Opini
Quo Vadis Ujian Nasional?
APABILA kita menilik kembali perjalan panjang Ujian Nasional (UN), yang sering kali mengalami perubahan baik teknis, standar nilai dan namanya
Hal seperti ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakat.
Oleh sebab itu pendidikan harus mampu mengekplorasi potensi yang dimiliki anak, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Bukannya mengeksploitasi, seperti yang selama ini telah terjadi. Dimana nilai UN yang tinggi akan mengangkat prestise pejabat, dari kepala sekolah hingga pejabat yang ada di atasnya. Makanya tidak perlu heran, ketika pengumuman UN yang menyatakan sebuah sekolah lulus 100 persen disambut dengan tepuk tangan yang meriah oleh para pejabat.
Pendidikan harusnya mengikuti etika sesuai dengan cita-cita pendidikan itu sendiri termasuk didalamnya sistem evaluasi melalui UN. UN harus mampu secara arif dan juga memfasilitasi perkembangan anak, karena anak harus dilihat sebagai makhluk hidup yang kreatif, yang harus dibentuk sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya, sehingga apa yang dia dapatkan dari sekolah bisa berguna dalam kehidupan nyata. Bukan angka-angka yang tinggi, namun minim daya pikir dan budi pekerti mulia.
* Arbai, S.Pd, Guru SMPN 1 Kluet Timur, Aceh Selatan. Mahasiswa Penerima Beasiswa S2 Kemendiknas di MM Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Konsentrasi Kepengawasan kependidikan (2011-sekarang). Email: arbai@mail.ugm.ac.id