Breaking News:

Opini

‘Tazkiyatun Nafs’ Bersama Ramadhan

BILA bulan Rajab membersihkan diri dalam bentuk lahiriah, dan pada bulan Syakban (nisfu Syakban) membersihkan

Editor: bakri

Di samping itu, harus diketahui bahwa manusia selama hidupnya, selama hayat di kandung badan ia senantiasa bergerak dan tidak pernah diam; apakah ia bergerak menyongsong cahaya (petunjuk) atau ia berjalan menuju kegelapan (kesesatan). Dan yang sentral dalam gerakan ini adalah gerakan menuju cahaya Ilahi.

 Pentingnya tazkiyatun nafs
Setidaknya ada tiga alasan mengapa tazkiyatun nafs itu penting; Pertama, karena tazkiyatun nafs merupakan satu di antara tugas Rasulullah saw diutus kepada umatnya: “Dia-lah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Dari ayat tersebut di atas, kita bisa mengetahui bahwa tugas Rasulullah saw ada tiga: Pertama, tilawatul ayat: membacakan ayat-ayat Allah (Al-Qur’an). Kedua, tazkiyatun nafs: menyucikan jiwa. Dan, ketiga, ta’limul kitab wal hikmah: mengajarkan kitabullah dan hikmah.

Jelaslah bahwa satu di antara tiga tugas Rasulullah saw adalah tazkiyatun nafs (menyucikan jiwa). Tazkiyatun nafs itu sendiri identik dengan penyempurnaan akhlaq, yang dalam hal ini Rasulullah saw bersabda tentang misi beliau diutus: “Innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia).”

Alasan kedua pentingnya tazkiyatun nafs adalah, karena tazkiyatun nafs merupakan sebab keberuntungan (al-falah). Dan ini ditegaskan oleh Allah Swt setelah bersumpah 11 kali secara berturut-turut di satu tempat sebagaimana firmannNya: “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 1-10)

Kemudian alasan ketiga pentingnya tazkiyatun nafs adalah karena perumpamaan tazkiyatun nafs seperti membersihkan dan mengisi gelas. Jika gelas kita kotor, meskipun diisi dengan air yang bening, airnya akan berubah menjadi kotor. Jadi, meskipun diisi dengan minuman yang lezat, tidak akan ada yang mau minum karena kotor. Tetapi, jika gelasnya bersih, diisi dengan air yang bening akan tetap bening dan bahkan bisa diisi dengan minuman apa saja yang baik-baik seperti teh, sirup, jus, dan sebagainya. 

Demikian pula dengan jiwa kita. Jika jiwa kita bersih, siap menampung kebaikan-kebaikan. Tetapi jika jiwa kita kotor, tidak siap menampung kebaikan-kebaikan sebagaimana gelas kotor yang tidak siap disi dengan minuman yang baik dan lezat. Semoga dengan menunaikan semua ibadah di bulan suci Ramadhan ini, akan menambah nikmat hidup kita, di mana seolah-olah keberkahannya terus terasa sekalipun ia sudah berlalu nanti. Amin.

* Dr. H. Abd. Gani Isa, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved