Minggu, 17 Mei 2026

Krisis Bioetika dalam Pelayanan Kesehatan

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kasus Ravi mencerminkan apa yang disebut structural violence atau kekerasan struktural

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER, Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh. 

Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER
 
Seseorang datang ke rumah sakit dalam keadaan sadar, mampu berjalan, dan hanya mengalami luka ringan akibat kecelakaan kecil. Namun, enam hari kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan terintubasi, disedasi, diborgol di tempat tidur rumah sakit, dan dikelilingi aparat kepolisian. Kisah itu bukan adegan film distopia, melainkan pengalaman nyata yang ditulis Joshua A. Budhu dalam artikel "My Brother’s Keeper" di The New England Journal of Medicine Juni 2025.

Tulisan tersebut bukan sekadar kisah duka keluarga, melainkan otopsi moral terhadap sistem kesehatan modern. Sebuah refleksi tentang bagaimana seseorang dapat meninggal bukan hanya karena penyakit, tetapi juga karena kombinasi kemiskinan, depresi, adiksi, diskriminasi, birokrasi hukum, dan kegagalan bioetika dalam pelayanan kesehatan.

Pasien Ravi adalah seorang imigran asal Guyana yang tinggal di Amerika Serikat. Ia pernah membangun perusahaan teknologi sendiri, tetapi kemudian bangkrut setelah gelembung industri digital pada awal 2000-an pecah. Kehancuran ekonomi itu menyeretnya ke depresi, penyalahgunaan alkohol dan kokain, serta kehidupan sosial yang semakin rapuh. 

Pada suatu malam, Ravi ditangkap polisi karena mengemudi dalam pengaruh alkohol dan menabrak mobil yang terparkir. Ia dibawa ke rumah sakit umum hanya dengan luka ringan. Namun, Ravi tidak pernah pulang dengan selamat. Dalam perjalanan perawatannya, Ravi mengalami demam, diduga mengalami alcohol withdrawal, lalu mendapat sedasi berlebihan hingga akhirnya harus diintubasi. 

Selama enam hari ia terbaring tidak bergerak, tetap diborgol meski dalam kondisi sedasi dan menggunakan ventilator mekanik. Ia kemudian mengalami deep vein thrombosis dan meninggal akibat massive saddle pulmonary embolism. Pertanyaan penting: apakah Ravi meninggal karena penyakitnya atau karena sistem yang gagal melindunginya?

Di sinilah bioetika menjadi sangat penting.

Selama ini banyak orang memahami bioetika hanya sebatas informed consent, kerahasiaan medis, atau persetujuan tindakan operasi. Padahal bioetika jauh lebih luas. Bioetika adalah refleksi moral tentang bagaimana manusia diperlakukan dalam sistem kesehatan. Dalam kasus Ravi, keempat prinsip utama bioetika tampak mengalami pelanggaran serius: non-maleficence, beneficence, autonomy, dan justice.

Prinsip pertama adalah non-maleficence, yaitu tidak mencederai pasien. Rumah sakit seharusnya menjadi tempat perlindungan, bukan tempat terjadinya cedera baru akibat pelayanan medis. Namun, dalam kasus Ravi, tindakan medis dan sistem pengamanan justru meningkatkan risiko kematian. Oversedasi, imobilisasi berkepanjangan, serta kemungkinan tidak optimalnya pencegahan tromboemboli menunjukkan adanya potensi iatrogenic harm atau cedera akibat pelayanan medis itu sendiri.

Prinsip kedua adalah beneficence, yakni kewajiban untuk memberikan manfaat terbaik bagi pasien. Ravi bukan hanya membutuhkan terapi medis, tetapi juga pendekatan kesehatan jiwa, rehabilitasi adiksi, dukungan sosial, dan perlakuan yang manusiawi. Namun, sistem melihatnya bukan sebagai manusia yang sedang rapuh, melainkan sebagai tahanan bermasalah yang harus diawasi.

Prinsip ketiga adalah autonomy. Dalam pelayanan kesehatan modern, pasien dan keluarga berhak memahami kondisi klinis secara jujur dan manusiawi. Namun, keluarga Ravi justru mengalami hambatan komunikasi. Ketika Ravi masih hidup, dokter sulit ditemui. Namun, setelah Ravi meninggal, barulah ruang konferensi tersedia untuk menjelaskan keadaan. Ini menunjukkan kegagalan komunikasi etik yang sangat mendasar.

Prinsip yang paling terluka adalah justice atau keadilan. Ravi bukan hanya pasien. Ia adalah imigran, miskin, tidak diasuransikan, mengalami gangguan adiksi, dan berada dalam tahanan polisi. Semua identitas sosial itu membentuk bagaimana sistem memperlakukannya. Artikel tersebut secara tajam menunjukkan bahwa determinan sosial kesehatan berperan besar dalam menentukan outcome pasien

Penelitian National Academy of Medicine menyebutkan bahwa sekitar 80 persen outcome kesehatan dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan akses terhadap layanan kesehatan. Artinya, banyak pasien sebenarnya sudah “sakit” jauh sebelum masuk rumah sakit. Mereka sakit karena kemiskinan. Sakit karena pendidikan rendah. Sakit karena lingkungan buruk. Sakit karena tidak memiliki akses ke layanan kesehatan mental. Sakit karena sistem sosial yang tidak adil.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, kasus Ravi mencerminkan apa yang disebut structural violence atau kekerasan struktural. Kekerasan ini tidak selalu berupa pukulan fisik, namun bekerja diam-diam melalui struktur sosial yang membuat kelompok tertentu lebih mudah sakit, lebih sulit mendapat pertolongan, dan lebih cepat meninggal. Borgol pada pasien yang sedang diintubasi sebenarnya merupakan simbol yang sangat kuat. 

Kekerasan struktural menggambarkan bagaimana logika keamanan dapat mengalahkan logika kemanusiaan. Padahal rumah sakit seharusnya menjadi ruang etik yang memulihkan martabat manusia, bukan memperpanjang stigma sosial. Kasus ini juga sangat relevan dengan kondisi global saat ini, ketika program diversity, equity, and inclusion (DEI) di berbagai negara mulai menghadapi tekanan politik. 

Joshua Budhu menulis bahwa pelemahan program equity, layanan kesehatan masyarakat, dan perlindungan sosial akan meningkatkan risiko kematian pada kelompok rentan. Ketika negara mengurangi investasi pada kesehatan jiwa, rehabilitasi adiksi, bantuan sosial, dan akses kesehatan bagi kelompok marjinal, maka sistem sesungguhnya sedang mempersiapkan tragedi berikutnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved