Mengenang Tsunami

Tsunami di Sebalik Mimpi

“Peu Bala Keneuk Trok U Aceh” dia bercerita melihat dalam mimpinya semua daratan menjadi lautan, ribuan mayat-mayat memenuhi lautan itu

zoom-inlihat foto Tsunami di Sebalik Mimpi
klik unic.com

Sebulan selepas tsunami, kami berhasil mendapatkan tiket pesawat dari KL-Medan,  Pada hari raya Aidul Adha, kami sekeluarga selamat sampai di Banda Aceh selepas tersendat di kuala simpang dan Langsa karena banjir  menutupi jalan raya setinggi dada.

Meneruskan Hidup Selepas Tsunami
 
Selepas peristiwa tsunami saya  suka merenung dan jarang ketawa. Hampir 2 tahun saya tak suka ketawa dan tak suka melihat orang ketawa. Syukurnya, disebalik duka ada rasa gembira, semua subjek lulus dengan baik Alhamdulillah,  (inna ma’al ‘usri yusraa/ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan) al-Quran Surah al-Syarh ayat 6.

Semangatku untuk menulis skripsi menggebu-gebu, saya menghabiskan masa hampir sepuluh jam setiap hari dihadapan ratusan buku dan computer, anak-anak semua sudah bersekolah, mereka keluar dari pukul 7 pagi dan kembali pada pukul 7 malam ketika azan maghrib hampir berkumandang. Sekolah pun betul-betul didepan rumah. Mereka kami hantar pada dua sekolah Sekolah Rendah Kebangsaan dan Sekolah Rendah Agama. Waktu yang terluang ini saya gunakan sebaik-baiknya.
 
Jatuh Sakit

Namun …., duka lara tsunami tak pernah surut. Akhirnya saya jatuh sakit. Badan saya sangat lemah, tangan dan badan menggeletar seperti orang kelaparan yang berkepanjangan. Penapun tak sanggup saya genggam. Entah berapa orang Dokter pakar (spesialis) telah saya jumpa, hampir tiga puluh kali mereka mengambil sample darah saya untuk diperiksa, namun semuanya normal.  Rumah Sakit (University Malaya Medical Center Kuala Lumpur) menjadi rumah saya yang kedua, menggantikan kampus kuliah saya di Bukit Damansara, Kuala Lumpur.

Semua dokter mengesahkan saya menghadapi tekanan dan trauma.  Ada dokter menyarankan supaya saya berhenti dari S3, namun saya tidak bersetuju, bagaimana  saya mau berhenti: “Semua taufan dan Badai sudah berhasil saya lalui, walaupun saya masih berada dalam lautan, namun dermaga sudah mulai kelihatan dan saya tak akan  berpatah balik, biarkan saya untuk terus  mengayuh sampai ke titik terakhir hingga sampai ke daratan supaya segala derita berganti dengan gembira, tangisan berganti dengan senyuman.”

Akhirnya dokter terpaksa akur dengan tekadku. Dia membuat medical report yang lengkap untuk kukirim ke ISTAC yang mewajibkan saya untuk study leave selama 2 tahun dan melupakan sementara kesibukan saya di kampus. Saya juga bersyukur, Allah  telah menganugerahkan saya seorang suami dan 3 orang anak yang ikhlas, tabah, kuat, dan tidak pernah mengeluh menghadapi ujian Allah.  Ketiga orang anak saya  sudah pandai memasak  dan mengurus diri walaupun saya terbaring di tempat tidur. Mereka tak pernah bosan-bosannya melayan uminya yang sakit. Suami saya terpaksa mengambil alih tugas saya sepenuhnya. Kita redha saja pasti ada hikmah disebalik ujian hidup, kata suami sambil tersenyum. Ketika sakit, saya mengajari anak sambil berbaring karena badan terlalu lemah dan tak mampu duduk. Alhamdulillah, mereka bertiga berhasil mempertahankan prestasi mereka di sekolah.
 
Sembuh Selepas Mengunjungi Baitullah
 

Kerinduan saya pada Baitullah mulai terasa. Ingin sekali saya mencari ketenangan sambil mengunjungi makam Rasulullah di Madinah dan mengunjungi Baitullah di Mekkah. Ketika badan sudah agak kuat berjalan akhirnya saya berangkat menunaikan umrah dengan tiket gratis dari seorang hamba Allah, bersama kawan-kawan pada tahun 2009, suami menjaga anak di Kuala Lumpur, lagipun dia sudah pernah sampai kesana juga.

Suami saya sebentar-sebentar menelepon semenjak saya meninggalkan Kuala Lumpur menuju Doha, Madinah, Mekkah hingga hari terakhir disana. Dia khawatir keadaan kesehatan saya. Allah mengabulkan doa hambanya. Disana saya berada dalam keadaan sehat wal’afiat. Saya sempat membuat umrah 7 kali, (untuk diri sendiri,  ibu, almarhum Bapak, kakak dan abang-abang yang telah tiada). Ada kepuasan dan kegembiraan yang tak pernah saya rasa, yang tidak dapat saya lukiskan dengan kata-kata terutama ketika berada di Raudhah (Masjid Nabawi), menatap Baitullah, mencium Hajarul Aswad, shalat dan berdoa di Multazam, Hijr Ismail, Makam Ibrahim dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya. Ini memberi satu kekuatan dan semangat baru pada jiwa ini.
                     
Selepas kembali dari tanah suci semua orang merasa heran karena dengan izin Allah saya sudah sehat sepenuhnya. Allah maha Besar. Saya mula meneruskan kerja yang telah lama saya tinggalkan. kini  penulisan telah rampung, hanya melalui beberapa prosudur administrasi. Namun ada perkara yang mengganjal dihati, dimana saya harus membayar hutang-hutang kuliah  sudah puluhan  juta banyaknya. Biarlah saya lalui dan saya selesaikan masalah satu persatu. Semoga Allah permudahkan segala urusan.  

Tsunami membawa hikmah yang besar, bukan hanya meruntuhkan dan menghancurkan segalanya tetapi  juga menundukkan keegoan pihak-pihak yang berkonflik dan memaksa mereka untuk duduk semeja menentukan haluan hidup yang harmoni, meredakan dendam nurani yang berkepanjangan. Semoga kedamaian Aceh akan terus berkepanjangan sehingga bekas-bekas luka lama tidak berdarah kembali dan bagi mereka yang masih  memendam kepedihan biarlah waktu yang merawatnya sehingga dapat bangkit semula diatas puing-puing kehancuran.

Marilah sama-sama kita berdoa semoga Allah yang Maha Pengasih mencucuri Rahmat kepada kita semua dan kepada mereka yang telah tiada agar ditempatkan disisiNya sebagai Syuhada dan akan dipertemukan kembali nanti di Yaumil Mahsyar dalam keadaan gembira dan bahagia. Kematian adalah permulaan dari kehidupan yang  hakiki, kekal dan abadi. (Minhaa Khalaqnaakum, Wafiihaa Nu’iidukum, Waminhaa Nukhrijukum Taaratan Ukhra), “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan  dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain”. Al-Quran Surah Taha ayat 55.

 
Hariati Abubakar
Mahasiswa program PHD ISTAC, International Islamic University Malaysia (IIUM), Jalan Duta Kuala Lumpur.
-------------------------

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved