Breaking News:

Opini

Memahami Hikayat Aceh

Dunia kesusastraan Aceh sudah sejak awal dikenal penduduk Aceh beraksara arab jawoe

Dunia kesusastraan Aceh  sudah sejak awal dikenal penduduk Aceh beraksara arab jawoe. Ini  bisa dilihat melalui  berbagai hikayat yang kemudian menjadi warisan tradisi menulis. Perang yang berkepanjangan membuat masyarakat Aceh berubah total dari dunia menulis ke dunia tutur. Jadi, menurut saya, kurang tepat kalau ada yang mengatakan bahwa masyarakat Aceh lebih menyukai tradisi tutur.

Menurut Dr Ismail Hamid, ahli bahasa dan sastra Indonesia berkebangsaan Malaysia, para mubaligh dan dai yang menyebarkan Islam memperkenalkan aksara-aksara Arab. Dari sinilah mulai timbul sastra yang bernuansa Islam yang  secara jamak mengajak orang-orang untuk berbuat amal kebaikan. Pada waktu itu karya sastra jenis prosa dikenal sebagai hikayat. Kata hikayat itu diambil dari bahasa Arab yang bermakna cerita. Sastra ini ditulis dalam bentuk Arab-Melayu berbahasa Melayu Pasai dan Aceh. Juga  menggunakan bahasa Melayu yang jamak dipakai untuk penulisan bidang ilmu pengetahuan, seperti fiqh, tasawuf, dan tauhid

Sastra Aceh dalam hikayat
Pada kurun waktu berikutnya, atas dukungan dan peran serta kerajaan Islam di sejumlah  wilayah  di Aceh-salah satunya kerajaan Samudra Pasai yang merupakan pusat kebudayaan Islam pertama pada masa itu-kesusastraan jenis hikayat ini terus berkembang. Lebih-lebih kerajaan Samudra Pasai merupakan pintu gerbang masuk dan berkembangnya Islam.

Sastra dalam hikayat Aceh pengaruhnya dari saj’-syahi (bahasa Aceh) atau syai. Ini salah satu jenis prosa Arab yang berusaha mendayagunakan potensi morfologis, kombinasi bahasa guna menghasilkan pola-pola rima berirama. Perihal ini tampak pada bentuk lirik dan persamaan bunyinya. Hikayat sangat jauh berbeda dengan riwayat dalam sastra Arab,  yang secara harfiah berarti narasi (bercerita). Istilah narasi sekarang biasa digunakan secara luas oleh kritikus sastra Arab untuk menyebut novel.

Bila membaca sejarah Samudra Pasai dan Aceh di sepanjang abad, kita akan menemukan banyak penulis-penulis Aceh yang lahir pada zamannya. Fenomena ini membuktikan hidupnya senikata di kalangan pengguna bahasa yang bersangkutan, sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah.  Pada masa kerajaan,  kita mengenal Hamzah Fansuri dan Syamsudin Assumatrani lewat karya-karya yang masih tersisa setalah terjadi pembunuhan dan pembakaran karya/naskah mereka di Masjid Raya Baiturrahman atas seizin Iskandar Tsani.

Pengaruh budaya menulis hikayat dalam masyarakat Aceh sejalan dengan perkembangan pengajaran dan pemikiran. Dalam sejarah, terdapat sejumlah cendekiawan yang mengarang atas penugasan sultan terhadap penulisan buku, terutama masalah keagamaan dan juga memberikan kesempatan pada karya kreatif terutama puisi. Alam Aceh memang seluruhnya puisi. Hal itu pernah dikemukakan oleh wartawan Mesir Al-Hilal, karena orang Aceh dalam berbagai peristiwa penting berbicara dalam bahasa puisi berbentuk hikayat, sehingga dapat disebut bahwa sastra Aceh adalah karya sastra ciptaan pengarang atau penyair yang berhubungan langsung dengan situasi dan kondisi masyarakat sehari-hari. Melalui hikayat kita dapat mengetahui aspek-aspek kehidupan manusia, yaitu berbagai permasalahan yang timbul antara manusia dengan penciptanya (vertikal), antara manusia dengan lingkungan dan alam semesta (horizontal).

Hikayat adalah salah satu jenis sastra Melayu Pasai yang sangat terkenal. Bahkan hikayat merupakan puncak dari keindahan dan keagungan sastra. Menurut Dr Hoesein Djajadiningrat, hikayat mempunyai dua makna, yaitu cerita sejarah dan sebuah bentuk dari kesusastraan Melayu Aceh. Hikayat yang merupakan cerita sejarah, berbentuk prosa dan ditulis dalam bahasa Melayu Pasai yang dalam perjalanannya kemudian terkenal dengan bahasa Melayu Riau atau tulesan Jawou (tulisan Jawi). Kebanyakan karya-karya tersebut yang merupakan khazanah perpustakaan Aceh telah musnah dalam masa peperangan selama puluhan tahun antara kerajaan Aceh Darussalam dengan kolonialis Belanda. Banyak pula yang  telah diangkut ke negeri Belanda.

Sastra klasik Samudra Pasai dan Aceh sebelum pemerintahan kolonial Belanda berkuasa di Aceh sampai pada tahun 1924, belum pernah dialih aksara. Misalnya hikayat A Su Niang Bunga yang penulis temui di salah satu gampong di Kecamatan Samudra Aceh Utara, kecuali Hikayat Maleem Diwa atau Dalem Diwa yang kemudian dibawa ke dalam seni tutur oleh Tgk Adnan PMToH.

Hikayat lain yang belum dialih aksara, antara lain Hikayat Raja Jeumpa Jak Siteot Leumpoe. Hikayat ini penulis temui di Kabupaten Bireuen.

Berdasarkan  kandungan isinya, secara garis besar hikayat dapat dibagi kepada hikayat agama, sejarah, safari, peristiwa, jihad, dan cerita fiktif (novel). Adapun yang menjadi ciri khas hikayat-hikayat Aceh, antara lain, dimulai dengan Basmallah, kemudian tokoh-tokoh utama yang bermain dalam hikayat adalah manusia yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, berwatak pahlawan, berhati budiman dan berpendidikan agama yang sempurna. Selain menguasai berbagai kitab agama, mereka juga menguasai ilmu hikmat, ilmu mantera,  dan ilmu politik.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved