Opini
Unsyiah: Kucing dan Ayam Jago
DUA minggu terakhir ini roda Rektorat Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) berputar cepat, dan hampir tidak bersuara
Nah, bagaimana Unsyiah menciptakan dirinya sebagai mesin produksi kelas menengah yang kuat, yang sesuai dengan kebutuhan Aceh dewasa ini dan ke depan? Lalu, kebijakan demikian diadvokasikan sehingga menjadi kebijakan pemerintah Aceh, dan mendapatkan dukungan secara nasional dan regional.
Menjadi publik figur
Untuk hal yang terakhir itu berkaitan dengan apa yang dikatakan Serambi bahwa diperlukan rezim yang bisa menjadi publik figur. Bukan sekadar akademisi yang berlindung di balik tempurung besi universitas, dengan dalih kebesaran gelar dan kesibukan keilmiahan yang asosial.
Figur itu memiliki kesadaran sejarah tentang kelahiran Unsyiah, dan sekaligus kepekaan sosial terhadap posisi Unsyiah di dalam masyarakat Aceh yang sedang menjalani transisi pascakonflik dan bencana gempatsunami.
Ke dalam, figur itu pun dapat mengorientasikan kaumnya di Unsyiah untuk berelasi secara intensif dengan masyarakat dan alam Aceh, serta berjaringan dengan pusat-pusat produksi keilmuan dan teknologi nasional dan global, sehingga Unsyiah pun menjadi sebuah akademi glokal.
* Otto Syamsuddin Ishak, Sosiolog.