Rabu, 10 Juni 2026

Tuasan Daleem Kaoy

Sekira tujuh karung teratur diletakkan sejajar pada pinggiran pagar rumah sederhana itu. Setengah bulatan ban bekas muncul di permukaan

Tayang:
Editor: bakri

Kaoy tidak menjawab. Dia terus saja memasangkan umpan-umpan pada puluhan mata kail. Manyak bercerita mengenai kapal besar yang telah beberapa hari dalam pekan ini kerap menyusuri pantai. Kapal besar itu tampak jelas dari pantai. Bergerak perlahan mencari-cari minyak dengan benda yang dibenamkan ke laut dari perut kapal. Beberapa nelayan ada yang mencoba merapat ke kapal itu, namun dilarang. Tapi pekerja bertopi kuning di kapal tersebut  sepertinya baik budi pekerti. Mereka sering mengapungkan makanan atau minuman kaleng untuk perahu-perahu nelayan yang berpapasan dengan mereka. “Asalkan kampung kita tidak digusur seperti cerita ayahku semasa beliau kecil,” Sahut Kaoy.

“Mereka ambil minyak di laut. Bukan lagi di darat, Daleem.” ujar Manyak.

Sekira dua puluh menit sudah sampan itu dikayuh. Kiranya telah tiba ke tuasan. Namun keduanya bingung. Tidak ada lagi pelampung sebagai penanda. Apakah salah tempat? Tidaklah mungkin. Kaoy paham benar lokasi ini. Persis di antara lekukan terjal dua bukit yang samar-samar nun di jantung daratan. Posisi bujur sampan tepat pula dengan mulut kuala yang membayang di kejauhan sana.

“Apakah tali pelampung telah di potong orang?” Gumam Kaoy pada diri sendiri.

“Lihat di sana, Daleem” ujar Manyak sembari menunjuk sampah-sampah dedaunan terserak mengapung. Di kejauhan sekira seribu kayuhan dari posisi mereka sekarang,  sampah timbul tenggelam diayun ombak. Manyak bergegas mengayuh sampan ke sana.

“Itu milik kita. Aku menandai bekas potongan itu. Semua pangkal pelepah ku potong meruncing. Itu tuasan kita telah hancur, Daleem!” Manyak berseru gemetar.

Pelepah-pelepah itu telah lepas dari pengikat pada karung-karung batu pemberat. Hanya seutas temali yang masih tersisa. Perlahan-lahan sampah itu  terseret menepi. “Ini pasti tadi malam tuasan kita di rusak” Manyak menceracau panik. Kaoy terperangah. Tidak ada kata terucap. Tidak ada ikan besar yang akan dikail dari tuasan barunya. Tuasan itu sudah tidak ada lagi, telah hancur sebelum sempat mendulang hasil.

“Apakah orang-orang dengki yang merusak tuasan kita?” Gumam Manyak.

“Ataukah… “ Kaoy berucap keras laksana tersentak. “Apa, Daleem?” tanya Manyak

“Ataukah seperti ceritamu, kapal besar pencari minyak itu memporak-porandakan  tuasan kita.” Kaoy mencoba menerka-nerka. Manyak melirik Kaoy. Dia menemukan raut gulana di wajah abang iparnya. Apalagi yang mesti ditunggu, perlahan Manyak pun  memutar haluan. Mengayuh pelan, kembali menuju daratan. Kaoy hanya termenung. Entah pun nanti Nyakmah, istrinya, dapat memahami. Sekira  10 manyam kalung  emas itu telah karam.

* Nazar Djeumpa (Muhammad Nazar),  cerpenis.  Berdomisili di  Kota Juang, Kabupaten Bireuen.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved