Rabu, 13 Mei 2026

Opini

Memaknai Puisi "Seperti Belanda"

Karya sastra merupakan ekspresi perasaan, gagasan, ideologi, dan wawasan pengarang dalam membaca segala hal yang diciptakan dengan

Tayang:
Editor: bakri

Hampir semua bait puisinya penyair mengulang kata-kata seperti Belanda. Dalam bait ini penyair menggunakan kata Sangkur. Saangkur adalah senjata tajam atau pisau yang ditempatkan di ujung senapan. Dalam puisi ini penulis menafsirkan sangkur sebagai pasukan keamanan yang dikirim ke Aceh. Pasukan itu adalah TNI dan Polri.

Mereka datang menggunakan peralatan siap tempur untuk menyerang para pemberontak yang dianggap sebagai separatis oleh pemerintahan pusat. Pemberontak itu adalah pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipimpin oleh almarhum Tgk Hasan Tiro. Dampak dari itu semua dirasakan oleh rakyat Aceh. Mereka menyerang rumah-rumah warga sipil, meunasah,  dan juga masjid dengan  alasan bahwa tempat-tempat itu adalah  persembunyian  pemberontak..

melebihi Belanda    
mereka perkosa istri-istri kami
mereka tebas leher putra putri kami
mereka bunuh harapan dan cita-cita kami

Penjajahan di atas Bumi ini telah dihapuskan, tetapi mereka melebihi  imperialis. Pemerintah pusat merupakan kolonial baru bagi Aceh, sehingga dibait terakhir puisinya penyair mengungkapkan kata “Melebihi Belanda.” Penyair menggambarkan begitu dahsyatnya kebiadaban yang dilakukan pemerintah pusat terhadap Aceh. Mereka jadi terduga pemerkosa perempuan-perempuan yang telah bersuami. Mereka juga menebas leher generasi-generasi muda. Mereka juga membunuh harapan dan cita-cita anak bangsa. Di akhir puisinya penyair menjelaskan bahwa itulah Jakarta.

Sebuah karya sastra sangat besar pengaruh terhadap pembaca, sehingga pembaca juga dapat memberikan tanggapan terhadap karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang. Melalui puisinya,  Fikar W. Eda coba mengkritisi fenomena sosial yang terjadi di Aceh pada masa konflik. Pada dasarnya fenomena tersebut bukan hanya terjadi pada masa konflik semata, setelah perjanjian perdamaian antara GAM dan pemerintah RI sampai saat ini, masih banyak hal-hal yang masih menganjal di Bumi Serambi Mekkah, baik itu konflik yang dipicu atas dasar agama maupun pertarungan politik antar elite. Melalui karya sastralah seorang pengarang mencoba untuk mengkritisi dan melakukan sebuah perubahan sosial dalam masyarakat.

* Penulis adalah alumnus Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry dan sekarang  mahasiswa Ilmu Sastra Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM). Email : fadie_aceh@yahoo.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved