Opini

Indonesia Butuh 'Pelayan'

MENYIMAK kondisi Indonesia akhir-akhir ini: Papua bergolak, kekerasan komunal meningkat, korupsi kian merajalela, kita berani bertaruh

Editor: bakri

Sosok demikian tidak lahir saat dekat musim Pemilu saja. Marcus Tullius Cicero seperti digambarkan Robert Harris dalam novel Imperium (2008) butuh beberapa tahun bekerja untuk menjadi Konsul Roma. Sebagai pengacara dan ahli retorika, Dia menghabiskan banyak waktu dengan membela masyarakat kecil, bergaul dan hafal nama-nama rakyat yang akan memilihnya.

Karenanya, seorang pemimpin haruslah beranjak dari bawah. Bukan dari kalangan elite yang “sok” paham persoalan masyarakat. Dia mestilah orang yang selalu ingin dipercayakan oleh rakyat untuk mendengarkan cerita-cerita dan persoalan mereka. Pemimpin yang tak membiarkan rakyat berkutat sendirian dengan kegetiran hidup, melainkan selalu jadi pelindung mereka.

Dia selalu menyempatkan diri mengunjungi desa-desa terpencil, tertinggal, terisolir, terpinggirkan, terbelakang, serta tinggal di sana, mengobrol dengan masyarakat di warung-warung kopi, balai desa, atau pos jaga. Sebab, dia akan tahu masalah utama dialami rakyatnya.

Jika ingin mengubah Indonesia, saatnya kita mencari pelayan (disuruh atau tidak) untuk melayani dan memikirkan rakyat, dari Sabang sampai Merauke. Dan 2014 akan menjadi tahun pertaruhan; Apakah kita bisa memiliki pemimpin sekaligus seorang pelayan rakyat?

* Taufik Al Mubarak, Blogger dan Penulis buku ‘Aceh Pungo’, tinggal di Banda Aceh. Email: tintamirah@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved