Menunggu Cut Bang
Aku terbangun dari bunga tidurku ketika mencium harum masakan dari ruang dapur
Desiran angin menusuk pori-pori kulitku. Aku mengusap-usap perutku. Aku mengandung anak pertamaku dengan Cut Bang. Anakku dalam kandungan pasti juga menunggu kepulangan ayahnya.
Langit mulai menghitam siap memuntahkan air hujan. Ubun-ubunku terasa dingin. Bibirku kering terkatup. Akhirnya aku melangkah menuju pantai, menunggu kepulangan Cut Bang. Aku tidak sabar menunggunya di pintu rumah, walaupun Cut Bang pernah berpesan agar aku menunggunya di rumah saja.
Dari jauh aku melihat sebuah perahu merapat ke pantai. Aku bahagia. Itu pasti perahu Cut Bang, pikirku. Perahu itu semakin merapat, tapi ternyata bukanlah perahu Cut Bang. Aku mulai khawatir.
Aku melihat perahu layar kembali dari jauh. Semakin lama merapat ke pantai. Inilah kebahagiaan. Cut Bang pasti pulang. Kekecewaan muncul kembali karena nelayan yang berada di perahu tersebut tidak ada Cut Bang. Aku bertanya satu per satu pada mereka.
“Di mana suamiku?”
“Mereka diam.”
Aku tidak menyerah. Aku bertanya kesana-kemari. Cut Bang pasti pulang, pikirku. Namun tidak seorang pun mengatakan dimana Cut Bang. Aku pasrah. Ketika aku bertanya pada mereka tentang Cut Bang, mulut para nelayan itu terkatup diam.
Pelan-pelan seseorang berwajah kusam menghampiri tubuhku.
“Pulanglah, Cut.”
“Tidak Pang Laot!”
“Pulanglah.”
“Dimana Cut Bang, Pang Laot?” Aku berteriak kuat. Semua diam. Pandangan menuju tubuhku dengan kesedihan.
Pang Laot diam. Aku kesal.
“Di mana suamiku?”
“Maafkan kami, tiba-tiba ada ombak besar menghantam perahu suamimu. Kami tidak sanggup menyelamatkannya.”