KAI
Keluarga Bahagia Menurut Syariat
Sudah sama kita maklumi, keluarga atau rumah tangga adalah batu-bata bangunan masyarakat
PERTANYAAN:
Bapak Pengasuh yang terhormat
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sudah sama kita maklumi, keluarga atau rumah tangga adalah batu-bata bangunan masyarakat. Hal ini menjadi amat penting, terutama pada saat-saat kita menerapkan syariat Islam secara kaffah, karena sebagian urusan syariat --menurut saya-- tidak harus diurus pemerintah. Misalnya, membaca doa sebelum tidur, atau doa pada waktu bepergian, doa masuk WC tentunya cukup diatur keluarga saja. Dengan syarat keluarga itu harus kuat diikat oleh rahmah dan mawaddah serta dipatri oleh tali ikatan kasih dan sayang.
Saya ingin mengetahui tali dan patri tersebut, untuk dapat saya amalkan dengan baik dan sempurna. Terima kasih atas perhatiannya.
Abd Jalil,
Aceh Utara.
JAWABAN:
Yth Sdr Abd Jalil,
Wa’alaikumus Salam, Wr. Wb.
Alhamdulillah, menurut pengasuh pertanyaan ini amat bagus dan sependapat bahwa rumah tangga adalah komponen terkecil dari bangunan masyarakat. Juga unsur-unsur keluarga yang terdiri, mungkin dari ibu, bapak, dan anak-anak harus diikat dan dipatri dengan ikatan yang tidak pernah putus, antara lain adalah mawaddah dan rahmah (kasih dan sayang) sebagaimana firman Allah swt dalam surat Ar-Rum, ayat 21.
Tegasnya, menurut hemat pengasuh ada lima azas yang harus kita jadikan fondasi dan pengikat kuat, agar keluarga kita kukuh dan mendapatkan hasanah di dunia dan hasanah di akhirat. Kelima hal tersebut adalah:
Pertama, Kasih sayang antara suami dan istri. Islam menggariskan ketetapan bahwa unsur kekeluargaan yang murni sewajarnya bertolak dari pernikahan yang sah (ijab kabul), agar jalinan kasih sayang antara suami dan istri dapat dilakukan dengan bersih dan berakhlaq. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Allah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan sayang” (QS. Ar-Ruum: 21).
Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw bersabda: “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalehah.” Dan hadis lainnya: “Orang mulia antara kamu adalah mereka yang berlaku baik kepada keluarganya, sebab aku sendiri pun berlaku paling baik terhadap keluargaku sendiri.”
Kedua, Kasih sayang antara ibu bapak dengan anak. Dari pernikahan antara suami/istri sudah tentu nantinya akan lahir keturunan, yang mana anak adalah amanah dari Allah yang perlu dididik dengan sempurna seperti yang diterangkan dalam dua hadis. Sabda Nabi Muhammad saw: “Wajib atas kamu memberi nafkah kepada mereka dan pakaian mereka yang munasabah dan berlaku adil kepada mereka” dan “Seseorang itu akan berdosa dengan sebab dia menyia-nyiakan mereka yang menjadi tanggungannya.”
Jika dibanding anak-anak yang lahir di luar nikah yang terbengkalai dan tersisih, anak yang lahir dari hubungan suami istri yang halal akan mempunyai tempat bergantung. Maka kepada kedua ayah dan ibu diletakkan tanggung jawab memberikan pendidikan, asuhan, kasih sayang sempurna. Sabda Nabi Muhammad saw: “Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu bapanya yang bertanggung jawab menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.”
Berkaitan dengan hadis di atas, firman Allah swt: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari azab api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ketiga, Kasih sayang antara anak dengan ibu bapak. Sebagaimana ibu dan bapak memberikan kasih sayangnya kepada anak-anak, demikianlah juga Islam menganjurkan supaya anak-anak ikut memberikan kasih sayang mereka terhadap kedua ibu bapak mereka. Dari apa yang selalu kita dengar, “sesungguhnya syurga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.”
Dengan menyayangi dan mengasihi ibu bapak, di samping mematuhi segala perintah dan nasihat keduanya, berkata-kata dengan mereka pun perlu menggunakan bahasa yang lemah lembut serta beradab, tidak menyinggung perasaan mereka dengan perkataan bernada kebencian, kasar dan menyakitkan.
Allah berfirman: “Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukannya serta kepada kedua ibu bapak hendaklah kamu berbuat baik.” (QS. An-Nisa’: 36). Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw bersabda: “Keridhaan Allah bergantung kepada keridhaan ibu bapak, maka kemurkaan Allah juga bergantung kepada kemurkaan ibu bapak. Barang siapa yang setiap hari berbuat baik terhadap ibu bapak tetapi mengingkari Aku, maka Aku masih ridha kepadanya, namun siapa yang setiap hari meridhai Aku tetapi sebaliknya mendurhakai kedua ibu bapaknya, maka niscaya Aku murka kepadanya.”
Betapa tingginya nilai keberkatan kasih sayang seseorang anak terhadap ibu bapaknya sudah diterangkan oleh Islam melalui sebuah hadis: “Apabila mati seseorang Muslim, maka terputuslah hubungannya kecuali tiga perkara yang bisa menyelamatkannya yaitu amal shaleh, sedekah dan doa anak yang shaleh.”