Citizen Reporter

Tujuh Daya Tarik Pelayanan Publik Istanbul

MENDAPATKAN kesempatan untuk melanjutkan studi di Marmara University telah membuka peluang baru bagi saya

Tujuh Daya Tarik Pelayanan Publik Istanbul
IST
M ZAWIL KIRAM

OLEH M ZAWIL KIRAM, alumnus Prodi Sosiologi FISIP Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, kandidat Magister Sosiologi pada Marmara University, melaporkan dari Istanbul, Turki

MENDAPATKAN kesempatan untuk melanjutkan studi di Marmara University telah membuka peluang baru bagi saya untuk mengeksplor lebih dalam aspek sosial budaya masyarakat Turki, khususnya di Istanbul. Kota yang pernah menjadi pusat Kekaisaran Ottoman selama lebih kurang 16 abad ini sampai sekarang masih aktif menjadi pusat perekonomian, budaya, dan sejarah bagi negara tersebut sehingga tidak heran jika kita mendapati Istanbul sebagai kota terpadat/tersibuk di Turki.

Di awal bulan pertama sejak kedatangan saya di Turki tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum kelas Tomer (kursus bahasa Turki) dimulai, terutama terkait dengan administrasi. Hal ini membuat saya harus berurusan dengan berbagai kantor pemerintahan di negeri dua benua ini, baik untuk mengurus izin menetap (Ikamet), asuransi, administrasi di universitas, dan aktivitas yang berkaitan dengan sektor publik lainnya.

Sebagai kota terbesar dan pernah menjadi pusat peradaban dunia, Pemerintah Kota Istanbul sangat memperhatikan pelayanan publik bagi warganya. Hal ini dapat dilihat dari segi pelayanan yang diberikan oleh setiap instansi yang ada di kota ini. Lembaga-lembaga sosial yang memiliki peran dalam melayani masyarakat diwajibkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi warga setempat, baik pelayanan administratif, barang, maupun jasa.

Tak hanya itu, yang membuat saya tertarik mengkaji pelayanan publik di negera ini adalah saya menemukan adanya unsur sapta pesona (keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramahan, dan kenangan) di setiap instansi yang telah saya kunjungi. Di Indonesia sendiri Sapta Pesona merupakan bagian penting dari industri pariwisata, tapi jarang sekali kita temukan penerapannya dalam pelayanan publik. Sangat berbeda halnya dengan Turki.

Segala bentuk pelayanan publik di Turki seperti terdorong oleh besarnya cinta kepada negara yang sudah tertanam sejak anaokul (TK) atau ilkokul (sekolah dasar). Setiap pemimpin melakukan pekerjaan atas dasar kecintaan. Hal menarik lainnya yang dapat kita temukan di Istanbul adalah tatanan kota yang teratur serta sangat mendukung perkembangan masyarakatnya.

Segala kebutuhan masyarakat di kota ini dilayani dengan baik, seperti penyediaan air bersih, sumber listrik, transportasi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Di Istanbul, perbaikan jalan dilakukan setiap enam bulan sekali, tak peduli apakah ruas jalannya sudah rusak atau belum.

Tidak hanya itu, sistem transportasi yang terintegrasi serta selaksa taman yang disapu setiap hari membuat kota yang hanya dipisahkan oleh Selat Bosporus dengan Benua Eropa ini terlihat semakin memesona.

Keberhasilan pelayanan publik di kota ini ditentukan oleh dua pihak, yaitu birokrasi (pelayan) dan masyarakat (yang dilayani). Organisasi publik di sini mempunyai ciri public accountability, yaitu setiap warga negara mempunyai hak untuk mengevaluasi kualitas pelayanan yang mereka terima. Sangat sulit untuk menilai kualitas suatu pelayanan tanpa mempertimbangkan peran masyarakat sebagai penerima pelayanan. Evaluasi yang berasal dari pengguna pelayanan merupakan elemen pertama dalam analisis kualitas pelayanan publik.

Dari realitas ini saya rasa penerapan pelayanan publik di Turki sangat inspiratif. Pemerintah dan masyarakat Indonesia perlu belajar dari Turki terkait budaya kerja dan pelayanan publik. Masyarakat kita harus mampu memainkan perannya sebagai evaluator dan harus memiliki keberanian untuk menyampaikan kualitas pelayanan yang mereka terima dengan tujuan perbaikan ke depan. Begitu pula dengan pemerintah yang bermain di birokrasi, pemimpin kita tidak boleh hanya bertindak sebagai agent of change (pembawa perubahan), tapi juga harus bertransformasi jadi agent of services (pemberi layanan) sehingga tatanan kehidupan sosial dapat dicapai dengan baik.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved