Bayang-bayang Tragedi
Dia selalu memandang dengan mata menerawang, meskipun sedang berbicara langsung dengan orang lain
Satu saat aku menemani anakku berjalan-jalan sore seperti biasa, kulihat dua anak si mata menerawang itu sedang bermain. Segera anak-anakku bergabung dengan mereka. Aku bertanya pada si sulung yang berusia lima tahun, “Mana mama?” Anak laki-laki kecil itu hanya terdiam dan memandangku dengan ragu. “Mana mamanya? Biasanya sama mama.” Kuulang pertanyaanku dengan hati-hati.
“Mama lagi nangis,” jawab anak itu polos.
“Nangis? Kok nggak dikawanin?”
“Nggak ah, Deni mau main.”
Kemudian anak bernama Deni itu kembali dengan permainannya. Aku kembali ingat cerita tsunami itu. Betapa menyedihkannya. Apakah ia masih sering menangisi kepergian keluarganya?
Tak lama setelah dialog singkat dengan Deni, dari kejauhan kulihat ibunya datang dan sudah memasang senyum di wajahnya. Syukurlah, dia sudah tidak menangis lagi.
“Kirain lagi sibuk di rumah,” ujarku membuka percakapan dengannya.
“Ya…baru selesai nih.”
Lalu, kami ngobrol tentang berbagai topik ibu rumah tangga, seperti anak, peralatan dapur, resep masakan, dan sebagainya. Setelah agak lama mengobrol, aku coba meledeknya. “Kata Deni tadi mamanya lagi nangis di rumah, he..he..he.. Habis dikasih penataran ma suami ya, he..he..he…”
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Aku jadi merasa bersalah. “Yuk, maaf ya, kalau saya menyinggung perasaan Ayuk.”
“Nggak, nggak kok. Saya memang lagi ada masalah.”
“Wah…maaf ya, saya benar-benar nggak bermaksud menyinggung.”
“Ya, nggak pa-pa kok.” Dia terdiam beberapa saat berusaha membendung air matanya sambil menghela nafas dalam. “Saya mau cerita sesuatu, tapi jangan bilang-bilang ya…” Aku langsung menjawab, “Ya, nggak masalah.”
“Kami mau berpisah.”
“Hah? Maksud Ayuk, Ayuk dengan suami?” tanyaku terperanjat.