

Opini

Terorisme tak Bisa Bendung ‘Cahaya Islam’

TEROR yang membunuh puluhan jamaah Jumat (15/3/2019) di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru

Tayang:
Editor: bakri
Kolase Daily Mail
Geng jalanan Selandia Baru akan berjaga saat solat jumat nanti (Kolase Daily Mail) 

Oleh Teuku Zulkhairi

TEROR yang membunuh puluhan jamaah Jumat (15/3/2019) di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, merupakan bentuk kebencian pelakunya kepada ajaran Islam (Islamofobia). Pelakunya, Brenton Tarrant, penganut supremasi kulit putih, khawatir jika cahaya Islam akan semakin menerangi dunia, termasuk Selandia Baru. Tapi tentu ini bukan kali pertama umat Islam menjadi korban kebengisan para teroris kafir.

Sebelumnya, banyak fakta yang menjelaskan bahwa negara-negara Barat terlibat dalam sejumlah tindakan terorisme di negeri-negeri muslim yang disponsori para pemimpin mereka, dengan berbagai alasan dan kebohongan. Mereka datang ke negeri-negeri muslim memerangi dan memporak-porandakan negeri-negeri muslim seperti di Suriah, Afghanistan, Irak, dan lain-lain. Maka benarlah ayat Allah Swt, “Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj: 8).

Pada faktanya, di berbagai negeri-negeri ini sangat banyak masjid-masjid yang hancur diterjang rudal-rudal mereka. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menciptakan distablitas di negeri-negeri tersebut sehingga mereka selalu dapat mengintervensi kapan saja. Tidak jarang juga Barat merekayasa kekacauan dan kudeta di negeri-negeri muslim ketika masyarakat muslim memercayakan negeri mereka dipimpin orang-orang baik melalui jalur Pemilu seperti yang penah terjadi Mesir, Al Jazair, Palestina, dan sebagainya.

Barat sangat keberatan jika negeri-negeri muslim hidup dalam kedamaian dan ketenteraman. Maka tidak hanya intervensi secara militer dan dukungan atas tindakan kudeta, mereka juga menciptakan para pemimpin boneka di negeri-negeri muslim untuk menindas rakyatnya sendiri. Tentara-tentara yang direkrut para pemimpin boneka tidak difungsikan untuk menjaga negeri mereka dari ancaman asing, melainkan untuk menakut-nakuti rakyatnya sendiri. Jadi demikian jauh Barat terlibat dalam kekacauan-kekacauan di negeri-negeri muslim.

Dan kini, kita kembali tersayat menyaksikan puluhan umat Islam dibantai di dalam masjid. Luka kita kembali menganga. Perih. Dan kita semakin perih menyaksikan respons media-media di Eropa yang tidak serentak menyebut tindakan itu sebagai terorisme. Hanya beberapa pemimpin mereka yang mengecam. Fakta ini menunjukkan bahwa Eropa menaruh kebencian yang mendalam kepada Islam.

Di Swiss, sebanyak 57% menolak pembangunan menara masjid, dan di Inggris 53% menganggap bahwa Islam adalah bahaya itu sendiri. Survei lainnya menyebutkan bahwa empat dari 10 orang Perancis dan Jerman melihat muslim yang tinggal di negara mereka sebagai ancaman. Demikian hasil jajak pendapat yang diterbitkan oleh Surat kabar Prancis, Le Monde sebagaimana dikutip situs merdeka.com.

Fakta ini menunjukkan kebenaran ajaran Islam bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada umat Islam sebelum kita mengikuti kita mengikuti agama mereka. Allah Swt berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120).

Universal dan integral
Tapi bisakah upaya semacam itu menjauhkan masyarakat Barat dari Islam? Islam adalah agama yang agama yang paling sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Ajarannya universal dan integral. Prinsipinya fleksibel dan memahami realitas. Islam merupakan agama langit yang memahami karakter penduduk bumi. Rasulullah saw bersabda, “Islam adalah agama yang tinggi. Dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian agama Islam.” Maka semakin cerdas masyarakat Barat niscaya akan semakin tertarik mereka kepada ajaran Islam.

Tidak sedikit ilmuan Barat yang kemudian masuk Islam setelah merasakan keindahan dan kebenaran ajaran Islam. Kita mengenal ilmuan seperti Maurice Bucaille dikenal sebagai ilmuwan yang meneliti jasad Fir’aun. Jacques-Yves Cousteau yang masuk Islam setelah memahami penjelasan Islam dalam surat ar-Rahman tentang dua jenis mata air di laut dan tidak pernah bercampur antara keduanya.

Kemudian, ada ilmuwan AS, Fidelma O’Leary yang menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak, kecuali saat seseorang melakukan gerakan sujud dalam shalat seperti yang dilakukan umat Muslim (okezone.com). Selain itu, juga terdapat sosok Arnoud van Doorn yang tadinya begitu membenci Islam, lalu kemudian memeluk Islam. Politisi Belanda yang pernah membuat film fitna untuk mendiskreditkan umat Islam masuk Islam justru saat ia begitu semangat menulis buku anti Islam.

Maka sesungguhnya upaya apapun tidak akan bisa membendung cahaya Islam di seluruh penjuru dunia. Islam adalah agama yang apabila ajarannya diimplementasikan maka akan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Tekanan dan tindakan apapun yang dilakukan kepada muslim di mana saja, hanya akan membuat umat Islam semakin mencintai agamanya.

Terorisme dalam bentuk apapun yang dilakukan kepada umat Islam niscaya akan menjadikan Islam sebagaimana agama yang paling yang banyak dikaji. Dan ini sesuai dengan janji Allah Swt, “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32).

Pada faktanya, berkali-kali tindakan terorisme menimpa umat Islam, baik di Eropa maupun di negeri-negeri umat Islam sendiri, namun ajaran Islam justru semakin menjadi mercusuar yang menerangi dunia. Pertumbuhan dan populasi umat Islam semakin tak terbendung. Di Jerman misalnya, Islam menjadi agama terbesar kedua di negara tersebut dengan jumlah penganut mencapai 4,7 juta orang (5,7%) dari total populasi Jerman sebesar 83 juta jiwa (Republika.co.id).

Di Inggris, kini Islam juga menjadi agama terbesar kedua. Begitu juga di Kanada, yang menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang mengalami perkembangan paling pesat di dunia. Maka inilah bukti bahwa Islam merupakan agama yang paling sesuai dengan fitrah manusia. Bahwa meskipun terus ditekan, namun Islam justru semakin berkembang dan menarik perhatian banyak manusia di atas muka bumi untuk mempelajarinya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved