Breaking News

Gempa Aceh

50 Penghuni Rutan Sigli Menghilang Pascagempa

Sebanyak 63 dari 220 penghuni Rumah Tahanan Negara (Rutan) Benteng Sigli, Pidie, Rabu (11/4) sekitar pukul 16.00 WIB, kabur melalui pintu

Editor: bakri
zoom-inlihat foto 50 Penghuni Rutan Sigli  Menghilang Pascagempa
Tembok Lapas Kelas II-A Lambaro, Aceh Besar, roboh akibat gempa, Rabu (4/11). SERAMBI/ZAINAL ARIFIN M NUR
SIGLI - Sebanyak 63 dari 220 penghuni Rumah Tahanan Negara (Rutan) Benteng Sigli, Pidie, Rabu (11/4) sekitar pukul 16.00 WIB, kabur melalui pintu depan gerbang rutan tersebut, menyusul terjadinya gempa dan teriakan bahwa air laut naik. Namun, 13 orang di antara 63 orang yang kabur itu kembali sendiri ke rutan, sedangkan 50 lainnya menghilang.

“Demi alasan kemanusiaan, awalnya kami izinkan semua penghuni rutan ke luar sebentar dari rutan. Soalnya, mereka ketakutan saat adanya teriakan air laut naik pasca terjadi gempa,” kata Kepala Rutan Sigli, Djoko Budi Setianto BcIP, kepada wartawan di Rutan Sigli, Rabu (11/4).

Namun, kata Djoko, dari semua penghuni rutan yang dizinkan ke luar itu, awalnya 63 orang tak kembali ke rutan. Akan tetapi, menjelang satu jam kemudian 13 orang lagi pulang secara sukarela ke rutan. Sisanya yang belum kembali itu terus diburu petugas dari Polres Pidie. “Penghuni rutan yang masih kabur itu umumnya titipan polisi dan Kejaksaan Sigli yang terlibat beragam kasus,” katanya.

Kapolres Pidie, AKBP Dumadi SStMk, kepada Serambi, Rabu (11/4) mengatakan, hingga kini polisi masih menguber penghuni rutan yang kabur itu. Pihak kelaurga maupun masyarakat jika menemukan, diimbau untuk membujuk mereka agar kembali ke rutan. Ataupun, kata Dumadi, jika melihatnya segera laporkan kepada polisi terdekat.  

Pagar LP roboh
Dari Banda Aceh dilaporkan, gempa berkekuatan 8,5 skala Richter yang mengguncang Aceh sore kemarin menyebabkan pagar Lembaga Pemasyarakatan (LP) Banda Aceh di kawasan Pagar Air, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, roboh. Namun, 447 tahanan dan napi di LP itu dilaporkan tidak ada yang kabur.  

Informasi yag dihimpun Serambi, pagar beton dengan tinggi sekitar tujuh meter itu roboh sesaat setelah gempa. Sedangkan para napi dan tahanan ketika itu sedang di luar sel, tapi masih tetap dalam pekarangan LP seluas empat hektare itu.     

“Ada yang berusaha ke luar karena ketakutan, mereka takut karena suara runtuhnya beton ini terdengar kuat. Tapi alhamdulillah, kondisinya aman, tak ada yang roboh, kecuali beton pagar. Ya, saat itu memang tahanan dan napi di luar sel semua karena sedang jadwal di luar mulai pukul 15.30-18.00 WIB,” kata seorang petugas, Hamdani

Sesaat setelah robohnya dinding sepanjang 40 meter itu, selain petugas LP, di lokasi yang berbatasan dengan sawah itu juga dikawal polisi. Sedangkan para napi dan tahanan tetap di dalam pekarangan, tapi ada sebagian di dalam sel yang tampak lewat jeruji besi jendela.

“Mereka napi dengan hukuman mencapai 18 tahun. Harus sangat berhati-hati memberi izin mereka di luar penjara dalam kondisi seperti ini,” timpal petugas LP lainnya.

Menurut Hamdani, LP bantuan BRR NAD/Nias pada 2006 lalu itu baru digunakan 27 Maret 2012 lalu. Sedangkan dulu, ketika bangunan itu belum dimanfaatkan juga ada bagian beton dinding lainnya yang roboh akibat gempa, sehingga harus dibangun kembali. (naz/sal)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved