Minggu, 17 Mei 2026

Opini

Tukang Bikin Pilu

KELAKAR ini selalu cocok dimunculkan menjelang pemilu. Budayawan Sujiwo Tejo memelesetkan makna

Tayang:
Editor: bakri

Sebagai contoh mutakhir, sebagian masyarakat Aceh Selatan bersikeras mengelola sendiri kekayaan emas di daerahnya. Perusahaan yang hendak diberi izin pemerintah untuk mengelola tambang dianggap tak akan mampu menyejahterakan masyarakat lokal. Mereka takut bernasib sama seperti masyarakat-masyarakat di daerah lain yang tetap melarat ketika operasi perusahaan berakhir.

Apalagi ditambah pencemaran lingkungan. Perusahaan hanya memikirkan 1P (profit) sembari mengabaikan 2P (people and planet). Masyarakat Aceh Utara yang bermukim di sekitar ExxonMobil jadi salah satu referensi. Pemerintah lantas dihukum. Kalau pemerintah tak mampu memberikan apa-apa, jangan rampas apa-apa yang bisa dimiliki rakyat.

Masalahnya, orang-orang yang selama ini memiliki andil merusak negara masih punya pendukung. Meski sudah berulang kali ditipu politikus “pemberi harapan palsu” (PHP), mereka tetap merasa tak dizalimi. Bahkan ada yang bersedia dijadikan gembala. Termasuk beberapa (organisasi) mahasiswa. Ini, kata Radhar Panca Dahana, adalah pertanda “bahwa di negeri ini belum ada sipil yang berdaya”. Rakyat masih bisa dijadikan “sekumpulan domba yang beriring ke mana tongkat gembala mengarahkannya”.

Ketika memenangkan seorang pemimpin bermental “pengurus” dalam sebuah pemilu, rakyat sebenarnya dalam posisi kalah. Lucunya, kekalahan itu dirayakan. Mereka berpesta merayakan terpilihnya pemimpin dan legislator-legislator jagal. Persis penggemar fanatik Justin Bieber yang justru senang ketika diludahi sang idola dari atas balkon hotel. Yang meludah girang, yang diludahi tak berang.

Kita pun tak perlu bodoh seperti itu. Tak perlu menilai lagi caleg-caleg dan capres-capres yang hanya mengandalkan jargon. Kita hanya perlu langsung memutuskan: tidak memilih mereka. Lantas, jika pemilu hanya akan menghasilkan para tukang bikin pilu atau gerombolan tukang bikin kurus, kenapa pula Apa Nut sampai harus membacok Tarmizi yang beda pandangan dalam menilai seorang “pengurus” rakyat? Sekarang mari kita cerdas menilai. Jangan berikan kesempatan politikus PHP “mengurusi” rakyat.

* Bisma Yadhi Putra, Alumnus Program Studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe; Fasilitator Sekolah Demokrasi Aceh Utara. Email: bisma.ypolitik@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved