Breaking News
Rabu, 10 Juni 2026

Salam

Wukuf di Arafah dan Maknanya bagi Kita

PUNCAK ibadah haji berupa wukuf di Arafah, Arab Saudi, pada 9 Zulhijjah atau bertepatan Senin (14/10) lalu, usai sudah

Tayang:
Editor: bakri

PUNCAK ibadah haji berupa wukuf di Arafah, Arab Saudi, pada 9 Zulhijjah atau bertepatan Senin (14/10) lalu, usai sudah. Namun, itu tidaklah berarti bahwa prosesi ibadah haji tahun ini sudah selesai. Para jamaah masih harus melaksanakan serangkaian ritual lainnya, seperti bermalam di Mina, melempar jumrah, sa’iy, dan thawaf ifadah.

Seperti dilaporkan Harian ini dua hari lalu, sekitar lima juta umat Islam dari berbagai belahan dunia, memadati Padang Arafah pada Senin 9 Zulhijjah 1434 Hijriyah, melaksanakan wukuf. Tak terkecuali jamaah haji Indonesia termasuk dari Aceh, juga telah melakukan ritual serupa dan kini sudah menyandang predikat sebagai haji atau hajjah.

Wukuf yang secara harfiah berarti berhenti atau berdiam diri, adalah satu rukun haji yang wajib dilaksanakan oleh setiap jamaah haji. Jika ada jamaah yang sakit pun pada saat wukuf, maka ia harus disafari-wukufkan. Demikian pula jika ada jamaah yang meninggal dunia, maka ia mesti dibadal-hajikan.

Sebenarnya apa makna simbolik wukuf di Arafah, yang dilaksanakan pada 9 Zulhijjah, yang pada musim haji tahun ini jatuh pada Senin (14 Oktober 2013) sebagaimana telah kita singgung di atas tadi? Lalu, mengapa pula kita yang tidak melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekkah pun, disunnahkan untuk berpuasa yang biasa disebut sebagai puasa Arafah?

Menurut sejumlah referensi, wukuf di Arafah merupakan miniatur Padang Mahsyar, di mana seluruh umat manusia akan dibangkitkan kembali dari kematian di yaumil akhir nanti. Setelah dibangkitkan kembali, manusia dihimpun pada suatu tempat yang disebut Padang Mahsyar, guna mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan semasa hidup di dunia ini.

Wukuf di Arafah yang kemarin dilaksanakan oleh para jamaah haji, seolah mengingatkan kita semua akan hari kebangkitan itu. Sudah selayaknyalah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kebangkitan itu, di mana setiap amal ibadah yang kita kerjakan semasa hidup di dunia akan dihisab (diperhitungkan) secara adil di hadapan Khaliqul ‘Adil, Allah Swt.

Dalam konteks pembangunan di Aceh sekarang ini, Dr M Shabri Abd Majid MEc, Staf Pengajar Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi Unsyiah, dalam tulisannya “Ibadah Haji dan Pembangunan Aceh” yang diturunkan Harian ini Senin (14/10) lalu, mengungkapkan bahwa wuquf di Arafah itu merefleksikan betapa pentingnya manusia dari masa ke semasa berhenti sejenak untuk berpikir, introspeksi dan evaluasi diri.

Menurutnya, makna simbolik wuquf di Arafah itu dalam upaya memakmurkan Aceh, kita harus senantiasa mengevaluasi program yang sedang berjalan; Apakah ia sudah sesuai dengan perencanaan atau justru telah merugikan masyarakat? Introspeksi dan evaluasi agenda dan program pembangunan Aceh secara reguler harus dilakukan, sehingga bila terdapat kesalahan aplikasi, bisa cepat dikoreksi dan diperbaiki.

Mudah-mudahan ibadah haji tahun ini dapat dijadikan inspirasi dan referensi dalam memakmurkan Aceh. Begitu juga para jamaah haji Aceh yang sebentar lagi tiba kembali di tanah air, kiranya menjadi haji mabrur yang akan menjadi bagian penting dari aset pembangunan Aceh ke depan. Semoga!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved