Opini

Ramadhan Plus  

Marhaban Ya Ramadhan! Setiap memasuki bulan Ramadhan ucapan ini hampir saban tahun menghiasi setiap halaman muka media di Aceh

Ramadhan Plus   
IST
DRS. SYARKAWI, M.ED Kepala Bapel-KKM Universitas Almuslim Bireuen

DRS. SYARKAWI, M.ED
Kepala Bapel-KKM Universitas
Almuslim Bireuen

Marhaban Ya Ramadhan! Setiap memasuki bulan Ramadhan ucapan ini hampir saban tahun menghiasi setiap halaman muka media di Aceh, bahkan dunia yang mayoritas penduduknya muslim, juga tidak ketinggalan berbagai baliho dan spanduk yang dipasang sepanjang jalan protokol baik yang dipasang panitia mesjid, pemerintah maupun oleh perusahaan swasta.

Hadirnya slogan tersebut tentunya berkaitan erat dari isi firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa”.(Q.S. Al-Baqarah:183).

Berdasarkan ayat di atas bahwa bagi umat Islam untuk meraih pangkat taqwa tidaklah mudah, akan tetapi bukan tidak mungkin dapat diperoleh oleh seseorang, asalkan tunduk dan patuh pada “Amar ma’ruf dan nahi munkar”. Tentunya dalam konteks puasa, seseorang harus dilalui oleh suatu proses sehingga ia bisa meraih gelar “taqwa”. Proses yang dimaksudkan di sini ialah proses membuat perencanaan dalam mengisi dan mengatur waktu.

Sepuluh awal dari Ramadhan sebagai “rahmah”, maka pada fase ini kita diharapkan untuk menjadikan star awal Ramadhan ini untuk bisa berjalan mulus dan sukses demi untuk melempangkan jalan memasuki fase selanjutnya dengan sempurna. Apabila fase ini berjalan tidak tuntas tentunya untuk menjalankan pada fase kedua akan terjadi ketimpangan.

Ibarat mahasiswa yang sedang kuliah apabila ada mata kuliah semester satu ada yang tidak tuntas tentunya harus menyempatkan waktunya untuk mengulang kembali pelajaran yang tertinggal, walaupun dia bisa melanjutkan ke semester selanjutnya, tetapi masih belum tuntas dan sempurna.

Lalu sepuluh di pertengahan sebagai “maghfirah” yaitu keampunan yang diberikan Allah merupakan suatu hal yang sangat diharapkan, karena tanpa keampunan-Nya, siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Hal ini tentunya kita harus benar-benar bertaubat kepada Allah swt sebagai “Taubatan Nashuha”.

Rahmad dan maghfirah dua hal yang sangat mulia disusuli dengan sepuluh akhir dari Ramadhan, yaitu “itqun minan naar”, yang sungguh luar biasa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya bagi yang melaksanakan ibadah puasa dan mengisi Ramadhan ini dengan berbagai kebijakan. Pantaslah Allah menjuluki orang-orang seperti ini sebagai orang-oarang yang bertaqwa.

Ibadah-ibadah sunat yang sebelum ini jarang kita lakukan, maka pada kesempatan ini kita tekuni dengan setekun-tekunnya. Ibarat petani, maka sepuluh akhir dari Ramadhan merupakan panen raya yang penuh berkah. Ibarat bahtera besar, penumpang harus mengisinya dengan barang-barang berharga.

Ibarat orang di perantauan, akan membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Dan ibarat investor akan menginvestasikan harta kekayaannya, agar kelak mendapat keuntungan di hari nanti.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved