Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Mantra Kopi dari Gayo

Teks klasik itu diucapkan sebagai "mantra" oleh para petani kopi tatkala mulai menam kopi. Teks tersebut disampaikan kembali oleh Mustafarun

Tayang:
Editor: bakri

Masyarakat Gayo yang semula berkutat dengan dunia pertanian sawah, nelayan danau, lambat laun beralih ke perkebunan kopi. Tapi usaha perkebunan kopi sempat telantar menyusul masuknya Jepang pada 1942. Usaha perkebunan kopi rakyat di Gayo baru  berkembang setelah zaman kemerdekaan, terutama setelah selesainya konflik G30S PKI dan peristiwa DI/TII tahun 1960-an. Sejak itu, sampai sekarang masyarakat Gayo  mulai mengandalkan kopi sebagai komoditas utama. Lahan perkebunan berkembang signifikan, yang  hingga kini mencapai 80 ribu hektare lebih.

Gairah berkebun kopi kembali  terganggu saat konflik Aceh pada 1997-2005. Gangguan keamanan membuat masyarakat tak berani ke kebun. Diperkirakan lebih dari 20 ribu hektare perkebunan kopi  produktif telantar dan menjadi belukar. “Keadaan baru pulih setelah perdamaian Helsinki,” kata Mirwansyah Aman Gadis, penduduk Reje Guru Bener Meriah.

Masyarakat Gayo yang bermukim di tiga kabupaten, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah telah menjadikan kopi sebagai komoditi utama dan menjadi penghasil utama kopi di Indonesia, terutama jenis arabika. Luas areal kopi di Aceh Tengah 44 ribu hektare, Bener Meriah 39 ribu hektare,  dan sebagian lagi di Gayo Lues 7.800 hektar. Dari luas tersebut, sebanyak 85 persen kopi jenis arabika dan 15 persen robusta.  Terdapat 33 ribu kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari kopi di Aceh Tengah, 29 ribu kepala keluarga di Bener Meriah, dan  3.900 kepala keluarga di Gayo Lues. Selamat menikmati bercangkir-cangkir kopi.

* Penulis adalah wartawan Serambi Indonesia

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved