Breaking News

Mengenang Tsunami

Rahasia di Balik Shalat Sunat Fajar

Di saat itulah saya kembali teringat pesan kakak saya lewat telepon tentang shalat sunat fajar

zoom-inlihat foto Rahasia di Balik Shalat Sunat Fajar
Khairul Fuadi

MENJELANG Shubuh,  26 Desember 2004, saya tinggal di rumah kost di kawasan lamprit dekat Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh. Waktu menunjukkan sekitar pukul 04.30 Wib ketika telepon seluler saya berdering,  waktu itu sudah terbiasa dengan telepon yang berdering di tengah malam sekalipun, karena saya waktu itu sedang menjalani co-assisten di Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSUZA) dan sedang menempuh program pendidikan dokter Unsyiah salah satu universitas terkemuka di Aceh.

Tapi saat itu saya sudah habis menjalani semua bagian di rumah sakit, boleh dibilang saya hanya menunggu ujian akhir saja, dan panggilan-panggilan darurat dari rumah sakit saat itu tidak ada lagi terhadap saya, makanya telpon menjelang Shubuh itu membuat saya heran. Jangan-jangan ada sesuatu berita dari kampung. Ternyata yang menelpon adalah kakak saya. Dia tidak pernah menelpon saya sebelumnya, apalagi pagi-pagi buta. Langsung saja saya angkat. Rupanya keadaan di kampung baik-baik saja dan semuanya dalam keadaan sehat, kakak saya hanya membangunkan saya agar bangun cepat pagi itu dan menyuruh saya melaksanakan shalat sunat fajar sebelum Shubuh.

Terus terang, waktu itu saya belum pernah sekalipun melakukan shalat sunat fajar, saya hanya mengiyakan kakak saya dan saling mendoakan semoga kita semua baik-baik saja di ujung telepon. Saya tidak ada firasat apa pun saat itu, saya langsung beranjak dari tempat tidur untuk mengambil air wudhuk dan langsung mendirikan shalat sunat fajar.

Selesai shalat saya berdoa semoga kami selalu diberi kebaikan dunia dan akhirat, selalu diberi kesehatan dan perlindungan di mana pun dan kapan pun kami berada. Lalu saya membangunkan adik saya untuk shalat Shubuh karena azan pun sudah terdengar. kemudian kami bersama-sama melaksanakan shalat Shubuh seperti biasa. Karena hari Minggu, selesai shalat Shubuh saya tidur kembali, saya terlelap kembali. Tiba-tiba sekitar jam 7.50 Wib terasa kepala saya pusing dan bergoyang, saya terbangun dan dalam sekejap saya berteriak "gempa....gempa..." Seketika seisi rumah kost yang saya tempati berhamburan berlarian ke luar rumah. Seumur hidup saya, inilah gempa terkuat, berguncang-guncang dan bergoyang dengan sangat kuat, rumah-rumah yang ada di sekeliling saya seperti mau rubuh, bahkan mobil pun bergoyang sangat kuat. Semua beristighfar, saya berpikir tanah di bawah saya duduk terbuka lebar karena bumi berguncang dengan hebat.

Hanya kepasrahan yang saya rasakan waktu itu sambil terus bertahlil dan beristighfar. Setelah 20 menit berlalu dan gempa pun berhenti sekitar pukul 08.10 Wib. Saya langsung berpesan kepada adik dan teman-teman saya, sebaiknya kita jangan di rumah dulu, kita keluar saja ke depan melihat suasana. Firasat saya mengatakan bahwa akan menyusul peristiwa yang lebih dahsyat lagi dari gempa pagi itu.

Semua mengiyakan dan kami masuk ke dalam rumah hanya untuk berganti pakaian dan segera ke depan ke Masjid Lampriek yang waktu itu kubahnya rubuh. Sekitar jam 8.25 kami melihat orang berlarian dari arah Lambaro Skep, sambil berteriak “Air, air laut naik... air laut! naik. Saya langsung teringat waktu itu pasti air lautnya sangat besar karena kawasan Lampriek termasuk jauh dari laut. Kami langsung berlairan menjauhi arah datangnya air laut.

Kami lari ke arah Simpang Surabaya dan akhirnya sampai di Masjid Lueng Bata. Di Lueng Bata ternyata sudah banyak orang yang mengungsi ke sini, termasuk korban-korban tsunami, ada yang dengan luka berat maupun ringan, ada juga yang patah-patah. Waktu itu jam sudah menunjukkan sekitar pukul 9.30 dan korban sudah begitu banyak di Lueng Bata. Melihat kondisi itu saya berinisiatif menolong korban semampu saya dibantu oleh teman-teman kost saya, kebetulan juga ada teman-teman satu coas di situ.

Saya meminta  bantu warga di situ untuk membawa tikar seadanya untuk menidurkan korban,  kebetulan ada seorang polisi di situ yang sedang merebahkan temannya, sepertinya temannya hanyut dari tsunami karena badannya basah dengan penuh lumpur, saya meminta tolong polisi tersebut mencari bahan obat-obatanan di puskesmas sekitar situ. Dia berhasil mendapatkan obat-obatan dan alat-alat medis, menurutnya dia mendobrak paksa pintu puskesmas karena katanya puskesmas tutup.

Syukurlah saya pikir, walaupun obat dan peralatan yang dibawa sangat terbatas setidaknya kami bisa membantu korban untuk sementara. Alhamdulillah juga ada adik kelas saya di tempat itu, dia sedang coas juga, dia mengatakan kalau dia ada persediaan obat-obatan sisa pengobatan massal dari salah satu acara sosial beberapa hari sebelum tsunami.

Korban yang luka berat dan patah saya suruh antar ke RS Fakinah dengan pickup terbuka dan dengan harapan RS ini tidak terkena air bah tsunami. Ternyata menurut teman saya yang mengantar pasien tersebut, di RS Fakinah korban sudah sangat banyak bahkan sampai di halamannya. Betul-betul hari itu sangat luar biasa jumlah korbannya.

Antara petugas dan korban sudah tidak sebanding lagi, apalagi mungkin petugas-petugas kesehatan juga ikut menjadi korban saat itu. Kembali ke mesjid lueng bata, akhirnya seharian kami di situ sampai malam hari dan kami  membantu semua korban semampunya, dibantu oleh dua orang teman saya yang kebetulan sedang coas juga dengan saya. Kami bertiga coas dan dibantu oleh teman kost saya waktu itu terus bekerja sampai larut malam, di bawah cahaya lilin membantu korban dengan peralatan seadanya, ada yang menjahit luka, menginfus pasien dan membersihkan luka-luka, memberi obat, semua korban saat itu di istirahatkan di dalam masjid.

Dari semua korban waktu itu di Masjid Lueng Bata 1 korban meninggal dunia pada malam harinya. Korban yg meninggal kami tidurkan di dalam masjid. Kami tidak bisa berbuat banyak. Karena kami tidak tahu apalagi yang mesti dibuat, karena semua rumah sakit lumpuh saat itu. Hanya kepasrahan kepada Allah saja yang bisa saya sampaikan kepada korban saat itu, kami sudah berusaha semampu kami selebihnya mohon bantuan kepada Allah. Gempa susulan kerap terjadi pada hari itu, gempa susulan ini termasuk agak kuat juga belum lagi disertai angin dan hujan lebat, semakin membuat kita saat itu tidak berdaya. Kami hanya bisa berdoa memohon ampunan dan diberi kesabaran untuk  melalui ini semua. 

Sekitar jam 01.00, Senin dini hari kami baru sempat beristirahat, di saat itulah saya kembali teringat pesan kakak saya lewat telepon tentang shalat sunat fajar, mungkin inilah hikmahnya kami diselamatkan oleh Allah dan bisa membantu banyak orang pada peristiwa pagi itu.

Saya sendiri baru bertemu keluarga di kampung (Krueng Geukuh) 4 hari kemudian dan alhamdulillah semua keluarga baik-baik saja, dan ternyata kakak saya yang menelpon tersebut juga mengalami tsunami di Krueng Mane, dia tinggal di Cot Seurani Krueng Mane, alhamdulillah semua keluarganya juga selamat.

Sungguh banyak hal di dunia ini yang menjadi rahasia Allah, kita tidak pernah bisa menebaknya dengan pasti. Hanya kepada-Nya lah kita selalu memohon petunjuk. Kepada semua korban tsunami kita berdoa supaya diberikan tempat yang layak di sisi-Nya, dan keluarga yg selamat diberi ketabahan dan kesabaran melewati musibah ini semua. Amin ya Rabbal'alamin.

Salam buat semua korban tsunami yang mengungsi ke masjid Lueng Bata saat itu dan terima kasih buat semua yang telah membantu korban tsunami saat peristiwa tersebut terjadi,  hanya Allah lah yang mampu membalas semua kebaikan yang pernah saudara-saudra lakukan, amin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved