Rabu, 29 April 2026

Opini

Sabar Itu Indah

KEHIDUPAN manusia di dunia ini tidak akan terlepas dari dua hal, yaitu nikmat dan musibah. Begitu banyaknya nikmat

Editor: bakri

Oleh Abd. Gani Isa

“Fasabrun jamilun wallahul musta’an.” (Sabar itu indah, dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya).QS. Yusuf: 18

KEHIDUPAN manusia di dunia ini tidak akan terlepas dari dua hal, yaitu nikmat dan musibah. Begitu banyaknya nikmat yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita, namun terkadang datang musibah berupa kesusahan dan kesedihan. Kedua hal ini (nikmat dan musibah) membutuhkan kesabaran dalam menerima dan menyikapinya. Sabar merupakan satu pilar kebahagiaan bagi seseorang yang akan memberikan ketenangan dan ketentraman di dalam jiwa manusia.

Sabar, setidaknya dalam tiga hal: Pertama, sabar memelihara jiwa pada ketaatan kepada Allah dan selalu menjaganya, dan memeliharanya dengan keikhlasan serta memperbaikinya dengan ilmu; Kedua, sabar  menahan jiwa dari maksiat dan keteguhannya dalam menghadapi syahwat dan perlawanannya terhadap hawa nafsu, dan; Ketiga, sabar  keridhaan kepada qada’ dan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah Swt, tanpa mengeluh di dalam keputusasaan.

 Sabar dalam ketaatan
Jalan menuju Allah adalah jalan yang penuh dengan rintangan. Sedangkan jiwa itu tidak dapat istiqamah di atas perintah Allah dengan mudah. Jadi, barang siapa yang ingin menundukkan dan mengekangnya, maka dia harus bersabar.

Sabar dalam ketaatan kepada Allah meliputi tiga hal, yaitu: Pertama, sabar sebelum melakukan ketaatan tersebut, yaitu dengan niat yang benar, ikhlas dan bersih dari riya’; Kedua, sabar ketika menjalankan ketaatan, yaitu dengan tidak lalai dalam melakukannya dan juga tidak bermalas-malasan, dan; Ketiga, sabar setelah beramal, seseorang tersebut hendaknya tidak menjadi ta’jub dengan dirinya dan menampakkan apa yang ia punya dalam rangka sum’ah dan riya‘. Karena hal tersebut hanya akan menghapus amalan, pahala dan pengaruh-pengaruh yang seharusnya dia dapatkan.

Sabar dalam ketaatan kepada Allah di antaranya adalah sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam mengamalkan dan sabar dalam mendakwahkannya. Tiga hal ini tercakup ke dalam firman Allah Swt: “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-`Asr: 1-3).

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu).” Oleh karena itu barang siapa yang menginginkan surga, maka dia harus bersiap untuk bersabar karena surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disenangi oleh hawa nafsu.

Seseorang terkadang merasa bahwa bersabar dengan menhindar dan menjuhi diri dari maksiat itu lebih berat dari pada bersabar menjalankan ketaatan. Mungkin seseorang bisa bersabar melaksanakan shalat malam semalam suntuk, misalnya, namun dia tidak bisa bersabar jika diminta meninggalkan perkara-perkara yang disenanginya yang tidak diperbolehkan oleh syariat.

Satu ciri (bagian) dari keimanan kepada Allah Swt adalah bersabar tatkala menghadapi takdir dan keputusan Allah. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allahlah yang mentakdirkannya (QS. An-Nisa’: 28), seumpama gempa bumi, tsunami, angin topan, wabah penyakit yang melanda dan sebagainya. Maka bersabar itu adalah, indah, dan sangat dicintai Allah swt.

Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan (sunnah) Allah di alam semesta. Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan.

Hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran. Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syariat (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syariat (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah Swt kepada seorang hamba, supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.

Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syariat serta menjauhi larangan syariat dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah untuk menempa hamba-hambaNya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan bisa juga melalui sarana keputusan takdirNya.

Tak semudah ucapan
Sabar adalah ibarat pedang yang tidak akan tumpul, ibarat tunggangan (kendaraan) yang tidak akan tergelincir, dan ibarat cahaya yang tidak akan pernah padam. Akan tetapi sabar tidaklah semudah yang kita ucapkan. Jika tidak, Allah tidak akan memberikan pahala yang besar untuk orang-orang yang bersabar.

Allah berfirman: “Katakanlah, wahai hamba-hambaKu yang beriman, bertakwalah kepada Rabb-mu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar: 10).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved