Mengenang Tsunami
Tsunami di Sebalik Mimpi
“Peu Bala Keneuk Trok U Aceh” dia bercerita melihat dalam mimpinya semua daratan menjadi lautan, ribuan mayat-mayat memenuhi lautan itu
Kuala Lumpur, 28 Desember 2011.
MASA begitu pantas berlalu, musim begitu cepat berganti, kini sudah 7 tahun tsunami mengisi lembaran kenangan kita. Namun ingatan saya kepada peristiwa yang menyayat hati ini takkan terlupakan selamanya. Kisah duka lara yang tak dapat diungkapkan.
Begitu canggihnya teknologi, kita masih gagal menafsirkan “gelagat alam” dengan segala misterinya. Kadang-kadang makluk lain ciptakan Allah lebih cepat “menghidu” bahaya walaupun berbekalkan instinct (naluri) yang ada. Mereka sempat menyelamatkan diri ketika bencana terjadi, mengalahkan kecanggihan manusia dalam IT (information and Technology). Kita terbatas dalam membaca rahasia alam dan juga bahasa haiwan yang cuba memberitahu kita bahwa bencana besar akan datang melanda. Kalau kita renung dalam-dalam ini memberi makna yang cukup penting kepada kita betapa terbatasnya kita sebagai manusia. Betapa Kuasanya Allah menciptakan beragam makluk dengan segala keistimewaannya.
Sebenarnya yang ingin saya ceritakan di sini adalah tentang mimpi yang selalu kita anggap sebagai “bunga tidur”. Pada suatu malam yang hening ketika semua insan senang nyenyak tidur saya dikejutkan oleh suara : “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” berulang kali terdengar dengan nada yang semakin tinggi. Saya tersentak dan menyadari suara itu adalah suara suami saya yang sedang bermimpi. Saya sambil beristighfar cepat-cepat membangunkannya. Nampak raut wajahnya yang ketakutan dan badannya kedinginan. Lalu saya pun bertanya tentang mimpinya. Dia tidak terus menjawab soalan saya, tetapi terus menerus menyebut dan memuji Allah. Lalu dia berkata: “Peu Bala Keneuk Trok U Aceh” dia bercerita melihat dalam mimpinya semua daratan menjadi lautan, ribuan mayat-mayat memenuhi lautan itu. Dia juga menyaksikan ada beberapa buah perahu yang didalamnya terdapat beberapa orang yang sudah kurus-kering dan pucat-pasi menanti kematian. Keadaan sangat menyeramkan seperti gambaran kiamat yang tak pernah dilihatnya. Sayapun berhenti sejenak lalu teringat dengan cerita ibu dan almarhum bapakku tentang gempa kuat yang pernah melanda Aceh ketika saya belum dilahirkan. Tiba-tiba saya menjawab, “ mungkin Aceh akan dilanda gempa…, itu bencana yang pernah menimpa Aceh dulu….”.
Saya berdoa dalam hati supaya “Negeri Aceh” tempat saya dilahirkan diselamatkan dari segala malapetaka dan bencana. Apatah lagi saya, suami dan ketiga anak yang dilahirkan dan dibesarkan diseberang (Malaysia) masih menuntut ilmu disana yang sudah menjadi negeri kedua saya karena hampir separuh umur saya habiskan disana bersama suami dan 3 orang anak belahan jiwa. Shafiatun Naja (13 thn), Zakiah (12 thn) dan Ahmad Muharram (11 thn). Mulalah saya teringat akan ibu, seluruh anggota keluargaku, sanak saudara, handai taulan, dan seluruh rakyat aceh yang sudah lama menderita dalam konflik yang tak berhujung. Namun saya cuba menenangkan diri mudah-mudahan itu hanya permainan tidur dan selepas beberapa hari saya dah lupa dengan mimpi itu. Mimpi ini terjadi ketika beberapa minggu lagi tsunami akan berlaku.
Kesibukan harian saya sebagai seorang isteri, ibu, mahasiswa (S3) di ISTAC, University Islam Antara Bangsa, Kuala Lumpur Malaysia, cukup menyita waktu. Allah Maha Besar, Dia telah menganugerahkan saya seorang suami yang sangat memahami dan memberi dorongan setiap waktu. Hanya Allah yang tahu betapa banyak ujian yang harus saya dan suami lalui ketika saya harus mengambil 25 subjek sebanyak 75 kredit (termasuk 9 level Bahasa Arab). Namun dengan pertolongan Allah semua subjek berhasil diselesaikan dengan memuaskan Alhamdulillah. Tinggal menyelesaikan skripsi saja lagi.
Anehnya ketika beberapa hari lagi akan datangnya tsunami hati saya mulai resah, gelisah, tanpa saya tahu sebabnya. Saya mencoba memperbanyak bacaan al-Quran untuk menenangkan jiwa dan mencuba menghayati isi bacaannya terutama bacaan juzuk yang ke 30 karena disitu banyak surah yang menceritakan tentang kenikmatan syurga dan ancaman neraka. Cukup besar pengaruh pada jiwa. Tiba-tiba saya menerima SMS dari kakak kesayangan Zahriani yang ketika itu tinggal di Cot Paya. Isinya menceritakan tentang tingkatan-tingkatan syurga dan penghuninya. Saya merasa aneh mengapa tiba-tiba dia mengirim pesanan tersebut.
Anehnya lagi bapak saya yang sudah meninggal dunia pada tahun 1980 tiba-tiba datang dalam mimpi, dalam gelap gulita saya mendengar bapak sedang bercakap-cakap dengan kakakku dan membawa mereka pergi namun saya tidak tau berapa orang kakak yang dibawanya (kakak ada 3 orang), lalu saya sangat sedih karena bapak tidak mau membawa saya lalu saya menangis dan kecewa selepas menyadari bapak merahasiakan pertemuan dengan mereka. Selepas bapak pergi membawa kakak bersama, keadaan hening dan sunyi saya terjaga dan dengan linangan air mata.
Mimpi ini menambah lagi kegelisahan saya. Malam berikutnya saya bermimpi lagi, kali ini agak lain, nampak semua daratan menjadi lautan yang sangat luas dan dalam, tiada daratan sama sekali, saya ternampak ada sebuah feri kecil saja dilaut itu dan saya melihat semua penumpang berdiri penuh sesak, tiba-tiba saya nampak ibu berpaut di tepi feri itu sambil berdiri, lalu saya memanggilnya dan ingin membawanya pergi bersama. namun dia seakan-akan tidak mendengar panggilanku, sayapun menangis terisak-isak, lalu terjaga lagi-lagi dengan linangan air mata.
Ya Allah apa maksud semua ini?, adakah syaitan yang ingin mengganggu?. Sayapun cuba melupakan mimpi itu, mungkin fikiran saya kepenatan karena seharian menyelesaikan assignment (makalah) dan menghadiri kuliah.
Tiba-tiba rasa rindu kepada ibu dan segenap keluarga begitu menggamit perasaan dan saya ingin balik ke Aceh segera. Memang sudah 6 tahun saya tak balik karena kesibukan dan tugas di kampus yang tiada habis-habisnya. Dengan penuh bijaksana suami menyusun masa yang sesuai supaya boleh balek sekeluarga selepas hujung semester jadi tidak menimbulkan masalah dengan studi saya. Saya pun akur karena keputusan yang diambilnya untuk kebaikan saya dan keluarga juga.
Mimpi yang terlerai
Pagi Ahad, 26 Desember 2004, sebelum subuh suami telah keluar untuk menyampaikan kuliah subuh di sebuah masjid yang agak jauh dari tempat kami tinggal. Saya dan anak-anak shalat subuh berjamaah dan sebagaimana biasa anak-anak akan membaca al-Quran dan memahirkan hafadhan al-qurannya supaya jangan terlupa lagi mana-mana ayat yang sudah mereka hafal. Kemudian mereka baru meneruskan belajar pelajaran sekolah mereka masing-masing. Kesempatan untuk menonton TV hanya kami (saya dan suami) berikan 2 jam seminggu, satu jam pada hari sabtu dan satu jam pada hari Minggu. Boleh dikatakan “Tiada Hari tanpa Belajar”. Di ujung Minggu kami beri kesempatan kepada mereka berolah raga dan bermain dengan teman-temannya di taman berdekatan dan kadang-kadang kami bawa mereka berjalan-jalan sambil makan angin untuk menghilangkan tekanan selepas seharian belajar.
Selepas menyediakan sarapan pagi saya membuka TV3, betapa terkejutnya selepas diberitahukan dahsyatnya gempa dan tsunami di daerah Aceh. Ketika itu jam menunjukkan pukul 9:20 pagi (pukul 8:30 waktu Banda Aceh), bermakna baru 30 menit gempa dan tsunami berlaku. saya terus menghubungi semua anggota keluarga di Banda Aceh, semua tak ada sinyal. Lalu saya melihat suami sedang bergegas pulang ke rumah. Dia melihat saya sudah mula menangis dan badan saya menggigil ketakutan. Mulut saya terus memuji Allah memohon pertolonganNya supaya mereka semua selamat. Suami mencuba menenangkan saya, dia terus menghubungi kawan-kawannya.
Petangnya dia berhasil mendapat informasi bahwa daerah Cot Paya, Jeulingke, Punge, Krueng Raya dan sekitarnya semua terkena tsunami dengan ribuan korban yang bergelimpangan. Dan rumah beton dua tingkat kakak saya di Cot Paya rata dengan tanah. Selepas itu barulah saya memahami bahwa bencana ini cukup dahsyat.
Handphone saya mulai berderingan tak putus-putusnya, satu persatu professor dari ISTAC menelepon dan keluarga besar ISTAC lainnya. Ada syeikh yang sempat mengajari saya membaca doa untuk diberi kekuatan iman dan supaya Allah memberi ganti yang lebih baik atas apa yang telah diambil-Nya. Panggilan telepon dari kawan-kawan diberbagai negeri di Malaysia, dan luar negara seperti US, UK, Turki, Bangladesh, Oman, Bahrain, Singapura, dan Negara lainnya terus berdatangan. Disini saya merasakan indahnya nilai persahabatan yang sejati.
Seminggu selepas kejadian itu, barulah saya dapat mengetahui dengan pasti bahwa ibu saya dan 2 orang kakak saya yang berada di Krueng Raya selamat, anaknya ada yang terkorban. Saya sangat bersyukur ibu masih hidup, padahal dia sakit dan tenggelam dalam air di tingkat bawah rumah kakah saya yang hanya beberapa ratus meter dengan laut. Sedangkan Abang Sanusi sekeluarga yang ketika itu menginap di rumah ibu mertuanya di Punge sebelum berangkat menunaikan haji (direncanakan pada hari Isnin (Senin) keesokannya) pergi buat selama-lamanya. Kakak saya Zahriani sekeluarga di Cot Paya pun menerima takdir yang sama. Begitu pula dengan abang saya Zahrul Bawadi sekeluarga di Meulaboh, mereka pergi menghadap Ilahi.