Selasa, 9 Juni 2026

Opini

Banda Aceh Menjadi Kota Warisan Dunia, Mungkinkah?

DARI beberapa naskah tua dan catatan-catatan sejarah, Kerajaan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha

Tayang:
Editor: bakri

* (Sebuah Refleksi Memperingati 808 Tahun Kota Banda Aceh)
 
Oleh Zulfadli Kawom

DARI beberapa naskah tua dan catatan-catatan sejarah, Kerajaan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra dan Kerajaan Indra Pura. Dari penemuan batu-batu nisan di Kampung Pande salah satu dari batu nisan tersebut terdapat batu nisan Sultan Firman Syah, cucu dari Sultan Johan Syah. Maka terungkaplah keterangan bahwa Banda Aceh adalah Ibukota Kerajaan Aceh Darussalam yang dibangun pada hari Jumat, tanggal 1 Ramadhan 601 H (22 April 1205 M) yang dibangun oleh Sultan Johan Syah setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Hindu/Budha Indra Purba dengan Ibukotanya Bandar Lamuri.

Pada zaman Sultan Alauddin Mansur Syah dalam Darud Dunia di Istana Keumala Cahaya Darul Asyikin, Madinah Sultan Asyisyah Kubra Banda Aceh disebut dengan “Aceh Bandar Darussalam”.

Sebagai Ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh saat  ini telah berusia 808 tahun (tahun 2013 M) merupakan salah satu Kota Islam Tertua di Asia Tenggara. Seiring dengan perkembangan zaman Kerajaan ,sejarahnya telah mengalami zaman gemilang dan pernah pula mengalami masa-masa suram yang menggentirkan.

Kota Banda Aceh juga menghadapi masa-masa yang amat getir dalam sejarahnya pada saat terjadi Perang di Jalan Allah selama 70 tahun yang dilakukan oleh Sultan dan Rakyat Aceh sebagai jawaban atas ultimatum Kerajaan Belanda tanggal 26 Maret 1837. Dan yang lebih memilukan lagi setelah Bandar Aceh Darussalam menjadi puing dan di atas puing Kota Islam yang tertua di Nusantara ini Belanda mendirikan Kutaraja sebagai langkah awal Belanda dari usaha penghapusan dan penghancuran kegemilangan Kerajaaan Aceh Darussalam dan ibukotanya Banda Aceh Darussalam.

Sejak itu ibukota Banda Aceh Darussalam diganti namanya oleh Gubernur Van Swieten ketika penyerangan Agresi II  Belanda pada Kerajaan Aceh Darussalam pada 24 Januari 1874 setelah berhasil menduduki Istana/Keraton yang telah menjadi puing-puing dengan sebuah proklamasi berbunyi :
“Bahwa Kerajaan Belanda dan Banda Aceh dinamainya dengan Kutaraja, yang kemudian disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia dengan beslit yang bertanggal 16 Maret 1874, semenjak saat itu resmilah Banda Aceh Darussalam dikebumikan dan di atas pusaranya ditegaskan Kutaraja sebagai lambang dari Kolonialisme.”

Pergantian nama ini banyak terjadi pertentangan di kalangan para tentara Kolonial Belanda  yang pernah bertugas dan mereka beranggapan bahwa Van Swieten hanya mencari muka pada Kerajaan Belanda karena telah berhasil menaklukkan para pejuang Aceh dan mereka meragukannya.

Setelah 89 tahun nama Bandar Aceh Darussalam telah dikubur dan Kutaraja dihidupkan, maka pada tahun 1963 Banda Aceh dihidupkan kembali. Hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah pada 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43. Dan semenjak tanggal tersebut resmilah Banda Aceh menjadi nama ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam bukan lagi Kutaraja hingga saat ini.

Riwayat luka kota Banda Aceh kembali terjadi saat  terjadinya bencana gempa dan tsunami pada hari Minggu tanggal 26 Desember 2004 pukul 7.58.53 yang menghancurkan sepertiga wilayah Kota Banda Aceh. Ratusan ribu jiwa penduduk menjadi korban bersama dengan harta benda menambah kegetiran warga Kota Banda Aceh. Gempa dengan kekuatan 8,9 SR tercatat sebagai peristiwa terbesar sejarah dunia dalam masa dua abad terakhir ini.

Setelah gempa dan tsunami dan perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia ditanda tangani, Kota Banda Aceh berbenah kembali, dimulai dengan proses rehabilitasi dan rekontruksi oleh Badan Rekontruksi Aceh dan Nias (BRR) serta bantuan dari badan dunia.

Masjid Raya merupakan bangunan bersejarah sekaligus ikon Ibukota Aceh  merupakan saksi bisu sejarah Aceh, terletak di pusat kota Banda Aceh dan merupakan kebanggaan masyarakat Aceh dan simbol religius, keberanian serta nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Sultan  Iskandar Muda (1607-1636), dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di  Nusantara. Pada saat itu banyak pelajar dari Nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India, dan Parsi yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama. Mesjid ini juga merupakan markas pertahanan rakyat Aceh ketika berperang malawan Belanda  (1873-1904).

Pada saat terjadi Perang Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar habis oleh tentara Belanda. Pada saat itu, Mayjen Khohler tewas tertembak di  dahi oleh pasukan Aceh di pekarangan Masjid Raya. Untuk mengenang peristiwa  tersebut, dibangun sebuah monumen kecil di depan sebelah kiri Masjid Raya,  tepatnya di bawah pohon ketapang. Enam tahun kemudian, untuk meredam kemarahan  rakyat Aceh, pihak Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Lansnerge membangun  kembali Masjid Raya ini dengan peletakan batu pertama pada tahun 1879. Hingga  saat ini Masjid Raya telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan (1879-1993).

Selain Masjid Raya Baiturrahman ada juga Masjid Baiturrahim Ulee Lheu. Mesjid ini merupakan satu-satunya bangunan di pinggir Pantai Ulee Lheue yang berdiri kokoh pada saat tsunami menerjang Kota Banda Aceh.

Makam sultan
Sultan Iskandar Muda merupakan tokoh penting dalam sejarah Aceh. Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636. Ia mampu menempatkan kerajaan Islam Aceh di peringkat kelima di antara kerajaan terbesar Islam di dunia pada abad ke 16. Saat itu Banda Aceh yang merupakan pusat Kerajaan Aceh, menjadi kawasan bandar perniagaan yang ramai karena berhubungan dagang dengan dunia internasional, terutama kawasan Nusantara di mana Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas pelayaran kapal-kapal niaga asing untuk mengangkut hasil bumi Asia ke Eropa.

Gunongan
Gunongan terletak di Jalan Teuku Umar berhadapan  dengan lokasi kompleks kuburan serdadu Belanda (Kerkoff). Bangunan ini didirikan pada masa  pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) pada abad ke-17. Bangunan Gunongan tidak terlalu besar, bersegi enam, berbentuk seperti bunga dan  bertingkat tiga dengan tingkat utamanya sebuah mahkota tiang yang berdiri  tegak. Pada dindingnya ada sebuah pintu masuk berukuran rendah yang selalu  dalam keadaan terkunci. Dari lorong pintu itu ada sebuah tangga menuju ke  tingkat tiga Gunongan.

Selain Gunongan ada juga bangunan berserah lainnya seperti Taman Putroe Phang dan Pintoe Khop. Pintoe Khop merupakan salah satu pintu yang menghubungkan istana (Meuligoe) dengan Taman Putroe Phang yang berbentuk kubah. Pintoe Khop ini merupakan tempat peristirahatan Putroe Phang. Pintoe Khop, juga ada Kompleks Kandang di Gampong Pande.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved