Breaking News:

Opini

‘Tazkiyatun Nafs’ Bersama Ramadhan

BILA bulan Rajab membersihkan diri dalam bentuk lahiriah, dan pada bulan Syakban (nisfu Syakban) membersihkan

Oleh Abd. Gani Isa

BILA bulan Rajab membersihkan diri dalam bentuk lahiriah, dan pada bulan Syakban (nisfu Syakban) membersihkan batiniah, maka bulan suci Ramadhan sebagaimana sedang kita laksanakan ini, adalah kesempatan membersihkan keduanya lahiriah dan batiniah atau sering disebut dengan tazkiyatun nafs.

Tazkiyatun nafs terdiri dari dua kata: at-tazkiyah dan an-nafs. At-tazkiyah bermakna at-tath-hiir, yaitu penyucian atau pembersihan. Karena itu kata zakat, satu akar dengan kata at-tazkiyah, disebut zakat karena ia kita tunaikan untuk membersihkan atau menyucikan harta dan jiwa kita. Adapun kata an-nafs (bentuk jamaknya: anfus dan nufus) berarti jiwa atau nafsu. Dengan demikian tazkiyatun nafs berarti penyucian jiwa atau nafsu kita, dari berbagai noda dan kotoran.

Dari tinjauan bahasa di atas, bisa kita simpulkan bahwa tazkiyatun nafs itu pada dasarnya melakukan dua hal: Pertama, menyucikan jiwa kita dari sifat-sifat (akhlak) yang buruk atau tercela (disebut pula takhalliy’), seperti kufur, nifaq, riya’, hasad, ujub, sombong, pemarah, rakus, suka memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya; Kedua, menghiasinya jiwa yang telah kita sucikan tersebut dengan sifat-sifat (akhlak) yang baik atau terpuji (disebut pula tahalliy), seperti ikhlas, jujur, zuhud, tawakkal, cinta dan kasih sayang, syukur, sabar, ridha, dan sebagainya.

 Penyucian jiwa
Membangun dan menyucikan jiwa merupakan sebuah perkara yang diterima dan terpuji dalam pandangan syariat. Akan tetapi harus dikatakan bahwa titik mula pembangunan jiwa dan penyucian jiwa berbeda bagi setiap orang. Untuk nonmuslim tingkatan pertama adalah memeluk Islam. Para ulama Tasawuf dalam mengklasifikasi tingkatan ini, mengatakan bahwa titik-mula adalah Islam, kemudian iman dan pada tingkatan berikutnya adalah hijrah, dan setelah itu berjihad di jalan Allah. 

Akan tetapi, terkait orang-orang yang telah memeluk Islam, beriman dan menjadi obyek ayat-ayat Alquran seperti pada ayat, Al-Nisa :136 bahwa tingkatan-tingkatan perdana penyucian jiwa bagi mereka adalah tanabbuh dan keterjagaan. Ia sepenuhnya sadar bahwa ia harus memulai dan membersihkan dirinya dari segala noda dan kotoran. Setelah tingkatan tanabbuh dan kesadaran ini, maka beranjak pada tingkatan taubat; artinya menebus segala sesuatu yang telah berlalu.

Menebus dan memenuhi hak-hak orang yang telah dilanggar. Serta menebus dan memenuhi hak-hak Tuhan yang belum tertunaikan atau yang ditinggalkan. Akan tetapi tingkatan taubat ini disertai dengan tekad. Bertaubat dari apa yang telah kita lakukan dan bertekad untuk mencapai apa yang ingin kita capai. Atas dasar ini, sebagian ulama menetapkan tingkatan taubat sebagai stasiun kedua dan sebagian lainnya memandang tekad (‘azam) sebagai tingkatan berikutnya setelah tingkatan tanabbuh.

Terkait dengan ‘azam adalah, bertekad untuk menjauhi maksiat dan mengerjakan segala kewajiban serta menebus segala yang telah ditinggalkan (segala yang telah lewat) dan bertekad untuk menjadikan segala yang lahir dan bentuknya sejalan dengan manusia berakal dan seiring dengan syariat Islam.

Tingkatan selanjutnya adalah menjauhi maksiat dan mengerjakan segala kewajiban sepanjang hidup. Karena itu dalam tingkatan ini seluruh kewajiban Ilahi harus ditunaikan berdasarkan ilmu yang kita miliki.

Meninggalkan segala yang haram juga berdasarkan kadar pengetahuan yang kita miliki tentang hal-hal yang haram. Masalah ini akan menjadi penyebab Tuhan menganugerahkan berbagai macam pengetahuan kepada kita. Sehingga dengan perantara jalan ini, kita dapat meraup kemajuan dalam mengayunkan langkah di jalan Ilahi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved