Bayang-bayang Tragedi
Dia selalu memandang dengan mata menerawang, meskipun sedang berbicara langsung dengan orang lain
“Iya.”
“Tapi, kenapa Yuk?”
“Entahlah. Kami sering bertengkar karena masalah ini. Awalnya kata suami saya, saya terlalu memikirkan masa lalu, sehingga membuat hubungan kami agak hambar. Tapi sekarang saya tahu alasan sebenarnya, dia bertemu cewek lain…”Dua titik air mata menetes dari masing-masing mata indahnya. Beginikah akhirnya? Apa suaminya tak sesabar yang aku bayangkan? Untuk beberapa saat ia terdiam.
“Mungkin memang salah saya, Yuk,” sambungnya.
“Kok salah Ayuk?”
“Iya. Memang saya kadang terlalu memikirkan masa tsunami itu. Saya nggak bisa mengontrolnya. Terlintas saja seolah-olah di depan mata. Saya masih berpikir, seandainya saat itu saya bersama keluarga saya sebelum tsunami, mungkin saya bisa ngobrol dulu, dan melihat mereka untuk terakhir kalinya.”
“Itu kan sudah takdir, Yuk. Jangan terlalu dipikirkan. Meskipun dipikir-pikir terus, itu tidak akan mengubah semuanya. Terus apa Ayuk sudah bulat tekadnya untuk berpisah? Gimana dengan anak-anak?”
“Entahlah, saya pusing. Ya sudahlah, sebaiknya saya pulang dulu. Anak-anak belum takkasih makan.”
Mungkin ia kehilangan selera untuk bicara. Aku maklum. Istri mana yang tahan mendengar suaminya selingkuh, meskipun itu berawal dari kesalahan sang istri? “Iya, Yuk. Semoga masalah Ayuk bisa selesai dengan jalan yang terbaik,” kataku berusaha menghiburnya.. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum kecil dan berlalu dengan anak-anaknya dari hadapanku.
Aku jadi berubah pendapat tentang suaminya. Ternyata suaminya tak sesabar yang aku bayangkan. Tapi, mungkin itulah efek dahsyat dari bencana tsunami. Aku berdoa dalam hati, “Ya Allah, jangan sampai aku mengalami apa yang ia alami. Semoga rumah tangganya masih bisa terselamatkan.”
Ineng Listiana, ibu rumah tangga, tinggal di Lhokseumawe