Rabu, 10 Juni 2026

Kegigihan Adan

KULIT putih bersihnya berubah memerah. Lambat laun menghitam setelah terus menerus terbakar terik sinar matahari

Tayang:
Editor: bakri

Sudah bisa ditebak begitu panen cabai milik Adan, hasilnya melimpah. Rasa lelah selama empat bulan lebih sirna terganti lembaran uang kertas yang diterima hasil penjualan cabai. Selama masa panen, tetangganyapun tidak perlu lagi beli cabai, selagi masih ada di kebun Adan.  

Begitu ditanya rahasia bertaninya bisa berhasil. Adan, penuh sumaringah segera menceritakannya. Tidak peduli siapapun yang bertanya. Dalam benaknya tidak terlintas akan datang pesaing bila ada orang pintar melebihi dirinya. Sebenarnya kemurahan Adan, berbagi ilmu diakui teman sekantornya. Namun tidak ada yang sanggup menyaingi keberhasilnya.
Memang yang pintar darinyapun jauh lebih banyak. Yang membedakan, Adan, rajin, tidak pemalas. Bagi Adan, orang pintar itu harus banyak. Akan lebih baik lagi bila kepintaran itu, disempurnakan dengan kecerdasan, ulet, rajin dan gigih. Baginya bila makin banyak orang pintar maka, pekerjaanya akan semakin mudah dan cepat tuntas. Bukan sebaliknya, menyingkirkan orang cerdas karena takut tersaingi.

* * *

Kembali lagi ke manajemen menanam cabai ala Adan. Lahir dari keluarga kantoran, keahliannya juga master akuntansi, sudah pasti tidak memiliki pengetahuan bertani. Kelemahan itu, diisi dengan rajin membaca buku dan internet. Satu lagi rahasia keberhasilannya bertani yaitu, menggunakan pola gotong royong.

Secara keuangan Adan, lebih dari mampu bila menaman cabai seluruhnya mengupahkan ke tetangganya yang bekerja serabutan. Tapi tidak demikian. Ia memilih mengajak tiga tetangganya yang tidak memiliki pekerjaan tetap, sama-sama menanam cabai.

Caranya ya itu tadi dengan bergotong royong mengerjakannya. Adan, hanya mengupahkan pekerjaan yang tidak bisa dilakukannya, seperti mencangkul. Tiga tetangganya, mendapat modal membeli bibit dan pupuk dari upah yang diberikan Adan. Sementara pekerjaan ringan dikerjakan berbarengan. Sistem kerja seperti itu, berhasil menekan biaya hingga lima puluh persen. Kerja bareng ternyata, menambah semangat, pada masa istirahat bisa membahas penanganan terhadap tanaman yang terserang penyakit.

Sibuk membanting tulang, Adan jatuh sakit. Kondisi itu, sebetulnya sudah sangat dikhawatirkan istrinya. Istrinya tahu, sang suami bukan laki-laki berotot, fisiknya tidak akan tahan menjadi petani.

Sakit, sebenarnya sudah dirasakan ketika Adan mulai menanam cabai. Telapak kakinya sering pegal, begitupun kepalanya sering sakit akibat terkena hujan dan panas matahari. Namun ia menganggap hal itu, lumrah karena belum terbiasa.

Empat bulan lebih Adan, terbaring di tempat tidur setelah berbagai upaya pengobatan belum jua membuahkan hasil. Istrinya yang telaten merawat nyaris kehilangan harapan sang suami akan kembali sehat seperti sedia kala.

Pada Ahad siang, langit di tempat tinggal Adan, bergelayut mega hitam. Adan, tiba-tiba sanggup bangun dari tempat tidur. Ia mendatangi rumah Herman, dengan bantuan sokongan tongkat. “Saya doakan semoga menjadi haji mabrur,” ucap Adan, kepada tetangganya yang akan berangkat naik haji pekan depan, berkat penghasilanya dari menanam cabai. Sementara Zaka dan Badin, mesti bersabar menunggu kuota haji tahun berikutnya. (*)

* Penulis adalah Jurnalis di Aceh Singkil
email: dr_tukangtulis@yahoo.co.id

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved